إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan"

Penjelasan :

Makna ayat ini menurut Az-Zamakhsyarī ialah :
نَخُصُّكَ بِالْعِبَادَةِ ، وَ نَخُصُّكَ بِطَلَبِ الْمَعُوْنَةِ
Artinya : "Kami mengkhususkan 'ibādah -- hanya -- kepada-Mu, dan kami mengkhususkan minta pertolongan -- hanya --kepada-Mu". (Lihat Tafsīr Al-Kasysyāf juz I hal. 56)

Ibādah kepada Allāh merupakan tujuan dari penciptaan jin dan manusia, sebagaimana firman Allāh SWT. :
وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya : "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka ber'ibādah kepada-Ku". (Surah Adz-Dzāriyāt : 56)

 Makna ‘Ibādah (اْلعِبَادَة) :

Arti 'ibādah dari segi bahasa ialah :
الطَّاعَةُ وَ التَّذَلُّلُ
Artinya : "Ta'at (patuh) dan merendahkan diri". (Lihat Tafsīr Al-Qurthubī jilid I hal. 146)

Sedangkan ta'rīf (definisi)nya menurut syara' ialah :
إِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَ يَرْضَاهُ مِنْ اْلأَقْوَالِ وَ اْلأَفْعَالِ وَ الظَّاهِرِ وَ الْبَاطِنِ
Artinya : "Nama (isim) yang mencakup semua yang dicintai Allāh dan diridhai-Nya; dari ucapan, perbuatan, yang lahir maupun yang batin".

Ber'ibādah kepada Allāh harus dengan cara yang diajarkan oleh para rasūl, karena mereka diutus untuk menyeru dan memberi contoh tata-cara ber'ibādah yang benar kepada Allāh, sebagaimana firman Allāh SWT. :
وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْا اللهَ وَ اجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتِ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasūl dalam tiap-tiap umat -- yang menyeru --: "Hendaklah kalian ber'ibadah kepada Allāh dan jauhilah Thāghūt". (Surah An-Nahl (16) : 36)

Arti Thāghūt (الطَّاغُوْتِ)

Kata "Thāghūt" dari segi bahasa berasal dari kata "Thaghā (طَغَى)"; "Yathghā (يَطْغَى)"; yang artinya : جَاوَزَ الْحَدَّ yaitu : "melampaui batas". Adapun yang dimaksud "melampaui batas" di sini ialah : "Melampaui batas dalam kekufuran dan perbuatan yang buruk". Jadi, ta'rif dari kata "Thāghūt" ialah :
كُلُّ مُجَاوِزٍ حَدَّهُ فِي الْعِصْيَانِ
Artinya : "Setiap orang yang melampaui batas dalam kemaksiatan".

Menurut Al-Imām Ibnul-Qayyim (rahimahullāh), tokoh utama "Thāghūt" itu ada lima :

1.- Iblīs (la'natullāh 'alaih).

2.- Orang yang disembah, dan ia merasa senang (مَنْ عُبِدَ وَ هُوَ رَاضٌ) Yang dimaksud di sini adalah para pendeta Yahūdi dan Nasrani yang membuat-buat peraturan (syari'at) agama yang bertentangan dengan hukum-hukum Allāh; seperti mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allāh dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allāh, sebagaimana disebutkan dalam surah At-Taubah (9) ayat 31:
 إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ
Artinya : "Mereka (Yahūdi dan Nasrani) menjadikan orang-orang 'alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagi tuhan-tuhan selain Allāh".

Apakah yang dimaksud menjadikan orang-orang 'alim dan rahid-rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allāh ? Apakah mereka sujud, menyembah kepada orang-orang 'alim dan rahib-rahib itu seperti orang-orang musyrik menyembah berhala? Al-Imām Ibnu Katsīr telah menjelaskan masalah ini dengan sebuah hadits dari jalur Al-Imām Ahmad, At-Tirmidzī dan Ibnu Jarīr; yaitu hadits yang mengisahkan kedatangan 'Adī bin Hātim ke Madīnah dalam rangka kunjungannya yang pertama kepada Rasūlullāh saw.-- ketika itu 'Adī masih beragama Nasrani -- dan memakai kalung salib dari perak. Maka Rasūlullāh saw. pun membacakan ayat ini (Surah At-Taubah (9) : 31) di hadapan 'Adī bin Hātim :
 إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ
Artinya : "Mereka (Yahūdi dan Nasrani) menjadikan orang-orang 'alim dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allāh".

'Adī bin Hātim segera menyanggah dengan mengatakan :
 إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوْهُمْ
Artinya : "Sesungguhnya mereka tidak pernah ber'ibādah (menyembah) kepada orang-orang 'alim dan para pendeta".

Maka Rasūlullāh saw. pun segera menjawab :
بَلَى إِنَّهُمْ حَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ الْحَلاَلَ وَ أَحَلُّوْا لَهُمُ الْحَرَامَ فَاتَّبَعُوْهُمْ فَذَلِكَ عِبَاتُهُمْ إِيَّاهُم
Artinya : "Oh pasti; sesungguhnya orang-orang 'alim dan para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal terhadap mereka dan menghalalkan sesuatu yang haram, maka mereka pun menta'atinya. Demikian itulah -- bentuk -- penyembahan mereka kepada orang-orang 'alim dan para pendeta itu". (Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz II hal.348)

Mereka memang tidak melakukan sujud kepada para pendeta atau orang-orang 'alim mereka, akan tetapi mereka menta'ati para pendeta dan orang-orang 'alim itu sedemikian rupa hingga hukum halal-haram bagi mereka adalah menurut aturan pendeta dan orang 'alim, bukan menurut Allāh. Inilah pengertian atau makna 'ibādah yang sesungguhnya; yaitu : "Ta'at (patuh) dan merendahkan diri", sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dan para orang 'alim dan pendeta itu pun merasa senang dengan kondisi umat mereka seperti ini, sehingga tepatlah kalau mereka disebut "Thāghūt".

3.- Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya  (مَنْ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ نَفْسِهِ)

Yang dimaksud di sini adalah para pemimpin sekte, pemimpin spiritual dan para syaikh thariqat yang gemar menipu pengikutnya dengan mengaku-ngaku sebagai wali dsb. Dan pada umumnya, "Thāghūt" dari jenis ini terdiri dari orang-orang yang tolol dan bodoh, tidak mengerti ilmu dan syari'at agama.

4.- Orang yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib  (مَنِ ادَّعَى شَيْئًا مِنْ عِلْمِ الْغَيْبِ)

Yang dimaksud di sini adalah para kahin (para normal), tukang ramal, ahli nujum, tukang sihir, santet, teluh dsb.

5.- Orang yang memutuskan hukum dengan selain hukum Allāh (Al-Qur-’ān)  (مَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ)

Yang dimaksud di sini adalah para pemimpin negara, hakim, jaksa dan seluruh aparat penegak hukum, yang dalam memberikan keputusan hukum tidak berlandaskan "Kitābullāh". Kesemuanya ini harus dijauhi oleh orang yang benar-benar ber'ibādah kepada Allāh sebagaimana perintah Allāh di atas :
 وَ اجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتِ
Artinya : "Dan jauhilah Thāghūt". (Surah An-Nahl (16) : 36)

Bahkan "Thāghūt" itu harus ditentang dan diingkari, sebagaimana firman Allāh :
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَ يُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا
Artinya : "Maka, barang-siapa yang ingkar (menentang) terhadap Thāghūt dan berimān kepada Allāh, maka sesungguhnyha ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus....". (Surah Al-Baqarah (2) : 256)

Berdasarkan ayat ini Syaikhul-Islām Muhammad bin 'Abdul-Wahhāb menyatakan :
 الْمَسْأَلَةُ الْكَبِيْرَةُ أَنَّ عِبَادَةَ اللهِ لاَ تَحْصُلُ إِلاَّ بِالْكُفْرِ بِالطَّاغُوْتِ
Artinya : "Sebuah masalah besar; yaitu bahwa 'ibādah kepada Allāh tidak akan berhasil kecuali dengan -- sikap -- menentang terhadap "Thāghūt". (Lihat Fathul-Majīd hal. 34)

 Makna Minta Pertolongan (الإستعانة)

Al-Imām Ibnul-Qayyim menjelaskan bahwa "Al-Isti'ānah" itu menggabungkan dua buah sikap yang mendasar sekali, yaitu :
الثِّقَةُ بِاللهِ وَ اْلإِعْتِمَادُ عَلَيْهِ
Artinya : "Percaya sepenuhnya kepada Allāh dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya". (Lihat Madārijus-Sālikīn juz I hal. 77)

Minta pertolongan kepada Allāh di dalam ayat ini mencakup dua aspek; pertama aspek 'ibādah (keta'atan), yaitu keberhasilan melaksanakan 'ibadah atau keta'atan kepada Allāh, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imām Ibnul-Qayyim :
وَ اْلإِسْتِعَانَةُ طَلَبُ الْعَوْنِ عَلَى الْعِبَادَةِ
Artinya : Adapun, Al-Isti'ānah atau minta pertolongan -- di sini -- ialah minta pertolongan untuk melaksanakan keta'atan -- kepada Allāh --". (Lihat Madārijus-Sālikīn juz I hal. 79)

Dan kedua, aspek keduniaan, yaitu memperoleh keberhasilan atau sukses duniawi sebagaimana sabda Rasūlullāh saw. dalam sebuah hadits:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَ اسْتَعِنْ بِاللهِ ، وَ لاَ تَعْجِزَنَّ (الْحَدِيْث)
Artinya : "Kuatkanlah tekad-mu untuk -- memperoleh -- apa saja yang bermanfaat bagi-mu, dan minta tolonglah kepada Allāh; jangan sekali-kali engkau bersikap lemah.....(hadits diringkas)". (H.R. Muslim. Lihat Fathul-Majīd hal. 474)

Ada 3 (tiga) hal yang diperintahkan Rasūlullāh saw. dalam hadits ini : 1. Menguatkan tekad, yaitu bekerja keras untuk meraih keuntungan dunia dan akhirat. 2. Minta tolong kepada Allāh (Al-Isti'ānah). Jadi, minta tolong di sini dilakukan setelah melakukan sebuah upaya yang keras, yaitu dimana ikhtiyar dan usaha sudah dilakukan secara maksimal. Bukan pasif, yaitu minta tolong tanpa usaha atau kerja keras. 3. Tidak bersikap lemah dalam berusaha. Karena sikap lemah merupakan hal yang tercela, baik dari sudut syari'at (agama) maupun 'aqal.

Syaikh 'Abdur-Rahmān bin Hasan memberikan penjelasan yang baik sekali terhadap hadits ini, beliau berkata bahwa yang dimaksud "Kuatkanlah tekad-mu (احْرِصْ)" ialah : "Anda -- diharuskan -- untuk melakukan usaha keras yang dapat menjadi sebab datangnya manfaat (keuntungan) atau kesuksesan bagi kehidupan dunia dan juga akhirat anda, karena hal itu telah disyari'atkan oleh Allāh SWT., yaitu melakukan faktor-faktor (asbāb) yang bersifat wajib, sunah atau mubah. Dan dalam melakukan upaya-upaya tersebut, hendaklah ia minta tolong kepada Allāh Yang Maha Esa, tidak kepada seorang pun selain Allāh, karena hanya Allāh-lah yang mampu menyempurnakan sebab-musabab dan manfaat baginya. Dan hendaklah ia bersandar sepenuhnya kepada Allāh SWT. dalam melakukan usaha-usahanya tersebut, karena -- pada hakikatnya -- Allāh SWT. jualah yang menciptakan sebab-musabab, dan tidaklah bermanfaat suatu upaya melainkan dengan idzin Allāh. Oleh karena itu sudah sewajarnyalah jika ia bersandar sepenuhnya kepada Allāh SWT. dalam melakukan kerja keras. Dan melakukan usaha yang keras -- untuk meraih sukses -- merupakan ketentuan Allāh yang kemudian dilanjutkan dengan sikap tawakal kepada-Nya. Maka, jika ia berhasil menggabungkan dua perkara ini -- yaitu; kerja keras dan tawakal -- akan terwujudlah keinginannya dengan idzin Allāh". (Lihat Fathul-Majīd hal. 474)

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan, bahwa ayat "Iyyāka nasta'īn" (hanya kepada-Mu kami minta pertolongan); mendidik seorang muslim untuk percaya diri dan terus meningkatkan kinerjanya, karena ia -- sebagai muslim -- diharuskan untuk melakukan kerja keras, namun ia lebih percaya lagi terhadap kekuatan Allāh yang akan menolongnya, yaitu pada saat ia telah mencapai batas maksimal dalam upayanya.

Penutup

Sebagai penutup pembahasan ini, kami sampaikan ucapan A-Imām Al-'Allāmah Muhammad Jamālud-Dīn Al-Qāsimī tentang ayat ini, beliau berkata :
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ : الْفَاتِحَةُ سِرُّ الْقُرْآنِ ، وَ سِرُّهَا هَذِهِ الْكَلِمَةُ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ)
Artinya : Sebagian 'ulamā' Salaf berkata : "Al-Fātihah -- mengandung -- rahasia Al-Qur-’ān, dan rahasia Al-Fātihah terdapat pada ayat: (Artinya) : "Hanya kepada-Mu kami ber'ibādah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan".

Lalu beliau berkata lagi :
فَاْلأَوَّلُ تَبَرَّؤُ مِنَ الشِّرْكِ ، وَ الثَّانِي تَبَرَّؤُ مِنَ الْحَوْلِ وَ الْقُوَّةِ ، وَ تَفْوِيْضُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
Artinya : Kalimat yang pertama -- yaitu : "Hanya kepada-Mu kami ber'ibādah" --- merupakan pembebasan -- diri -- dari syirik; dan kalimat yang kedua -- yaitu : "dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan" -- merupakan pembebasan -- diri -- dari seluruh daya dan kekuatan -- makhluq --, dan menyerahkan -- semua daya dan kekuatan tersebut -- hanya kepada Allāh 'Azza wa Jalla. (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 230)

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8