B. Jumlah Raka'at Shalat Malam
Rasūlullāh saw. bersabda :
اِنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ ؟ قَالَ : مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
Artinya :
"Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya - kepada Rasūlullāh saw.-- : "Ya Rasūlullāh bagaimanakah shalat malam itu ?". Beliau menjawab : "Dua-dua, maka jika engkau kuatir subuh, Witirlah dengan satu ".
(H.R. Al-Bukhārī)

Dari Masrūq, ia berkata :
سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ -ص- بِاللَّيْلِ فَقَالَتْ : سَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سِوَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ
Artinya :
Aku pernah bertanya kepada 'Āisyah r.a. tentang shalat malamnya Rasūlullāh saw., maka ia berkata : "Tujuh atau sembilan atau sebelas raka'at, selain dua raka'at shalat Fajar".
(H.R. Al-Bukhārī)

Adapun Ahmad dan Abū Dāwūd telah meriwayatkan dari 'Abdullāh bin Abī Qais dari 'Āisyah dengan lafazh :
كَانَ يُوْتِرُ بِأَرْبَعِ وَثَلاَثِ ، وَسِتَّ وَثَلاَثِ ، وَثَمَانِ وَثَلاَثِ ، وَعَشْرِ وَثَلاَثِ ، وَلَمْ يَكُنْ يُوْتِرُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَلاَ أَنْقَصَ مِنْ سَبْعِ
Artinya :
"Adalah dia (Nabi saw.) Witir dengan empat dan tiga (tujuh raka'at), dengan enam dan tiga (sembilan raka'at), dengan delapan dan tiga (sebelas raka'at) dan dengan sepuluh dan tiga (tigabelas raka'at). Beliau saw. tidak pernah mengerjakan lebih dari sepuluh dan tiga (tigabelas raka'at) dan tidak pernah mengerjakan kurang dari empat dan tiga (tujuh raka'at)".
(Lihat Fathul-Bārī juz III hal. 21)

Sehubungan dengan hadīts-hadīts yang menyatakan shalat malam Nabi saw jumlah rakaatnya berbeda-beda, maka para 'ulamā' pun berbeda pendapat mengenai sisi fadhīlah (keutamaan) shalat malam; apakah terletak pada panjangnya atau lamanya shalat atau pada banyaknya jumlah rakaat? Maksudnya, apakah orang yang panjang shalat malamnya dengan sedikit jumlah rakaatnya lebih utama daripada orang yang ringkas (pendek) shalatnya dan banyak jumlah rakaatnya, atau sebaliknya.

Al-Ustādz Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī telah membahas masalah ini secara rinci, beliau berkata bahwa sebagian 'ulamā' berpendapat panjangnya shalat lebih utama dari banyaknya rakaat, berdasarkan sabda Nabi saw:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ
Artinya:
"Keutamaan shalat -- terletak -- pada lamanya qunūt".
(H.R. Muslim)

Imām An-Nawawī berkata:
الْمُرَادُ بِالْقُنُوْتِ هُنَا الْقِيَامُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ فِيْمَا عَلِمْتُ
Artinya :
"Yang dimaksud dengan qunūt disitu ialah -- lamanya -- berdiri, berdasarkan kesepakatan 'ulamā' sepanjang pengetahuan-ku".

Syaikhul-Islām Ibnu Taymiyyah (rahimahullāh) berkata:
أَنَّ تَطْوِيْلَ الصَّلاَةِ قِيَامًا وَ رُكُوْعًا وَ سُجُوْدًا أَوْلَى مِنْ تَكْثِيْرِهَا قِيَامًا وَرُكُوْعًا وَ سُجُوْدًا
Artinya :
"Sesungguhnya memanjangkan shalat -- malam -- berdiri, ruku' dan sujud, lebih utama daripada memperbanyak -- rakaatnya, yaitu -- berdiri, ruku' dan sujudnya".

Sedangkan sebagian 'ulamā' yang lain berpendapat lebih utama memperbanyak rakaat, berdasarkan sabda Nabi saw:
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ لِلّٰهِ ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلّٰهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ حَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْئَةً
Artinya :
"Usahakanlah oleh-mu untuk memperbanyak sujud (shalat) kepada Allāh, karena sesungguhnya tidaklah engkau sujud kepada Allāh satu kali sujud melainkan Allāh pasti mengangkat-mu satu derajat sebab sujud-mu itu, dan Allāh menghapus satu kesalahan (dosa) dari-mu sebab sujud-mu itu".
(H.R. Muslim)

Memperbanyak sujud (shalat) berarti memperbanyak jumlah rakaat. Sedangkan sebagian 'ulamā' yang lain berpendapat sama saja keutamaan (fadhīlah) memperpanjang shalat dengan memperbanyak rakaat.

Adapun pendapat yang paling tengah dan paling tepat untuk masa sekarang dalam masalah ini ialah apa yang dikatakan oleh Syaikh 'Abdul-'Azīz bin 'Abdullāh bin Bāz (rahimahullāh), beliau berkata:
أَنَّ اْلأَفْضَلَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمُسْلِمُ مَا يَسْتَطِعُ ، حَتَّى لاَ يَمَلُّ ، فَإِذَا ارْتَاحَتْ نَفْسُهُ لِلتَّطْوِيْلِ أَطَالَ ، وَ إِنِ ارْتَاحَتْ نَفْسُهُ لِلتَّقْصِيْرِ قَصَّرَ إِذَا رَأَى أَنَّ التَّقْصِيْرَ أَخْشَعُ لَهُ وَ أَقْرَبُ إِلَى قَلْبِهِ وَ رَاحَةِ ضَمِيْرِهِ وَ تَلَذُّذِهِ بِهَذِهِ الْعِبَادَةِ ، كُلَّمَا كَثُرَتِ السَّجْدَاتِ كَانَ أَفْضَلُ
Artinya :
"Sesungguhnya yang lebih afdhāl ialah jika seorang muslim shalat -- malam -- sesuai dengan kesanggupannya, jika dirinya merasa senang untuk memperpanjang maka silahkan ia memperpanjang. Tetapi jika ia merasa senang untuk memperpendek silahkan ia memperpendek, terutama apabila ia merasa bahwa memperpendek -- shalat -- itu membuatnya lebih khusyu' dan lebih mendekatkan hatinya, menyenangkan perasaannya dan membuatnya dapat merasakan lezatnya 'ibadah ini, maka memperbanyak sujud (rakaat) itu lebih afdhāl".
(Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 42 s/d 47)

• Waktu Untuk Mengerjakan Shalat Malam

Telah disebutkan dalam sebuah hadīts :
كَانَ يُوْتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ، وَأَوْ سَطِهِ ، وَآخِرِهِ
Artinya :
Adalah dia (Nabi saw.) melakukan shalat Witir di awal malam, dan di tengah malam, dan di akhir malam.
(H.R. Ahmad dari Abū Mas'ūd. Lihat Al-Fathul-Kabīr dari Syaikh Al-Albānī jilid IV hal 278 no. 4900)

Jadi shalat Witir itu bisa dilakukan pada awal malam. yaitu setelah masuk waktu 'Īsyā' dan setelah selesai shalat 'Īsyā', atau pada waktu tengah malam dan bisa juga pada waktu akhir malam.

Shalat Witir Adalah Inti Shalat Malam Dan Termasuk Sunnah Mu-akkad

Witir artinya ganjil, jadi shalat Witir adalah shalat yang jumlah rakaatnya ganjil, seperti satu, tiga, lima dst.
Shalat Witir termasuk Sunnah Mu-akkadah artinya Sunnah yang hampir mendekati wajib, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ ، وَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ
Artinya :
"(Shalat) Witir adalah wajib atas setiap muslim. Maka siapa-saja yang ingin Witir dengan 5 rakaat, maka kerjakanlah, dan siapa-saja yang ingin Witir dengan 3 rakaat, maka kerjakanlah, dan siapa-saja yang ingin Witir dengan 1 rakaat, maka kerjakanlah".
(H.R. Abū Dāwūd, An-Nasā-ī dan Ibnu Mājah. Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 78)

Namun, wajibnya shalat Witir di dalam hadīts ini tidaklah sama dengan wajibnya shalat 5 (lima) waktu, sebagaimana dijelaskan oleh Imām 'Alī bin Abī Thālib r.a.:
الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلاَتِكُمُ الْمَكْتُوْبَةِ ، وَ لَكِنْ سُنَّةَ سَنَّهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
Artinya :
"(Shalat) Witir itu tidaklah -- wajib yang ditentukan -- secara pasti seperti shalat kalian yang wajib. Akan tetapi ia (Witir) merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasūlullāh saw".
(Riwayat At-Tirmidzī dan dihasankan olehnya, dan An-Nasā-ī, dan Al-Hākim dan dishahīhkan olehnya. Lihat Subulus-Salām juz II hal. 14 dan Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 78-79)

Dalam sebuah riwayat Rasūlullāh saw bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ اللَّيْلِ وَ لَوْ رَكْعَةً
Artinya :
"Kerjakanlah shalat malam oleh kalian, meskipun hanya 1 (satu) rakaat (yaitu; Witir)".
(H.R. Ath-Thabrānī dalam Al-Kabīr dan Al-Awsath. Lihat At-Targhīb Wat-Tarhīb oleh Al-Mundzirī juz I hal. 292)

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu 'Abbās (r.a.), ia berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ ، حَتَّى قَالَ : وَ لَوْ بِرَكْعَةٍ
Artinya :
Sesungguhnya Rasūlullāh saw memotivasi -- kami -- untuk selalu melakukan shalat malam, sehingga Beliau berkata: "Meskipun hanya 1 (satu) rakaat".
(H.R. Ad-Dārimī juz II hal. 302)

Anjuran Mengerjakan Witir Sebelum Tidur

Melakukan shalat Witir sebelum tidur sangat dianjurkan bagi orang yang tidak mampu bangun di akhir malam sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ ، وَ مَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُوْمَ آخَرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ مَحْضُوْرَةٌ ، وَ ذَلِكَ أَفْضَلُ
Artinya :
"Siapa-saja yang merasa kuatir jika tidak bisa bangun (shalat) di akhir malam, maka Witir-lah di awal malam. Dan siapa-saja yang mengharap (kuat) untuk bangun (shalat) di akhir malam, maka hendaklah ia Witir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat di akhir malam disaksikan dan dihadiri -- oleh para malaikat -- dan hal itu lebih utama".
(H.R. Muslim, At-Tirmidzī, Ibnu Mājah dll. Lihat At-Targhīb Wat-Tarhīb oleh Al-Mundzirī juz I hal. 276)

Namun, Imām An-Nawawī (rahimahullāh) berkata:
فِيْهِ دَلِيْلٌ صَرِيْحٌ عَلَى أَنَّ تَأْخِيْرَ الْوِتْرِ إِلَى آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ ، لِمَنْ وَثَقَ بِاْلإِسْتِيْقَاظِ ، وَ أَنَّ مَنْ لاَ يَثِقْ بِذَلِكَ فَالتَّقْدِيْمُ لَهُ أَفْضَلُ ، وَ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ ،
Artinya :
"Di dalam -- hadīts -- ini menjadi dalil yang tegas bahwa mengakhirkan Witir sampai akhir malam lebih utama bagi siapa-saja yang kuat untuk bangun, dan sesungguhnya bagi orang yang tidak kuat untuk itu, maka memajukan Witir -- ke awal malam -- lebih utama, inilah pengertian yang benar".
(Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 90)

Dan dalam sebuah hadīts dari Sa'ad bin Abī Waqqāsh; sesungguhnya ia (Sa'ad) shalat 'Isyā' di Masjid Rasūlullāh saw pada waktu akhir, lalu ia shalat Witir 1 (satu) rakaat dan ia tidak menambah -- rakaat -- pada shalat Witir tersebut. Maka ditanyakan kepadanya:
أَتُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ لاَ تَزِيْدُ عَلَيْهَا يَاأَبَا إِسْحَاقِ ؟
Artinya :
"Apakah engkau shalat Witir -- hanya -- dengan 1 (satu) rakaat,dan engkau tidak menambahkan -- rakaat -- padanya wahai Abū Ishāq? (julukan Sa'ad bin Abī Waqqāsh)".

Sa'ad bin Abī Waqqāsh pun menjawab:
نَعَمْ ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمِ يَقُوْلُ : وَ الَّذِيْ لاَ يَنَامُ حَتَّى يُوْتِرَ حَازِمٌ
Artinya :
Benar, sesungguhnya aku mendengar Rasūlullāh saw bersabda: "Siapa-saja yang shalat Witir sebelum tidur, -- maka itulah -- orang yang teliti".
(H.R. Ahmad (1/170). Lihat Silsilatu Al-Ahādītsush-Shahīhah oleh Syaikh Al-Albānī (rahimahullāh) juz V no.: 2208)

Dalam sebuah hadīts dari Abū Qatādah:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ : مَتَى تُوْتِرُ ؟ قَالَ: أُوْتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ، وَ قَالَ لِعُمَرَ : مَتَى تُوْتِرُ ؟ فَقَالَ : آخِرَ اللَّيْلِ فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ : أَخَذَ هَذَا بِالْحَزِمِ فَقَالَ لِعُمَرَ : أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ
Artinya :
Sesungguhnya Nabi saw bertanya kepada Abū Bakar: "Kapan engkau shalat Witir?". Abū Bakar menjawab: "Pada waktu awal malam". Lalu Beliau saw berkata kepada 'Umar: "Kapan engkau shalat Witir?". 'Umar menjawab: "Pada waktu akhir malam". Maka Beliau saw berkata kepada Abū Bakar: "Ia (Abū Bakar) berpegang kepada sikap teliti (kehati-hatian)". Dan Beliau saw berkata kepada 'Umar: "Ia ('Umar) berpegang kepada kekuatan".
(H.R. Abū Dāwūd. Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 89)

Maksudnya: Abū Bakar melaksanakan shalat Witir pada awal malam karena sikap hati-hati, yaitu rasa kuatir jika tidak bisa bangun pada akhir malam, sedangkan 'Umar melaksanakannya pada akhir malam karena kekuatan dirinya untuk bangun pada akhir malam.

Dan juga ada sebuah hadīts dari Abū Hurairah r.a., ia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيْلِي أَنْ لاَ أَنَامُ إِلاَّ عَلَى وِتْرٍ
Artinya :
"Kekasih-ku (maksudnya: Rasūlullāh saw) telah berpesan kepada-ku supaya aku jangan tidur kecuali setelah shalat Witir". (H.R. Muslim. Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 90)

Al-Ustādz Al-Qahthānī berkata :
"Dan hadīts ini pun merupakan sebuah anjuran melakukan shalat Witir sebelum tidur, yaitu pada awal malam bagi siapa-saja yang tidak kuat melaksanakannya pada akhir malam".
(Lihat Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 91)

Tidak Boleh Melakukan Shalat Witir Dua Kali Dalam Satu Malam

Disebutkan dalam sebuah hadīts dari Thalq bin 'Alī, ia berkata: aku mendengar Rasūlullāh saw bersabda:
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
Artinya :
"Tidak ada dua Witir dalam satu malam".
(H.R. Ahmad, Abū Dāwūd, At-Tirmidzī dan An-Nasā-ī dan dishahīhkan oleh Ibnu Hibbān. Lihat Subulus-Salām juz II hal. 21)

Sebagian besar 'ulamā' berpendapat, bahwa maksud hadīts ini ialah seorang yang telah shalat Witir boleh melakukan shalat malam tanpa Witir lagi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Abī Salamah, dari 'Ā-isyah:
أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَ هُوَ جَالِسٌ
Artinya :
"Sesungguhnya Nabi saw melakukan shalat malam dua rakaat setelah Beliau shalat Witir, dan Beliau melakukan -- shalat tersebut -- sambil duduk".

Imām An-Nawawī mengatakan bahwasanya Nabi saw melakukan hal itu untuk menjelaskan bolehnya melakukan shalat malam sesudah shalat Witir, dan bolehnya melakukan shalat malam dengan duduk.

Adapun sabda Nabi saw:
اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
Artinya :
"Jadikanlah akhir shalat kalian di waktu malam dengan shalat Witir".
(Muttafaqun 'alaih)

Boleh jadi hadīts ini merupakan anjuran khusus bagi orang yang melakukan Witir pada akhir malam. (Lihat Subulus-Salām juz II hal. 21)

Syaikh 'Abdul-'Azīz bin 'Abdullāh bin Bāz (rahimahullāh), berkata :
"Memang sunnahnya melakukan shalat Witir adalah di akhir malam, akan tetapi apabila seseorang telah melakukan shalat Witir pada awal malam maka ia tidak boleh melakukan shalat Witir lagi pada akhir malam berdasarkan hadīts:
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
Artinya :
"Tidak ada dua Witir dalam satu malam".

Adapun orang yang berpendapat bahwa -- siapa-saja yang sudah shalat Witir pada awal malam -- maka ia harus menggenapkan Witirnya -- apabila ia akan melakukan shalat malam --, berarti orang tersebut melakukan Witir sebanyak tiga kali. Yang benar adalah apabila seorang telah shalat Witir di awal malam, lalu ia ingin melakukan shalat malam di akhir malam, silahkan ia lakukan shalat malam itu, akan tetapi ia tidak boleh melakukan shalat Witir lagi karena shalat Witir yang awal itu sudah cukup baginya".
(Lihat catatan kaki no. 3 Qiyāmul-Lail oleh Sa'īd bin 'Alī bin Wahfi Al-Qahthānī hal. 112)

Bolehnya shalat malam (Shalatul-Lail) sesudah shalat Witir dinyatakan dalam sebuah hadīts dari Tsaubān; ia berkata: kami berada dalam sebuah perjalanan bersama Nabi saw, lalu Beliau bersabda:
إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَ ثَقْلٌ ، فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَ إِلاَّ كَانَتَا لَهُ
Artinya :
"Sesungguhnya perjalanan ini membuat letih dan berat, maka apabila salah seorang kalian telah shalat witir hendaklah ia shalat 2 (dua) raka'at. Lalu jika ia bangun malam -- ia boleh shalat lagi --, dan jika ia tidak bangun, maka 2 (dua) raka'at ini cukup baginya".
(H.R. Ad-Dārimī, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbān. Lihat Al-Ahāditsush-Shīhah oleh Syaikh Al-Albānī jilid 4 no.: 1993)

Syaikh Al-Albānī (rahimahullāh) berkata mengenai hadīts ini :
"Hadīts ini dijadikan dalil oleh Al-Imām Ibnu Khuzaimah atas bolehnya shalat malam setelah shalat Witir bagi semua orang yang ingin melakukannya. Memang, Nabi saw pernah melakukan shalat 2 (dua) raka'at sesudah shalat Witir, dan itu bukan bersifat khusus bagi Nabi saw saja, tetapi juga untuk umatnya. Namun, perintah Nabi saw kepada kita untuk shalat 2 (dua) raka'at sesudah Witir adalah sekedar anjuran dan keutamaan saja, bukan merupakan perintah wajib atau fardhu".
(Lihat Al-Ahāditsush-Shīhah jilid 4 hal. 647)

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8