Pengertian lafazh “ Alhā “- اَلْهَا dari segi bahasa adalah “Syaghala” - شَغَلَ yang artinya : “Menyibukkan”. Jadi makna ayat ini adalah : “Menyibukkan pada kalian”. (lihat Tafsīr Al-Qurthubī juz 10, hal. 401).

Sedangkan arti lafazh “Attakatsur” - التَّكَاثُرُ dari segi bahasa ialah “Attafākhur - التَّفَاخُرَ yang artinya : “Berbangga-bangga” (lihat tafsīr Al-Jalālain hal. 508). Pertanyaannya sekarang persaingan atau berbangga-bangga dalam soal apa ?. Sangat jelas jawabannya disini menyangkut berbagai aspek sebagaimana disebutkan oleh para ahli tafsir (para Mufassir), dan terutama sekali dalam soal harta-benda (materi). Al-Imām Al-Qurthubī meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbās, bahwa Nabi saw. pernah membaca ayat ini, lalu Beliau bersabda :
تَكَاثُرُ اْلأَمْوَالِ : جَمْعُهَا مِنْ غَيْرِ حَقِّهَا، وَمَنْعُةَا مِنْ حَقِّهَا، وَشَدُّهَا فِيْ أْلأَوْعِيَةِ
Artinya : “Persaingan dalam --soal-- harta ialah : mengumpulkan (harta) dengan atau tanpa --cara-- yang benar, menghalangi dari haqnya (kewajibannya, maksudnya zakat, shadaqah, infaq dsb), dan mengikatnya dalam kantong-kantong (maksudnya : melindunginya dalam tempat-tempat penyimpanan)”. (lihat Tafsīr Al-Qurthubī juz X, hal. 402).

Ayat ini mengungkapkan secara tegas sebuah fakta dan realita kehidupan; bahwa manusia telah dilalaikan oleh kesibukan mereka dalam persaingan. Dilalaikan dalam soal apa ?.. Yaitu lalai dari ketaatan atau melaksanakan ketaatan pada Allāh, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Ābi Hātim, dari Zaid bin Aslām, dari ayahnya; bahwasanya Nabi saw. bersabda :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ - عَنِ الطَاعَةِ - حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ -حَتَّى يَأْتِيْكُمُ الْمَوْتُ
Artinya : “Persaingan telah menyibukkan atau melalaikan kalian --dari melaksanakan ketaatan (kepada Allāh)-- sehingga kalian berziarah ke kuburan --yaitu-- : sehingga kematian datang menjemput kalian” . (lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz IV, hal. 544).

Berkenaan dengan ayat ini, Al-Imām Ahmad juga telah meriwayatkan sebuah hadits yaitu dari ‘Abdullāh bin Ash-Shakhīr, dari ayahnya ia berkata : Aku pernah mengunjungi Rasūlullāh saw., dan ketika itu Beliau bersabda :
( أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ) يَقُوْلُ ابْنُ أَدَمَ مَالِي مَالِي، وَ هَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّ قْتَ فَأَمْضَيْتَ
Artinya : (Persaingan telah menyibukkan atau melalaikan pada kalian), anak Adam selalu berkata : ”Harta-ku, harta-ku”, padahal tidak ada milik-mu dari harta-mu itu melainkan apa saja --makanan-- yang engkau makan lalu engkau habiskan, dan apa saja --pakaian-- yang engkau kenakan lalu engkau --pakai-- sampai lapuk, dan apa saja --harta-- yang ia shadaqahkan, lalu ia laksanakan --shadaqah itu-- dengan rutin. (lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz IV, hal. 544).

Al-Imām Muslim juga meriwayatkan hadits yang seperti ini, dari Abū Hurairah r.a., ia berkata : Rasūlullāh saw. bersabda :
يَقُوْلُ الْعَبْدُ مَالِىْ مَالِى، وَإِنَّمَالَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ : مَاأَكَلَ فَأَفْنَ أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ تَصَدَّقَ فَأَمْضَ، وَمَاسِوَى ذَ لِكَ فَذَاهَبَ أَوْ تَارَكَهُ لِلنَّاسِ
Artinya : “Selalu berkata seorang hamba : “Harta-ku, harta-ku”. Padahal sesungguhnya yang ia miliki dari hartanya hanyalah 3 (tiga) saja; yaitu apa saja --makanan-- yang ia makan hingga ia habiskan, dan apa saja --pakaian-- yang ia kenakan lalu ia --pakai-- sampai lapuk, dan apa saja --harta-- yang ia shadaqahkan, lalu ia laksanakan --shadaqah itu-- dengan rutin. Sedangkan hartanya selain dari --tiga macam-- itu maka akan lenyap, atau ia tinggalkan (wariskan) untuk orang lain”. (lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz IV, hal. 544).

Kedua hadits diatas menegaskan bahwa yang dimiliki oleh manusia dari seluruh hartanya hanya terbatas pada 3 (tiga) hal; yaitu : makanan yang ia makan sampai habis, pakaian yang ia kenakan sampai lapuk dan harta yang ia shadaqahkan. Sedangkan hartanya selain dari itu, akan lenyap atau ia wariskan kepada orang lain. Al-Imām Al-Bukhārī juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Mālik r.a. yang memperkuat keterangan ini; bahwa Rasūlullāh saw. bersabda :
يَبَّتِعُ الْمَيْتِ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ الثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ : يَتَّبِعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلَهُ وَمَالَهُ وَ يَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya : “Setiap mayat akan diikuti (diantar) oleh 3 (tiga) perkara, yang 2 (dua) akan kembali (pulang), dan yang 1 (satu) akan tetap bersamanya. Tiga perkara yang mengikuti adalah : (1) Keluarganya, (2) hartanya dan (3) ‘Amalnya. Adapun keluarga dan hartanya akan kembali (pulang), dan ‘amalnya akan tetap bersamanya”. (lihat Tafsīr Ibnu Katsīr, juz IV, hal. 544).

Dalam diri manusia, terdapat 2 (dua) sifat atau karakter yang menjadi faktor pendorong terjadinya persaingan atau berbangga-banggaan; yaitu (1) Ambisi dan (2) Angan-angan; sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imām Ahmad dari Anas r.a., sesungguhnya Nabi saw. bersabda :
يَهْرُمُ ابْنُ آدَمَ وَ يَبْقَى مَعَهُ الثْنَانِ : الْحِرْصُ وَاْلآَمَلُ
Artinya : “Anak keturunan Adam (manusia) akan --mengalami proses-- menua (menjadi tua), namun ada dua perkara yang akan tetap --muda-- bersamanya; yaitu (1) Ambisi dan (2) Angan-angan.” (lihat Tafsīr Ibnu Katsīr, juz IV, hal. 544). Kedua shifat tersebut pada dasarnya mengandung potensi besar yang dapat mendatangkan kebaikan atau hal-hal yang positif bagi manusia. Ambisi misalnya, Rasūlullāh saw. bersabda mengenai hal ini :
إِحْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَلاَ تَعْجِزَنَّ ....
Artinya : “Berambisilah untuk memperoleh apa saja yang bermanfaat bagi-mu, dan janganlah sekali-kali engkau bersikap lemah ...”. (H.R. Muslim)

Melalui hadits tersebut dapat dipahami, bahwa Ambisi bisa mendatangkan kebaikan jika digunakan untuk mencapai segala sesuatu yang bermanfaat. Dan yang dimaksud “Manfaat” dalam hadits ini --menurut para ‘ulama-- ialah manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Demikian pula dengan Angan-angan, ia akan menjadi hal yang positif bila diubah menjadi cita-cita, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw. :
أَعْظَمُ النَّاسِ هَمَّاالْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يُهِمُّ بِأَمْرِ دُ نْيَاهُ وَأَمْرِ أَخِرَتِهِ
Artinya : “Manusia yang paling mulia cita-citanya ialah seorang mu’min, yang bercita-cita terhadap urusan dunianya dan akhiratnya”. (H.R. Ibnu Mājah).

Allāh SWT. pun telah memerintahkan manusia, khususnya orang-orang mu’min untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 148 :
وَلِكُلِّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوْا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَاتَكُوْنُوْا يَأتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِ يْرٌ
Artinya : “Dan bagi tiap-tiap ummat ada qiblatnya (sendiri) yang --mereka-- menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kalian dalam (melakukan) kebajikan. Di mana saja kalian berada, pasti Allāh akan mengumpulkan kalian semua (pada hari Qiyamat). Sesungguhnya Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Al-Qāsimī berkata : “Ayat ini (Q.S. Al-Baqarah - 148), mengisyaratkan bahwa manusia menganut madzhab dan agama yang bermacam-macam, dan wajib bagi setiap orang yang berakal untuk berlomba-lomba mewujudkan kebaikan dan keluhuran --sesuai dengan ajarannya masing-masing-- “. (lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I, hal 430).

Dan berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan tidak mungkin dilakukan tanpa adanya “ambisi” yaitu kemauan yang kuat dan cita-cita yang luhur.

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8