Al-Qur’an, mentafsirkan & mentadabburkannya
( Debby Nasution )

Nabi saw bersabda:
أَبْشِرُوْا فَإِنَّ هَذَا الْقُرْأنَ طَرْفُهُ بِيَدِ اللَّهِ وَ طَرْفُهُ بِأَيْدِكُمْ. فَتَمَسَّكُ بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَهْلِكُ وَ نْتَضِلُّ بَعْدَهُ أَبَدًا
"Absyirű Fa Inna Hadzal-Qur-ana Tharfuhu Biyadillâhi Wa Tharfuhu Bi Aidikum. FaTamassaku Bihi Fa Innakum Lan Tahliku Wan Tadhillu Ba'dahu Abadan".
Artinya :
”Bergembiralah kalian, karena Al-Qur’-ân ini ujungnya di tangan Allâh, dan ujung yang satu di tangan kalian. Berpegang teguhlah dengan-nya, karena kalian tidak akan binasa dan tidak akan sesat setelah berpegang teguh dengan-nya”.
(HR Thabrâni)

Ada 3 kesimpulan penting dari hadits yang luar-biasa ini :
1. Perintah untuk bergembira dengan Al-Qur’-ân, karena ia merupakan satu-satunya tali penghubung dengan Allâh.
2. Perintah untuk berpegang teguh dengan-nya (Al-Qur’-ân), bagaimana caranya ? Insya Allâh akan kita bahas.
3. Jaminan dari Nabi saw, bahwa siapa-pun yang berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân tidak akan binasa dan tidak akan tersesat selamanya.

Perintah untuk bergembira dengan Al-Qur’-ân menunjukkan bahwa Al-Qur’-ân merupakan anugerah Allâh yang luar-biasa bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam surah Yunus (10) ayat 57 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
”Ya Ayyuhan-Nâsu Qad Jâ-at Kum Mau'izhatun Min Rabbikum Wa Syifâ-un Limâ Fish-Shudűr Wa Hudan Wa Rahmatun Lil-Mu'minîn”.
Artinya :
”Wahai manusia, sungguh telah datang pelajaran (Al-Qur’-ân) dari Rabb kalian, dan obat bagi apa saja (penyakit) di dalam hati, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mu'min”.

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’-ân adalah : Pelajaran yang sangat berharga yang datang dari Allâh dan amat dibutuhkan oleh manusia, dan juga obat mujarab bagi seluruh penyakit batin, serta pedoman hidup dan rahmat Allâh bagi orang-orang mu'min.

Pada Surat Yunus (10) ayat 58 Allâh berfirman :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
”Qul Bi Fadhlillâhi Wa Bi Rahmatihi Fa Bidzâlika Fal-Yafrahű, Huwa Khairun Mimmâ Yajma'űn”.
Artinya :
”Katakanlah (Muhamad) : Dengan karunia Allâh dan rahmat-Nya (yaitu Al-Qur’-ân), hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu (yaitu Al-Qur’-ân) lebih baik dari apa saja (harta) yang mereka kumpulkan”.

Sehubungan dengan inilah Nabi saw bersabda :
أَلْقُرْأَنُ غِنًا وَ لاَ غِنًا دُوْنَهُ وَ لاَ فَقْرًا بَعْدَهُ
”Al-Qur’-ânu Ghinan Wa La Ghinan Dunahu Wa La Faqra Ba'dahu”.
Artinya :
”Al-Qur’-ân itu adalah kekayaan, tidak ada kekayaan selain Al-Qur’-ân dan tidak ada kefaqiran setelahnya”.
(HR Thabrâni).

Hadits ini menegaskan bahwa tidak ada kekayaan yang bisa menandingi Al-Qur’-ân dan bagi orang yang telah memiliki pemahaman Al-Qur’-ân tidak akan tertekan oleh kebutuhan lain.

Nabi saw memerintahkan untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân dalam sabdanya :
فَتَمَسَّكُ بِهِ
”Fa Tamassaku Bihi”.
Artinya :
”Maka berpegang teguhlah kalian dengan-nya (Al-Qur’-ân)”.

Bagaimana caranya ? Menurut para ulama, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân :

Pertama : Tafsir.
Makna Tafsir ialah: Menyingkap (Al-Kasyfu), Keterangan yang jelas (Al-Bayanu), Penjelasan (Al-Idhahu) dan informasi yang luas (Asy-Syarhu).

Sa'id bin Jubair (seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’în) pernah berkata :
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأَنَ ثُمَّ لَمْ يُفَسِّرْهُ فَ هُوَ كَلْأَعْمَ أَوْ كَلْأَءْرَبِ
”Man Qara-al-Qur’-âna Tsumma Lam Yufassirhu Kal-A'ma aw Kal-A'rabiy”.
Artinya :
”Siapa-saja yang membaca Al-Qur’-ân namun ia tidak menafsirkannya, maka ia seperti orang buta atau orang pedalaman”

Makna Tafsir ialah :
1. Al-Kasyfu (Menyingkap)
2. Al-Bayanu (Keterangan yang jelas)
3. Al-Idhahu (Penjelasan yang mendalam)
4. Asy-Syarhu (Penjelasan yang luas).

Adapun dasar ilmu tafsir ialah :
- Penafsiran ayat dengan bahasa (yaitu bahasa 'Arab),
- Penafsiran ayat dengan sunnah (hadits yang shahih),
- Penafsiran ayat dengan ayat, dan
- Penafsiran ayat berdasarkan asbabun-nuzul (sejarah atau historis turunnya ayat).

Jadi hanya dengan Tafsir atau mempelajari tafsir Al-Qur’-ân kita dapat memahami kandungan Al-Qur’-ân. Dan ini merupakan langkah awal untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân. Adapun langkah berikutnya adalah "Tadabbur" yang arti singkatnya : "Menghayati", dan Insyâ Allâh akan kita bahas secara rinci.

Adapun makna Tadabbur Al-Qur’-ân menurut para 'ulama ialah :
تَفَهُّمُ مَعْنَ أَلْفَزِهِ وَ تَفَكُّرُ فِي مَا تَدُلُّ عَلَيْهِ مِنَ الإِشَرَةِ وَ التَّنْبِهَتْ
”Tafahhumu Ma'na Alfazhihi Wa Tafakkuru Fi Ma Tadullu 'Alaihi Minal-Isyarat Wat-Tanbihat”.
Artinya :
”Memahami makna kata demi kata/lafazh-lafazh dari ayat-ayatnya dan merenungkan apa saja yang ditunjukkan olehnya (ayat), baik berupa isyarat maupun peringatan”.

Inilah tahap kedua dalam pelaksanaan berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân.

Adapun tujuan Tadabbur Al-Qur’-ân menurut para 'ulama ialah :
لِيَتَّعِزَ الْقَلْبُ وَ تَخْشَعَ النَّفسُ وَ يَنْشَرِهَا الصَّدرُو لِلْعَمَلِ الصَّالِيحُ
”Liyat-Ta'izhal-Qalbu Wa Takhsya'an-Nafsu Wa Yansyarihash-Shadru Lil-'Amalish-Shalih”.
Artinya :
”Agar hati mendapat pelajaran/pencerahan, nafsu menjadi tunduk dan hati pun menjadi lapang untuk melakukan berbagai amal/perbuatan yang positif”.

Jadi, jelaslah bahwa Tafsir dan Tadabbur merupakan syarat mutlak bagi setiap muslim/muslimah dalam berpegang teguh dengan Al-Qur’-ân. Tafsir dan Tadabbur bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Allâh SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Kitâbun Anzalnâhu Ilaika Mubârakun Liyaddabbaru Ăyâtihi Wa Liyatadzakkara Ulul-Albâb”.
Artinya :
“Adapun Kitab (Al-Qur’-ân) yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) yang diberkahi, ialah agar mereka mentadabbur (menghayati) ayat-ayatnya, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”.
(Surah Shad [38] ayat 29).

Imam Ibnul-Qayyim mengatakan :
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi hati selain membaca Al-Qur’-ân dengan disertai Tadabbur.”

Bagaimana cara mentadabbur yang benar ?
Imam Ibnul-Qayyim mengatakan :
”Jika seorang membaca Al-Qur’-ân dengan penuh perhatian lalu ia menjumpai satu ayat yang terasa sangat ia butuhkan untuk mengobati hatinya, maka hendaklah ia ulang-ulang membaca satu ayat tersebut sebanyak 100X, atau sepanjang malam”.

Lalu Imam Ibnul-Qayyim menegaskan :
”Membaca satu ayat dengan penuh perhatian (tadabbur) dan pemahaman, jauh lebih baik daripada membaca 30 juz (khatam) namun tanpa disertai penghayatan (tadabbur) dan pemahaman, dan satu ayat itu pun akan sangat bermanfaat bagi kesejukan hati, kokohnya iman dan merasakan manisnya Al-Qur’-ân”.
(Min Ajli Tadabburil-Qur’-ân hal. 7)

Mengulang-ulang satu ayat dalam rangka tadabbur merupakan sunnah Nabi saw sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Dzar r.a. :
”Qaman-Nabiyyu saw Bi Ayatin Hatta Ashbaha Yuraddiduha Wal-Ayah: In Tu'adzdzibhum Fa Innahum 'Ibaduka Wa In Taghfirlahum Fa Innaka Antal-'Azizul-Hakim”.
Artinya :
”Nabi saw pernah shalat malam sampai waktu shubuh dengan mengulang-ulang satu ayat, yaitu ayat ke 118 dari surah Al-Maidah, yang artinya : Jika Engkau menyiksa mereka sesungguhnya mereka itu hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Gagah dan Maha Bijaksana”.
(HR Ahmad dan An-Nasa-i. Dishahihkan oleh Al-'Iraqi, Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

Mentadabbur satu ayat juga dilakukan oleh Sa'id bin Jubair salah seorang 'ulama terkemuka dari kalangan tabi’în rahimahullâh. Disebutkan bahwa beliau pernah melakukan shalat malam mulai dari awal 'Isya sampai waktu sahur, dan dalam shalat malamnya itu beliau hanya mengulang-ulang satu ayat yaitu :
”Idzas-Samă-un Fatharat”.
(Surah Infithar ayat 1).
(Lihat Min Ajli Tadabburil-Qur’-ân hal. 51)

Demikian pula dengan seorang tabi’în terkemuka lainnya, yaitu Al-Hasan Al-Bishri, beliau pun pernah mengulang-ulang satu ayat sepanjang malam hingga shubuh. Yaitu ayat :
”Wa In Ta'uddu Ni'matallâhi La Tuhshuha”
(Surah An-Nahl ayat 18).

Ketika hal itu ditanyakan, ia pun menjawab :
”Berkedipnya mata kita adalah karena nikmat dari Allâh, dan nikmat-nikmat Alah yang tidak kita sadari lebih banyak lagi.
(Min Ajli Tadabburil-Qur’-ân hal. 51-52)

”Wa In Ta'uddu Ni'matallâhi La Tuhshuha”
Artinya :
”Jika kalian menghitung nikmat Allâh, niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”
(Surah An-Nahl ayat 18).

Ar-Râzi mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan betapa limpahan nikmat Allâh berada di luar batas jangkauan pikiran manusia.
Dan Al-Hasan Al-Bishri mentadabbur ayat ini sepanjang malam dengan mengulang-ulangnya, untuk membangkitkan rasa syukurnya kepada Allâh. Itu terlihat dari pernyataannya:
”Berkedipnya mata kita adalah karena nikmat dari Allâh, dan nikmat-nikmat Alah yang tidak kita sadari lebih banyak lagi”.
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8