Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur-ân
Berfirman Allâh SWT :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ اْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka ber’ibadah kepada-Ku”. (Surah Adz-Dzâriyât (51) : 56).

Ada 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan dalam ayat ini :

1. Kata “Menciptakan” - حلق yang artinya : “Mengadakan sesuatu dari tidak ada”. Ini merupakan salah satu dari perbuatan Allâh yang luar biasa, yang ditetapkan menjadi salah satu dari nama-nama Allâh, yaitu “Al-Khâliq” - الخالق artinya : “Yang Maha Pencipta”.

2. Kata “Al-Jin” - الجن yaitu nama jenis dari satu makhluk atau ciptaan Allâh, Jenis makhluk ini Allâh ciptakan dari nyala api, sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah Ar-Rahmân (55) : 15 :
وَخَلَقَ الْجَآنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ
Artinya : “Dan Dia menciptakan jin, dari nyala api”.

Dan jin diciptakan sebelum manusia, lihat firman Allâh surah Al-Hijr (15) : 27 :
وَ اْلجَآنَّ خَلَقْنَهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ
Artinya : “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”.

Mithos (anggapan) bahwa Al-Jin mengetahui yang ghaib, dibantah oleh Al-Qur-ân dalam surah Sabâ (34) : 14 :
... فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَن لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَالَبِثُوْا فِيْ الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ.
Artinya : ...Maka tatkala ia (Sulaimân) telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”.

Bahkan makhluk ini (Al-Jin) --dengan idzin Allâh-- pernah dikuasai oleh seorang nabi dari kalangan manusia, yaitu Sulaimân bin Dâwűd a.s. perhatikan surah Sabâ’ (34) : 12-13 :
... وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ...(12) يَعْمَلُوْنَ لَهُ مَايَشَآءُ مِنْ مَحَرِيْبَ وَ تَمَثِيْلَ وَ جِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَ قُدُوْرٍ رَّاسِيَتٍ..(13)
Artinya : ... Dan sebagian dari jin ada yang berkerja di hadapannya (di bawah kekuasan Sulaimân) dengan idzin Rabb-nya (12). Para jin itu membuat untuk Sulaimân apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku)..(13).

Dan juga di terangkan dalam surah An-Naml (27) : 17 :
وَ حُشِرَ لِسُلَيْمَنَ جُنُوْدُهُ مِنَ الْجِنِّ وَ اْلإِنْسِ وَا الطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ .
Artinya : “Dan dihimpun untuk Sulaimân tentaranya dari (golongan) jin dan manusia dan burung lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)”.

Memang diantara mereka (jin) ada yang memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Jin (72) : 8 - 9 :
وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَآءَ فَوَجَدْنَهَا مُلِئَتْ حَِرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا (8) وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَن يَسْتَمِعِ اْلأَنَ يَجِدْ لَهُ, شِهَابًا رَصَدًا (9)
Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api (8)”. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengarkan (berita-berita), tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah-panah api yang mengintai untuk membakarnya (9)”.

Dan juga kekuatan mereka diterangkan dalam surah An-Naml (27) ayat 39 :
قَالَ عِفْرِيْتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِكَ بِهِ, قَبْلَ أَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَقَامِكَ وَ إِنِّى عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِيْنٌ.
Artinya : “Berkata ‘Ifrît dari golongan jin : “Aku akan datang kepadamu --dengan membawa singgasana itu-- sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat --untuk membawanya-- dan lagi dapat dipercaya”.

Diantara mereka (golongan Jin) ada juga yang shalih (bahkan dari kalangan mereka ada yang mendengarkan Al-Qur-ân, lalu mereka merasa kagum dan beriman dengannya, perhatikan surat Al-Ahqâf (46) ayat : 29 s/d 32), dan ada yang kafir, sebagaimana dalam surah Al-Jin (72) ayat : 11 :
وَ أَنَّا مِنَّا الصَّلِحُوْنَ وَ مِنَّا دُوْنَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدَا
Artinya : “Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang yang shalih, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda”.

Dan adalah Iblîs (la’natullâh ‘alaih) berasal dari golongan Jin, lihat surah Al-Kahfi (18) ayat : 50;
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَئِكَةِا سْجُدُوْا ِلأَدَمَ فَسَجَدُوْا إِلآَّ إِِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ..
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfrman kepada para Malaikat : “Sujudlah kamu kepada Adam”. Maka sujudlah mereka kecuali Iblîs, adalah dia dari golongan Jin. Maka dia mendurhakai perintah Rabb-nya..” .

3. Kata “Al-Ins - اْلإِنْسَ , menjelaskan jenis makhluq atau ciptaan Allâh berikutnya setelah Al-Jin. Allâh SWT. mengawali penciptaan manusia dari tanah kering dan tanah hitam; sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Hijr (15) ayat 26 ;
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَنَ مِنْ صَلْصَلٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.

Dan diterangkan juga dalam surah Al-Mu’minűn (23) ayat : 12 berikut ini :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَنَ مِنْ سُلَلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”.

Selanjutnya Allâh memproses penciptaan manusia dari air mani, perhatikan surah Al-Mu’minűn (23) ayat : 13 :
ثُمَّ جَعَلْنَهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ
Artinya : “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”.

Dan manusia adalah makhluq ciptaan Allâh yang paling indah, sebagaimana dalam firman-Nya surah At-Tîn (95) ayat : 4 :
لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَنَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Artinya : “Sungguh-sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

4. Tujuan penciptaan Jin dan mnausia, yaitu agar mereka menghamba atau ber’ibadah kepada-Nya ( لِيَعْبُدُوْنِ ). Jadi, Allâh SWT. menciptakan Jin dan Manusia dengan tujuan yang sama, yaitu ber’ibadah kepada-NYA.

Makna ‘Ibadah ( الْعِبَدَةِ ) Makna atau arti ‘Ibadah dari segi bahasa adalah “ At-Thâ’ah - الطَّاعَةِ : “Tunduk dan patuh”. Adapun pengertian ‘Ibadah secara umum ialah :
إِسْمُ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَ يَرْضَاهُ مِنَ اْلأَقْوَالِ وَ اْلأَفْعَالِ وَ الظَّاهِرَةُ وَ الْبَاطِنُهُ
Artinya : “Nama (isim) bagi semua yang dicintai dan diridhai Allâh, baik ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin”.

Sedangkan pengertiannya secara khusus, sebagaimana diucapkan oleh Syaikhul Islâm Ibnu At-Taymiyyah (rahimahullâh) :
الْعِبَادَةُ هِيَ طَاعَةُ اللَّهِ بِإِمْتِثَالِ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ بِهِ عَلَى أَلْسِنَةِ الرُّسُلِ
Artinya : “’Ibadah itu ialah : tunduk dan patuh, dengan melakukan apa saja yang Allâh perintahkan melalui lisan (ucapan) para rasul”.

Tujuan Diutusnya Para Rasul : Allâh SWT. mengutus para Rasul untuk ber da’wah, mengajak manusia ber’ibadah kepada Allâh dan menjauhi Thâghűt, yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allâh; sebagaimana firman-Nya :
وَ لَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْا اللَّهَ وَ اجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتِ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Ber’ibadahlah kepada Allâh (saja) dan jauhilah Thâghűt..”. (Surat An-Nahl (16) : 36).

Thâghűt Harus Diingkari : Konsekwensi ber’ibadah kepada Allâh adalah mengingkari atau menentang Thâghűt, sebagaimana firman Allâh SWT :
فَمَنْ يَكْفُْر بِالطَّاغُوْتِ وَ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا
Artinya : “Maka barangsiapa yang ingkar (menentang) kepada Thâghűt dan berimân kepada Allâh, sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus..”. (Surah Al-Baqarah (2) : 256).

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb memberikan komentar yang tegas mengenai ayat ini, beliau berkata :
الْمَسْأَلَةُ الْكَبِيْرَةُ أَنَّ عِبَادَةَ اللَّهِ لاَ تَحْصُلُ إِلاَّ بِالْكُفْرِ بِالطَّاغُوْتِ
Artinya : “Inilah masalah yang amat besar, bahwa ber’ibadah kepada Allâh tidak akan berhasil kecuali dengan bersikap ingkar kepada Thâghűt”.

Inilah makna yang dikandung oleh ayat tersebut di atas, dan ini pula makna kalimat Syahadat : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ , tidak ada --sesuatupun-- yang disembah selain Allâh”. Dan inilah “Tauhid” yang sebenarnya. Rasűlullâh saw. bersabda :
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ كَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَ دَمُهُ
Artinya : “Siapa saja yang berkata : “ Tidak ada --sesuatu pun-- yang disembah selain Allâh”; kemudian ia mengingkari kepada apa saja yang disembah selain Allâh, maka haramlah harta dan darahnya”. (H.R. Muslim).

Apa dan Siapakah Thâghűt Itu ..? Asal kata Thâghűt - الطَّاغُوْت ; adalah “Thâghâ” - طَغَى ; “Yathghâ - يَطْغَى yang artinya : جَاوَزَ الْحَدَّ - “Melampaui batas”. Sebagaimana disebutkan dalam surah Thâhâ (20), ayat : 24 :
إِذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
Artinya : “Pergilah engkau (Műsâ) kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.

Yang dimaksud “Melampaui batas” - طَغَى dalam ayat ini ialah :
طَغَى فِى الْكُفْرِ وَ جَاوَزَ الْقَدْرَ فِى الشَّرِّ
Artinya : “Ia (Fir’aun) telah melampaui batas dalam kekufuran dan melampaui batas dalam keburukan”.

Allâh SWT. menyebut Fir’aun telah melampaui batas dalam kekufuran, karena ia mengaku dirinya “tuhan” dan hal itu ia nyatakan secara terang-terangan, sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nâzi’ât (79) : 24 :
فَقَالَ أَنَ رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى
Artinya : “Maka ia (Fir’aun) pun berkata : “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi”.

Sedangkan melampaui batas dalam keburukan atau perbuatan buruk --Fir’aun--, diantaranya ialah membunuh bayi laki-laki dari Banî Isrâ-îl, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash (28) : 4 :
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلاَ فِى اْلأَرْضِ وَ جَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّهُ أَبْنَائَهُمْ وَ يَسْتَحْيِ نِسَاعَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Jadi, ta’rif atau definisi Thâghűt - الطَّاغُوْت ialah :
كُلُّ مُجَاوِزٍ حَدَّهُ فِيْ الْعِصْيَانِ
Artinya : “Semua atau siapa saja yang melampaui batas dalam kema’shiyatan”

Macam-macam Thâghűt : Thâghűt - الطَّاغُوْت itu banyak, namun Al-Imâm Ibnul-Qayyim menyatakan bahwa tokoh atau pemimpinnya hanya 5 (lima) :

1. Iblîs (la’natullâh alaih). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Iblîs berasal dari golongan Jin, dan dia makhluq yang pertama-kali melakukan pembangkangan, menentang perintah Allâh, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Kahfî (18) ayat 50 :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِا سْجُدُوْا لأَدَمَ فَسَجَدُوْا إِلآَّ إِِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ..
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat : “Sujudlah kalian kepada Adam”. Maka mereka pun sujud kecuali Iblîs. Dia adalah dari golongan Jin, maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya”.

2. Orang yang Disembah Dan Ia Merasa Senang :
مَنْ عُبِدَ وَ هُوَ رَاضِّ
Yang dimaksud disini adalah para pendeta Yahűdî dan Nashranî yang membuat-buat peaturan agama (syari’at), menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, seperti disebutkan dalam surah At-Taubah (9) ayat : 31 :
إِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَ رُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللَّهِ
Artinya : “Mereka --Yahűdî dan Nashranî-- menjadikan orang-orang ‘alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh..”.

Dalam sebuah hadits dari ‘Adi bin Hâtim --salah seorang shahabat yang asalnya beragama Nashranî-- disebutkan; sesungguhnya ia mendengar Nabi saw. membaca ayat ini (surah At-Taubah (9) ayat 31), maka ia berkata kepada Nabi saw. :
إِنَّ لَسْنَا نَعْبُدُوْهُمْ
Artinya : “Sesungguhnya kami tidak menyembah kepada mereka” (orang-orang ‘alim dan rahib-rahib).

Maka Nabi saw. pun bersabda kepada ‘Adi bin Hâtim :
أَلَيْسَ يُحَرِّمُوْنَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِمُوْنَهُ وَ يُحَلِّلُوْنَ مَا حَرَمَ اللَّهُ فَتُحِلُّوْنَهُ ؟
Artinya : “Tidakkah jika mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allâh, maka kalian pun mengharamkannya; dan jika mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allâh kalian pun menghalalkannya”.

‘Adi bin Hâtim pun menjawab : بَلَى - “Benar seperti itu”. Maka Nabi saw. pun bersabda :
فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ -
“Seperti itulah bentuk ‘ibadah atau penyembahan mereka” --kepada orang-orang ‘alim dan rahib-rahib-- (H.R. Ahmad, At-Tirmidzî dan ia menghasankan hadits ini).

3. Orang Yang Menyeru Manusia Untuk Menyembah Dirinya –
مَنْ دَعَا النَّاسَ إِلَى عِبَادَةِ نَفْسِهِ
Yang dimaksud disini adalah para pemimpin sekte, atau para Syaikh Thariqat yang gemar menipu pengikutnya dengan mengaku-ngaku sebagai wali dsb. Pada umumnya para Thâghűt dari jenis ini, terdiri dari orang-orang bodoh yang tidak mengerti atau memahami syari’at .

4. Orang Yang Mengaku Mengetahui Sesuatu Dari ‘Ilmu Ghaib –
مَنِ ادَّعَى شَيْئًا مِنْ عِلْمِ الْغَيْبِ
Yang dimaksud di sini ialah para dukun, tukang sihir, tukang santet, tukang teluh, tukang ramal, paranormal dsb.

5. Orang Yang Memutuskan Hukum Dengan Selain Al-Qur-ân –
مَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ
Yang dimaksud di sini adalah para pemimpin Negara atau kepala Negara, hakim, jaksa dan seluruh aparat penegak hukum, yang dalam memutuskan perkara tidak menggunakan hukum Allâh. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Mâidah (5) ayat 44 :
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ
Artinya : “Dan barang siapa yang tidak memutuskan --hukum-- dengan apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”.

Dan juga dalam surah yang sama di ayat 45 berbunyi :
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Artinya : “Dan barang siapa yang tidak memutuskan --hukum-- dengan apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim”.

Juga pada surah yang sama ayat 47, berbunyi :
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
Artinya : “Dan barang siapa yang tidak memutuskan --hukum-- dengan apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang fasiq”.

Semua jenis Thâghűt ini harus diingkari oleh siapa saja yang ber’ibadah kepada Allâh, karena ber’ibadah kepada Allâh dengan ‘Aqidah yang benar, yaitu Tauhîd hanya bisa terwujud dengan cara mengingkari semua jenis Thâghűt.
وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8