ASIISC
Permulaan Iman Adalah Ucapan Lā Ilāha Illallāh

Mukhtashar Shahih Muslim
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ يَدَيْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ تَسْأَلُهُ عَنْ نَبِيذِ الْجَرِّ فَقَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ الْوَفْدُ أَوْ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا رَبِيعَةُ قَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا النَّدَامَى قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْتِيكَ مِنْ شُقَّةٍ بَعِيدَةٍ وَإِنَّ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيَّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ وَإِنَّا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيَكَ إِلَّا فِي شَهْرِ الْحَرَامِ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ نُخْبِرْ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا نَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ قَالَ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ قَالَ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسًا مِنْ الْمَغْنَمِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ (قَالَ شُعْبَةُ وَرُبَّمَا قَالَ النَّقِير)ِ قَالَ شُعْبَةُ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ وَقَالَ احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوا بِهِ مِنْ وَرَائِكُمْ . وَزَادَ ابْنُ مُعَاذٍ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَشَجِّ أَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ.

Dari Abu Jamrah, dia berkata, "Saya pernah menjadi penerjemah Abdullāh bin Abbas di antara orang banyak, tiba-tiba ia didatangi oleh seorang wanita seraya bertanya tentang Nabiidzi Al Jarri (minuman keras). Ibnu Abbas menjawab, "Bahwasanya para utusan Abdul Qais mendatangi Rasūlullāh SAW, kemudian beliau bertanya, "Siapa para utusan ini? atau dari suku apa? " Mereka menjawab, "Kami dari suku Rabi'ah," beliau berkata, "Selamat datang para utusan, jangan merasa hina atau menyesal." Mereka berkata, "Wahai Rasūlullāh bahwasanya kami datang dari daerah yang sangat jauh, dan antara tempat kami dan tempat engkau terdapat perkampungan kafir dari suku Mudhar. Kami tidak bisa mendatangi engkau kecuali pada bulan Haram, oleh karena itu tunjukilah kepada kami suatu perkara jelas yang akan kami sampaikan pada kaum yang berada di tempat kami, serta dengannya kami masuk surga." Ibnu Abbas berkata, "Lalu Beliau memerintahkan mereka 4 (empat) perkara dan melarang mereka dari 4 (empat) perkara, beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allāh SWT semata. Beliau bertanya, "Tahukah kalian, apa hakikat iman kepada Allāh SWT?" Mereka menjawab, "Allāh dan Rasul-Nya Iebih mengetahui?" Beliau menjawab, "(Yaitu) Persaksian bahwasanya Tiada Tuhan Selain Allāh SWT, dan (persaksian pula) bahwasanya Muhammad adalah Utusan Allāh SWT, serta mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, Puasa di bulan Ramadhan dan engkau menyerahkan 1/5 (seperlima) dari harta rampasan perang. Beliau melarang mereka dari membuat Duba' (membuat minuman keras di dalam labu) dalam guci, dan dalam bejana yang dicat." Syu'bah berkata, "Kadangkala Beliau mengatakan, 'Di dalam wadah yang diukir.' Kemudian beliau bersabda, 'Jagalah perkara ini dan sampaikan kepada orang yang ada di tempat kalian.'" Ibnu Mu'adz menambahkan dalam haditsnya dari bapaknya, dia berkata, "Rasūlullāh SAW berkata kepada Asyaj (Asyaj Abdul Qais), 'Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua perkara yang disukai Allāh SWT, Lemah lembut dan sabar"' {Muslim 1/35-36} .

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ قَالَ ثُمَّ أَدْبَرَ الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُدُّوا عَلَيَّ الرَّجُلَ فَأَخَذُوا لِيَرُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُمْ

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Pada hari Rasūlullāh SAW berada di tengah-tengah para 'sahabat-Nya, tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya bertanya, 'Wahai Rasūlullāh apakah Iman itu?' Beliau menjawab,'(Yaitu) engkau beriman kepada Allāh SWT, para Malaikat-Nya, Kitab-Nya, hari pertemuan dengan-Nya, para Rasul-Nya dan beriman kepada kebangkitan terakhir.' Laki-laki tersebut bertanya kembali, 'Wahai Rasūlullāh! Apakah Islam itu?' Beliau menjawab, 'Islam yaitu engkau beribadah kepada Allāh SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, melaksanakan Shalat yang diwajibkan-Nya, menunaikan Zakat yang diwajibkan dan berpuasa di bulan Ramadhan.' Lalu laki-laki itu kembali bertanya, 'Wahai Rasūlullāh apakah Ihsan Itu?' Beliau menjawab, ' (Yaitu) engkau menyembah Allāh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak dapat melihat-Nya sesungguh-Nya Dia melihatmu.' Lalu ia bertanya kembali, 'Wahai Rasūlullāh kapankah Hari Kiamat tiba?' Beliau menjawab, 'Orang yang ditanya tentang itu tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya, akan tetapi akan aku jelaskan kepadamu tanda-tandanya (kedatangannya), yaitu jika budak perempuan melahirkan tuannya (itulah di antara tanda-tanda kiamat, dan apabila orang-orang telanjang dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin manusia itulah di antara tanda-tanda kiamat, dan jika pengembala (Ri'aa al Buhmi)' hidup dalam gedung yang megah, itulah di antara tanda-tanda kiamat. Juga terdapat 5 (lima) tanda-tanda yang tidak diketahui kecuali Allāh SWT.' Kemudian Beliau membaca ayat (Sesungguhnya Allāh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat) sampai firman-Nya (Sesungguhnya Allāh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal). Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan beliau. Lalu Rasūlullāh SAW bersabda, 'Datangkanlah laki-laki itu padaku' maka para sahabat berusaha mencari untuk membawanya kembali pada Rasūlullāh, akan tetapi mereka tidak melihat apapun. Kemudian Beliau bersabda, 'Dia adalah Jibril telah datang untuk mengajarkan agama kepada manusia. " {Muslim 1/30}

عن سَعِيد بْن الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ).

Dari Sa'id bin Al Musayyab, dari bapaknya, ia berkata, "Tatkala menjelang kematian Abu Thalib, Rasūlullāh SAW mendatanginya dan mendapati Abu Jahal dan Abdullāh bin Abi Umayyah bin Al Mughirah berada di sisinya. Lalu Beliau berkata, ' Wahai Paman ucapkanlah Laa Ilaaha Illa Allāhu, kalimat yang akan aku persaksikan untukmu di hadapan Allāh SWT.' Abu Jahal dan Abdullāh bin Abi Umayyah berkata, 'Wahai Abu Thalib apakah kamu membenci agama Abdul Muthallib?' Tak henti-hentinya Beliau SAW berusaha membimbingnya sambil mengulang-ulangi kalimat tersebut, sehingga Abu Thalib berkata untuk terakhir kalinya kepada mereka, bahwa dia menganut agama Abdul Muthallib dan menolak untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illahu. Lalu Rasūlullāh SAW berkata, "Demi Allāh aku akan memohon ampun untukmu selama aku tidak dilarang. " Kemudian Allāh SWT menurunkan ayat, "Tiada sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allāh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam." (Qs. At-Taubah(9): 113), juga Allāh Ta'ala menurunkan ayat yang berkaitan dengan sikap Abu Thalib, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang yang kamu kasihi, tetapi Allāh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allāh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. " (Qs. Al Qashash(28): 56). {Muslim 1/40}
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8