6 (enam) Syarat Mencapai Target Shaum


Berdasarkan hadits-hadits yang shahīh, ada 6 (enam) syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai target Shaum, yaitu: "Taqwā (التَّقْوَى)".

Pertama:
Melaksanakan Shaum karena imān kepada Allāh dan mencari hisāban (perhitungan), sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
"Siapa-saja yang melaksanakan Shaum Ramadhān karena imān -- kepada Allāh -- dan mencari hisāban, maka akan diampuni apa saja dosa yang dahulu pernah ia lakukan".
(H.R. Al-Bukhārī)

Ibnu Hajar Al-'Atsqalānī mengatakan yang dimaksud "karena imān ( إِيْمَانًا)" ialah:
اْلإِعْتِقَادُ بِحَقِّ فَرْضِيَةِ صَوْمِهِ
Artinya:
"Meyakini dengan sebenar-benarnya akan kewajiban Shaumnya".

Dan yang dimaksud "mencari hitungan (احْتِسَابًا)" ialah:
طَلَبُ الثَّوَابِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى
Artinya:
"Mencari (mengharap) balasan (pahala) dari Allāh Ta’ālā (Yang Maha Tinggi)".
(Al-Fathul-Bārī juz 4 hal. 115)

Terutama balasan yang berupa ketaqwāan yang merupakan tujuan utama dari 'ibadah Shaum.

Kedua:
Tidak mengucapkan perkataan dusta atau berbuat dusta, berdasarkan sabda Rasūlullāh saw:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَ شَرَبَهُ
Artinya:
"Siapa-saja yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka tidak ada bagi Allāh keinginan terhadap -- Shaumnya meskipun ia telah -- meninggalkan makan dan minumnya".
(H.R. Al-Bukhārī)

Ibnu Hajar Al-'Atsqalānī mengatakan maksud hadits ini ialah:
رُدَّ الصَّوْمُ الْمُلْتَبَسُ بِالزُّوْرِ وَ قَبُوْلُ الصَّوْمُ السَّالِمُ مِنْهُ
Artinya:
"Ditolaknya Shaum -- oleh Allāh --, yang dicampur dengan kebohongan, dan diterimanya Shaum yang bersih dari kebohongan".
(Al-Fathul-Bārī juz 4 hal. 117)

Ketiga:
Menjauhkan diri (menghindar) dari pertengkaran dan perbuatan jahiliyyah, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَ لاَ يَجْهَلْ . وَ إِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي امْرُءٌ صَائِمٌ ــ مَرَّتَيْنِ ــ
Artinya:
"Shiyām itu adalah perisai, maka janganlah ia mengucapkan perkataan cabul dan juga janganlah ia berbuat jahil. Dan jika ada seseorang yang mengutukinya atau mencacinya, hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya aku seorang yang sedang Shaum" -- dua kali --.
(H.R. Al-Bukhārī)

Ibnu Hajar Al-'Atsqalānī mengatakan yang dimaksud "jangan ia mengucapkan perkataan cabul (فَلاَ يَرْفُثْ )" ialah:
كَلاَمُ الْفَاحِشِ
Artinya:
"Ucapan yang keji".

Termasuk juga mengucapkan perkataan porno dan sebagainya.

Dan yang dimaksud "jangan berbuat jahil (وَ لاَ يَجْهَلْ)" ialah:
لاَ يَفْعَلْ شَيْئًا مِنْ أَفْعَالِ أَهْلِ الْجَهْلِ كَالصِيَاحِ وَ السَّفْهِ وَ نَحْوِ ذَلِكَ
Artinya:
"Jangan berbuat sesuatu pun dari perbuatan orang yang tidak tahu aturan, seperti berteriak-teriak dan berbuat bodoh, dan yang seperti itu" .
(Al-Fathul-Bārī juz 4 hal. 104)

Keempat:
Tidak melakukan "Ghībah", yakni membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
الصّيَامُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يُحْرِقْهَا زَادَ الدَّارِمِيُّ : بِاْلغِيْبَةِ
Artinya:
"Shiyām itu adalah perisai, yakni selama ia tidak membakarnya". Ad-Dārimī menambahkan hadits ini dengan kalimat: "(Yakni) dengan Ghībah".

Jadi, Ghībah dapat merusak Shaum seperti api yang sangat panas dapat merusak (melelehkan) perisai.

Dalam sebuah hadits Rasūlullāh saw menjelaskan apa yang dimaksud dengan " Ghībah", Beliau bersabda:
أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللَّهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ . قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ . قِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Artinya:
"Tahukah kalian apa Ghībah itu?". Mereka (para shahabat) menjawab: "Allāh dan Rasūl-Nya lebih tahu". Beliau saw pun bersabda: "(Ghībah) ialah omonganmu tentang saudaramu dengan apa yang dibencinya". Ditanyakan -- kepada Beliau saw --: "Bagaimana pendapat Anda jika ia (saudara) -- benar -- seperti apa yang aku katakan". Beliau saw bersabda: "Jika ia (saudara) -- benar -- seperti yang engkau katakan, berarti engkau sungguh telah meng-Ghībah-nya, jika ia tidak -- seperti yang engkau katakan -- maka sungguh engkau telah berbuat bohong atasnya".
(H.R. Muslim)

Kelima:
Melaksanakan shalat malam di malam-malam Ramadhān, berdasarkan sabda Rasūlullāh saw:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَّابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
"Siapa-saja yang berdiri di bulan Ramadhān karena imān -- kepada Allāh -- dan mencari hitungan, maka akan diampuni apa saja dosa yang dahulu pernah dilakukannya".
(H.R. Al-Bukhārī)

Ibnu Hajar Al-'Atsqalānī mengatakan yang dimaksud "berdiri di bulan Ramadhān (قَامَ رَمَضَانَ)", ialah:
قَامَ لَيَالِيْهِ مُصَلِّيًا وَ الْمُرَادُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ
Artinya:
"Berdiri di malam-malam Ramadhān melakukan shalat, dan yang dimaksud adalah shalat malam".

Dan yang dimaksud "karena imān (إِيْمَانًا)", ialah
تَصْدِيْقًا بِوَعْدِ اللَّهِ بِالثَّوَابِ عَلَيْهِ
Artinya:
"Karena yaqin sepenuhnya kepada janji Allāh, yaitu terhadap pahala yang akan diperolehnya".

Dan yang dimaksud dengan "dan mencari hitungan (وَ احْتِسَابًا)", ialah:
طَلَبًا لِلأَجْرِ لاَ لِقَصْدِ آخَرِ مِنْ رِيَاءٍ أَوْ نَحْوِهِ
Artinya:
"Benar-benar mencari balasan yang baik -- dari Allāh -- bukan karena tujuan yang lain seperti riyā' (pamer) atau hal yang seperti itu".

Dan yang dimaksud dengan "akan diampuni apa saja dosa yang dahulu pernah dilakukannya" (غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ), ialah: "Mencakup dosa-dosa kecil dan dosa besar". Ini merupakan pendapat Ibnul-Mundzīr.
(Al-Fathul-Bārī juz 4 hal. 251)

Keenam:
Mencari "Lailatul-Qadar" (Malam Qadar) sesuai dengan sabda Rasūlullāh saw:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
"Siapa-saja yang berdiri pada Malam Qadar karena imān -- kepada Allāh -- dan mencari hitungan, maka akan diampuni apa saja dosa yang dahulu pernah dilakukannya".
(H.R. Al-Bukhārī)

Yang dimaksud "berdiri pada Malam Qadar" ialah melakukan 'amal-'ibadah, seperti: shalat malam, dzikir, membaca Al-Qur-ān, berdo'a dan sebagainya, pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhān, berdasarkan sabda Rasūlullāh saw:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya:
"Carilah Malam Qadar di dalam 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhān".
(H.R. Al-Bukhārī)

Malam Qadar (Lailatul-Qadar) adalah Malam Yang Mulia, Malam Yang Lebih Baik Dari 1000 bulan, sebagaimana firman Allāh dalam surah Al-Qadar (97) ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
"Malam Qadar itu lebih baik dari 1000 bulan".

Maksudnya menurut 'Amer bin Qais Al-Mallā-ī ialah;
عَمَلٌ فِيْهَا خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
"Ber'amal -- shālih -- di malam itu lebih baik daripada ber'amal selama 1000 bulan".
(Tafsīr Ibnu Katsīr juz 4 hal. 531)

Ibnu Abī Hātim meriwayatkan dengan sanadnya dari 'Alī bin 'Urwah: Pada suatu hari Rasūlullāh saw menceritakan kisah 4 orang dari Banī Isrā-īl yang ber'ibadah kepada Allāh selama 80 tahun, tidak menentang Allāh (melakukan dosa) sekejap mata pun. Lalu Rasūlullāh saw menyebutkan ke-4 orang itu ialah: Nabi Ayyūb, Nabi Zakariyyā, Nabi Hizqīl bin 'Ajūz dan Nabi Yūsya' bin Nūn. Maka para shahabat Rasūlullāh saw merasa kagum terhadap ke-4 orang tersebut. Tiba-tiba datanglah malaikat Jibrīl, dan ia pun berkata:
ياَ مُحَمَّدُ عَجَّبْتَ أُمَّتَكَ مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلآءِ النَّفَرِ ثَمَانِيْنَ سَنَةٍ لَمْ يَعْصُوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ فَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ
Artinya:
"Ya Muhammad, engkau telah membuat kagum umatmu terhadap 'ibadah mereka (4 orang) itu selama 80 tahun tidak menentang Allāh sekejap mata pun. Maka sungguh Allāh telah menurunkan yang lebih baik dari demikian itu ('ibadah 80 tahun)".

Lalu malaikat Jibrīl membaca --surah Al-Qadar (97) ayat 1 s/d 3 --:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَ مَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ .
Artinya:
"Sesungguhnya Kami menurunkan padanya (Al-Qur-ān) pada Malam Qadar. Apa yang engkau ketahui apakah Malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari 1000 bulan".

Kemudian malaikat Jibrīl berkata:
هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجَّبْتَ أَنْتَ وَ أٌمَّتَكَ
Artinya:
"Ini (Malam Qadar) lebih afdhal (istimewa) dari apa yang membuat engkau dan umat-mu terkagum-kagum (kepada 'ibadah 4 orang tersebut.)".

Maka Rasūlullāh saw dan para shahabat pun merasa senang mendengar hal itu.
(Tafsīr Ibnu Katsīr juz 4 hal. 530)

-- Wallāhu A'lam --

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8