Makna Shaum Atau Shiym


Firman Allh SWT.:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya:
"Hai orang-orang yang berimn, diwajibkan atas kalian melakukan Shiym sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqw" .
(Surah Al-Baqarah (2) ayat 183)

Makna "Shaum atau Shiym" dari segi bahasa (lughah) ialah:
إِمْسَاكٌ عَنِ الْكَلاَمِ
Artinya:
"Menahan diri dari bicara".

Makna ini berdasarkan firman Allh dalam surah Maryam (19) ayat 26:
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Artinya:
Maka makanlah kamu (Maryam) dan minumlah, dan senangkanlah hati-mu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernadzar (bersumpah untuk melakukan ketaatan) kepada -- Allh -- Yang Maha Pemberi untuk Shaum (menahan diri) maka aku tidak akan berbicara kepada seorang manusia pun" .

Sebagian 'ulam' ada yang memaknai "Shaum" atau "Shiym":
إِمْسَاكٌ عَنِ الْفِعْلِ وَ الْكَلاَمِ
Artinya:
"Menahan diri dari perbuatan dan ucapan".

Apakah yang dimaksud menahan diri dari perbuatan dan ucapan? Raslullh saw bersabda mengenai hal ini:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ ، أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ ، فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
Artinya:
Bukanlah Shiym itu menahan makan dan minum. Sesungguhnya Shiym -- ialah -- menahan diri dari perbuatan sia-sia dan berkata-kata kotor. Jika ada seseorang yang mencaci-mu, atau berbuat jahil terhadap-mu, maka katakanlah -- kepadanya --: "Sesungguhnya aku sedang Shiym, sesungguhnya aku sedang Shiym".
(H.R. Al-Hkim dan Al-Baihaq. Lihat Al-Fathul-Kabr jilid V no.: 5252)

Hadits ini menjelaskan makna yang hakiki tentang Shaum, yaitu bukan sekedar menahan makan dan minum, akan tetapi lebih dari itu, yaitu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kotor.

Ahli Tafsr mengatakan arti Al-Laghwi (اللَّغْوِ) adalah: "perbuatan dan ucapan yang tidak berfaedah". Sedangkan arti Ar-Rafats (الرَّفَثِ): "ucapan yang keji (kotor)".

Mengapa lisan (mulut) harus dikontrol ? Karena ia adalah anggota tubuh manusia yang paling banyak memproduksi dosa, sebagaimana sabda Raslullh saw:
أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
Artinya:
"Sebagian besar kesalahan anak dam terletak di lisannya".
(H.R. Ath-Thabrn dan Ibnu Hibbn. Lihat Al-Fathul-Kabr jilid I hal. 385 no.: 1212)

Imm Al-Ghazl mengatakan, yang dimaksud menjaga lisan ialah:
حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْهَذْيَانِ وَ الْكِذْبِ وَ الْغِيْبَةِ وَ النَّمِيْمَةِ وَ الْفُحْشِ وَ الْجُفَاءِ وَ الْخُصُوْمَةِ وَ الْمِرَاءِ . وَ إِلْزَامُهُ السُكُوْتِ وَ شَغْلُهُ بِذِكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ . وَ هَذَا صَوْمُ اللِّسَانِ .
Artinya:
"Menjaga lisan dari bicara yang tidak keruan (ngelantur), dusta, ghbah, adu domba, berkata-kata keji (kotor), bicara yang bathil (tidak berguna), bertengkar dan berdebat. Dan menetapkannya (lisan) atau menahannya untuk diam, dan menyibukkannya berdzikir menyebut nama Allh Subhnahu serta membaca Al-Qur-n. Maka, inilah yang disebut Shaum (menahan) lisan".
(Lihat Al-Ihy' juz I hal. 270)

Selanjutnya Imm Al-Ghazl mengatakan, termasuk "Shaum" memelihara telinga dari mendengarkan hal-hal yang makruh dan diharamkan berdasarkan sebuah riwayat:
الْمُغْتَابُ وَ الْمُسْتَمِعُ شَرِيْكَانِ فِي اْلإِثْمِ
Artinya:
"Orang yang melakukan ghbah dan orang yang mendengarkan, sama-sama berdosa".

Dan juga termasuk "Shaum" memelihara anggota tubuh yang lain, yaitu tangan dan kaki dari perbuatan haram dan makruh.
(Lihat Al-Ihy' juz I hal. 271)

Inilah yang dimaksud menahan diri dari perbuatan bathil atau sia-sia.

Adapun orang yang tidak memelihara lisan dan dirinya dari hal-hal yang dilarang tersebut, maka menurut sebagian 'ulam' ibadah Shaumnya sia-sia, tidak akan mencapai target atau hasil, yaitu "taqw", sebagaimana sabda Raslullh saw:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ
Artinya:
"Banyak orang yang melaksanakan Shaum, akan tetapi tidak ada -- hasil -- baginya kecuali lapar dan haus".
(H.R. An-Nas- dan Ibnu Mjah)

Penutup :
Demikian pula dalam hal berbuka puasa, Imm Al-Ghazl berkata: "Janganlah memperbanyak mengkonsumsi makanan halal pada saat berbuka sehingga memenuhi perut, padahal tidak ada sebuah tempat yang sangat dibenci oleh Allh Yang Maha Mulia dan Maha Agung kecuali perut yang dipenuhi makanan yang halal. Bagaimana Shaumnya menghasilkan faedah bisa mengalahkan musuh Allh (yaitu: syaithn), dan mematahkan syahwatnya jika pada saat berbuka ia mengkonsumsi makanan yang -- sama porsinya dengan makanan -- yang ia tinggalkan di siang hari, malahan kadang-kadang di waktu berbuka -- ia juga mengkonsumsi berbagai macam makanan tambahan? Dan ini sudah menjadi kebiasaan sebagian besar orang, yaitu: menyiapkan berbagai macam jenis makanan pada bulan Ramadhn yang akan dikonsumsi -- pada waktu berbuka --, yaitu berbagai jenis makanan yang justru tidak dikonsumsi pada bulan-bulan yang lain di luar Ramadhn. Padahal sudah diketahui maksud dari Shaum, yaitu mengosongkan perut dan mematahkan syahwat ialah untuk menguatkan jiwa dalam mencapai ketaqw-an". (Lihat Al-Ihy' juz I hal. 271)


Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8