« Ushűl-Îmân »
IMAN KEPADA ALLÂH

2. Beriman kepada Rububiyah Allâh 
Beriman kepada Rububiyah Allâh maksudnya: beriman sepenuhnya bahwa Dialah satu-satunya Pengatur alam semesta, tiada sekutu dan tiada penolong selain Dia.

Rabb adalah Zat yang menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allâh, tidak ada pemilik selain Allâh, dan tidak ada perintah selain perintah-Nya.

Allâh  berfirman:
أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allâh. Maha suci Allâh, Rabb semesta alam.”
(QS. Al-A’râf [7] : 54).

Allâh berfirman:
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
"…Yang (berbuat) demikian itulah Allâh Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allâh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”
(QS. Fâthir [35] : 13).

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allâh , kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir`aun ketika berkata kepada kaumnya:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(QS. An-Naziat [79] : 24)

Dan juga ketika berkata:
يَا أَيُّهَا الْمَلأ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي
“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”
(QS. Al-Qashash [28] : 38)

Allâh  berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”
(QS. An-Naml [27] : 14).

Allâh berfirman:
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
Nabi Musa berkata kepada Fir`aun, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa.”
(QS. Al-Isrâ’ [17] : 102).

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allâh, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allâh  berfirman:
قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)
“Katakanlah,"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab,“kepunyan Allâh”. Katakanlah,“siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?” mereka menjawab, “kepunyaan Allâh.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak bertakwa? “Katakanlah, “Siapakah yang di tanganNya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?” mereka akan menjawab,“kepunyaan Allâh.” Katakanlah, “(kalau demikian). maka dari jalan manakah kamu ditipu?”
(QS. Al-Mu’minűn [23] : 84-89).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,“Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab,“Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Az-Zukhruf [43] : 9).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka,“siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab,“Allâh”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allâh)?”
(QS. Az-Zukhruf [43] : 87).

Perintah Allâh  mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Dia juga penentu peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Oleh karena itu barangsiapa yang menjadikan penentu aturan-aturan ibadah selain Allâh dan penentu aturan-aturan mu`amalat selain Allâh berarti ia telah menyekutukan Allâh serta tidak beriman kepada-Nya.

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8