III. Adab Bekerja Dan Mencari Nafqah
( Dinuqil dari : Ihyā 'Ulūmud-Dīn karya Al-Imām Ghazālī,
Diterjemahkan oleh : Debby Nasution)
Firman Allāh SWT :
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشَا
Artinya : "Dan telah Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (bekerja”. (Q.S. An-Naba' (78) : 11);

Allāh menyebutkan hal ini sebagai “sindiran” –untuk mengingatkan— kebaikan atau anugerah-Nya kepada hambanya (Bahwa kesempatan bekerja mencari nafqah disiang hari merupakan anugerah Allāh).

Dan firman-Nya dalam surah Al-A'rāf :
وَ جَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَا تَشْكُرُوْنَ
Artinya : "Dan telah Kami jadikan untuk kalian di muka bumi (sumber-sumber) penghidupan, Amat sedikit kalian yang bersyukur" (Q.S. Al-A’rāf (7) : 10).

Rabb-mu telah meyatakan --dalam ayat ini— bahwa sumber-sumber penghidupan di bumi itu merupakan nikmat, dan Dia menuntut –kalian—untuk mensyukurinya.

Dan firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah :
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ
Artinya : "Tidak ada dosa atas kalian mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb kalian" (Q.S. Al-Baqarah (2) : 198);

Dan firman-Nya dalam surah Al-Muzzamil :
وَءَاخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِيْ اْلأَرْضِ يَبْتَغُوْ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
Artinya : "Dan yang lain melakukan perjalanan di muka bumi --dalam rangka-- mencari karunia Allāh" (Q.S. Al-Muzzamil (73) : 20);

Dan firman-Nya dalam surah Al-Jumu'ah :
فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ
Artinya : "Maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allāh" (Q.S. Al-Jumu’ah (62) : 10).

Adapun informasi dari hadits-hadits mengenai hal mencari nafqah sebagaimana sabda Rasūlullāh saw berikut ini :
مِنَ الذُّ نُوْبِ ذُ نُوْبٌ لاَ يُكَفِرُهَا اِلاَّ الْهَمُّ فِىْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ
Artinya : "Sebagian dari dosa ada dosa yang tidak bisa dihapus kecuali oleh keinginan yang kuat untuk mencari penghidupan".

Dan sabda Nabi saw. :
التَّاجِرُ الصُّدُوْقُ يَخْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّ يْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya : "Pedagang (Pengusaha) yang jujur akan dikumpulkan pada hari Qiyamat --nanti-- bersama-sama shiddiqīn dan orang-orang yang mati syahid"

Dan sabda Nabi saw. :
مَنْ طَلَبَ الدُّ نْيَا حَلَلاً وَتَعَفُّفًا عَنِ الْمَسَأَلَةِ، وَ سَعْيًا عَلَى عِيَالِهِ، وَ تَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ لَقِىَ اللَّهُ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
Artinya : "Siapa-siapa yang mencari dunia dengan cara halal, untuk menjaga diri dari minta-minta, atau untuk berusaha --memberi nafqah-- kepada keluarganya, atau untuk berbuat baik --menolong-- tetangga, maka ia akan bertemu Allāh --pada hari Qiyamat-- dengan wajah seperti rembulan dimalam purnama".

Suatu ketika Nabi saw. duduk bersama shahabatnya, dan melihat seorang pemuda yang memiliki ketabahan dan kekuatan berangkat di pagi hari sekali untuk bekerja. Maka mereka (shahabat) berkomentar :
وَيْحَ هَذَا ، لَوْ كَانَ شَبَابُهُ وَ جَلَدُهُ فِىْ سَبِيْلِ اللهِ
Artinya : "Kasihan sekali ini pemuda, alangkah baiknya jika masa mudanya dan kekuatannya ia gunakan fi sabilillāh"

Maka Nabi saw. pun bersabda :
لاَ تَقُوْلُوْا هَذَا، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيَكُفَّهَا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَيُغْنِيْهَا عَنِ النَّاسِ فَهُوَ فِىْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَ إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ ضَعِيْفَيْنِ أَوْ ذُرِّيَّةٍ ضِعَافٍ لِيُغْنِيْهِمْ وَ يَكْفِيْهِمْ فَهُوَ فِىْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَ إِنْ كَانَ يَسْعَى تَفَاخُرًا وَتَكَاثُرًا فَهًوَ فِىْ سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ
Artinya : "Jangan kalian berkata seperti ini, karena jika ia bekerja untuk --menanggung-- dirinya, agar ia dapat menahan dirinya dari minta-minta dan mencukupinya dari --ketergantungan-- kepada manusia, maka ia dalam sabilillāh; dan jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang telah lemah atau anak-anak yang masih kecil, agar ia --dapat-- memenuhi dan mencukupi kebutuhan mereka, maka ia pun dalam sabilillāh. Akan tetapi, jika ia bekerja untuk mencari kemegahan dan menumpuk-numpuk harta, maka ia berada di jalan syaithān".

Sabda Nabi saw. :
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ يَتَّخِذُ الْمِهْنَةَ لِيَسْتَغْنِيَ بِهَا عَنِ النَّاسِ ، وَ يُبْغِضُ الْعَبْدَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ يَتَّخِذُهُ مِهْنَةً
Artinya : "Sesungguhnya Allāh sangat mencintai seorang hamba yang berusaha mendapatkan pekerjaan agar ia dapat mencukupkan --dirinya-- dengan pekerjaan itu dari ketergantungan kepada manusia, dan Allāh sangat benci terhadap seorang hamba yang mempelajari 'ilmu --agama-- untuk mempergunakan 'ilmu itu sebagai pekerjaan" (Maksudnya : Menggunakan 'ilmu agama untuk mencari uang).

Sabda Nabi saw. :
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْمُؤْ مِنَ الْمُحْتَرَفَ
Artinya : "Sesungguhnya Allāh sangat mencintai seorang mu'min yang bekerja keras --mencari nafkah--"

Sabda Nabi saw. :
أَحَلُّ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَ كُلِّ بَيْعِ مَبْرُوْرٍ
Artinya : "Sehalal-halal (sebaik-baik) apa yang dimakan seseorang adalah dari --hasil-- pekerjaannya, dan juga dari setiap jual-beli yang baik".

Sabda Nabi saw. dalam riwayat lain :
أَحَلُّ مَا أَكَلَ الْعَبْدُ كَسْبُ يَدِ الصَّانِعِ إِذَا نَصَحَ
Artinya : "Sehalal-halal (sebaik-baik) apa yang dimakan seseorang adalah dari hasil jerih payah tangannya yang berusaha, yaitu jika ia jujur --dalam berusaha--"

Sabda Nabi saw. :
عَلَيْكُمْ بِاتِّجَارَةِ، فَإِنَّ فِيْهَا تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِّزْقِ
Artinya : "Hendaklah kalian --berusaha-- dengan usaha dagang, karena didalamnya terdapat sembilan per-sepuluh rezeki" (Maksudnya : 90 % rezeki terdapat dalam perdagangan atau usaha dagang).

Diriwayatkan bahwa Nabi 'Isā' a.s. melihat seorang pria, lalu beliau bertanya kepadanya :
ما تصنع ؟ "
Artinya : "Apa yang sedang anda kerjakan..? :

Orang itu menjawab :
أَتَعَبُّدُ
Artinya : "Aku sedang melakukan 'ibadah”

Lalu Beliau bertanya lagi :
مَنْ تَعَوِّلُكَ
Artinya : "Siapa yang menanggung-mu” Orang itu menjawab :
أَخِيْ
Artinya : "Saudaraku”

Maka dengan tegas Nabi 'Isā' menjawab :
أَخُوْكَ أَعْبَدُ مِنْكَ
Artinya : "Saudara-mu --yang menjamin-mu itu-- lebih ber'badah daripada-mu"

Dan Nabi kita Muhammad saw. bersabda :
إِنِّى لاَ أَعْلَمُ شَيْئًا يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَ يُبْعِدُ كُمْ مِنَ النَّرِ إِلاَّ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَ إِنِّى لاَ أَعْلَمُ شَيْئًا يُبْعِدُ كُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ النَّرِ إِلاَّ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
Artinya : "Sesungguhnya tidak ada sesuatu-pun --ucapan dan perbuatan-- yang aku ketahui dapat mendekatkan kalian ke Surga dan menjauhkan kalian dari Neraka, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian --untuk melakukannya--. Dan tidak ada sesuatu pun --ucapan dan perbuatan-- yang aku ketahui dapat menjauhkan kalian dari Surga dan mendekatkan kalian pada Neraka, melainkan telah aku larang kalian --melakukannya--". (Maksudnya : Semua ucapan dan perbuatan yang baik menurut syari'at, yang dapat membuat kaum muslimin masuk Surga dan selamat dari Neraka, telah diajarkan dan diperintahkan oleh Nabi saw. untuk dilakukan, demikian pula sebaliknya). Lalu Nabi kita saw. melanjutkan sabdanya :
وَ إِنَّ الرُّوْحُ اْلأَمِيْنَ نَفَثَ فِىْ رَوْعِي : إِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تُسْتَوْفَى رِزْقُهَا وَ إِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوْا اللَّهَ وَأَجْمِلُوْا فِى الطَّلَبِ
Artinya : "Dan sesungguhnya Rūhul-Amīn (Jibrīl) berbisik dalam hati-ku : Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang menemui kematian melainkan disempurnakan rezekinya walaupun terlambat. Maka bertaqwalah kalian pada Allāh, dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari --rezeki--".

Dan Nabi kita saw. memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki --meski terlambat, yaitu telah berumur--, Beliau tidak berkata --kalau sudah terlambat (tua)-- : "Tinggalkanlah usaha mencari rezeki". Beliau saw. selanjutnya bersabda :
وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ شَيْءٌ مِنَ الرِّزْقِ عَلَى أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ بِمَعْصِيَتِهِ
Artinya : "Dan janganlah --karena-- terlambatnya sesuatu rezeki mendorong kalian untuk mendapatkannya dengan cara ma'shiyat kepada Allāh Ta'ālā. Karena Allāh --tidak membenarkan-- cara ma'shiyat untuk memperoleh --rezeki-- yang ada di sisi-Nya”.

Nabi saw. bersabda :
اْلأَ سْوَاقُ مَوَائِدَ اللَّهِ تَعَالَى فَمَنْ أَتَاهَا أَصَابَ مِنْهَا
Artinya : "Pasar-pasar adalah hidangan Allāh Ta'ālā, dan siapa-siapa yang mendatanginya, ia tentu mendapatkan bagian dari hidangan itu". (Maksudnya : Siapa-siapa yang datang ke pasar dalam rangka berusaha mencari rezeki, pasti ia akan mendapatkannya).

Nabi saw. bersabda :
لأَنْ يَأْخُذُ أَحَدُ كُمْ حِبَلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرً مِنْ أَنْ يَأْتِي رَجُلاً أَعْطَاهُ اللَّهُ مِنَ فَضْلِهِ فَيَسْأَلُهُ أَعْطَاُه أَوْ مَنَعَهُ
Artinya : "Niscaya jika salah seorang kalian mengambil tali miliknya, lalu ia --mengikat-- dan memikul kayu di punggungnya --pekerjaan-- itu jauh lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang diberi keistimewaan (kekayaan) oleh Allāh, lalu ia minta-minta kepadanya, yang kadang diberi atau tidak diberi".

Nabi saw. bersabda :
مَنْ فَتَحَ عَلَى نَفْسِهِ بَابًا مِنَ السُّؤَالِ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ الْفَقْرِ
Artinya : "Siapa-saja yang membuka satu pintu minta-minta bagi dirinya, maka Allāh akan membuka tujuh-puluh pintu kefaqiran untuknya".

Adapun atsar-atsar yang berkaitan dengan masalah ini, di antaranya ialah ucapan Lukmānul-Hakīm kepada puteranya:
يَا بَنَيَّ، اسْتَغءنِى بِالْكَسْبِ الْحَلاَلِ عَنْ الْفَقْرِ
Artinya : "Wahai anak-ku, carilah kekayaan dengan pekerjaan yang halal, --sehingga engkau selamat-- dari ke faqiran".

Lalu beliau berkata lagi :
فَإِنَّهُ مَا افْتَقَرَ أَحَدٌ قَطُّ إِلاَّ أَصَابَهُ ثَلاَثَ خِصَالٍ : رِقَةُ فِيْ دِيْنِهِ ، وَ ضَعْفُ فى عَقْلِهِ، وَ ذَهَبَ مُرُوْءَ تِهِ، وَأَعْظَمُ مِنْ هَذِهِ الثَّللاَثَ : اسْتِخْفَافُ النَّاسِ بِهِ
Artinya : "Karena sesungguhnya, tidak ada seorangpun menjadi faqir melainkan ia tertimpa tiga masalah : (1) Tipis Agamanya, (2) Lemah aqalnya dan (3) Hilang kehati-hatiannya. Dan masih ada lagi yang lebih besar dari ketiga itu : Manusia menganggap remeh padanya".

Dan 'Umar r.a. berkata :
لاَ يَقْعُدُ أَحَدُ كُمْ عَنْ طَلَبَ الرِّزْقِ ، يَقُوْلُ : اَللَّهُمَ ارْزُقْنِى، فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءِ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبَا وَلاَ فِضَّةً
Artinya : “Janganlah salah seorang dari kalian hanya duduk saja tidak mencari rezeki, lalu ia berdo'a : "Ya Allāh, berikanlah aku rezeki". Padahal kalian telah benar-benar mengetahui bahwa langit tidak pernah menurunkan emas dan tidak juga perak".

Disebutkan bahwa Zaid bin Maslamah bercocok tanam di kebunnya, maka 'Umar r.a. berkata padanya :
أَصَبْتَ، اسْتَغْنَ عَنِ النَّاسِ يَكُنْ أَسْوَنَ لِدِيْنِكَ، وَأَكْرَمَ لَكَ عَلَيْهِمْ كَمَا قَالَ صَاحِبَكُمْ أَحِيْحَةً : فَلَنْ أَزَالُ عَلَى الزَّوْرَاءِ أُغَمِرُهَا إِنَّ الْكَرِيْمَ عَلَى اْلإِخْوَانِ ذُوْ مَالٍ
Artinya : "Tepat sekali --tindakan-- engkau, cukupkanlah diri-mu --sehingga engkau bebas-- dari manusia, dan --kecukupan harta-- akan melindungi agama-mu dan memuliakan-mu di atas mereka, sebagaimana ucapan teman kalian dalam keadaan marah : "Aku tidak akan berhenti di atas busur melontarkan --panah-- dengannya". (Maksudnya : Aku tidak akan berhenti berusaha dengan segala kemampuan untuk memperoleh harta). "Sesungguhnya orang yang terhormat di antara sesama saudara ialah yang memiliki harta".

Dan Ibnu Mas'ūd r.a. berkata :
إِنِّى لآَ كْرَهُ أَنْ أَرَى الرَّجُلَ فَارِغًا لاَ فِى أَمْرِ دُنْيَاهُ، وَلاَ فِى أَمْرِ آخِرَتِهِ
Artinya : "Sesungguhnya aku sangat benci jika melihat seseorang yang kosong (menganggur) tidak melakukan urusan dunianya dan tidak juga melakukan urusan akhiratnya".

Dan Ibrāhīm pernah ditanya tentang mana yang lebih disukai, seorang pengusaha yang jujur atau seorang lain yang mengosongkan waktunya dengan ber'ibadah..?. Maka Ibrāhim pun menjawab :
التَّاجِرُ الصُّدُوْقُ أَحَبُّ إِلَىَّ، لآَ نَّهُ فِىْ جِهَادِ يَأْتِيْهِ الشَّيْطَانُ مِنْ طَرِيْقِ الْمِكْيَالِ وَالمِزَانِ وَمِنْ قِبَلِ اْلآَخْذِ وَالْعَطَاءِ فَيُجَاهِدُهُ
Artinya : "Pengusaha yang jujur lebih aku sukai, karena ia dalam keadaan berjihād, syaithān akan mendatanginya melalui jalan takaran dan timbangan dan juga ketika ia mengambil dan memberi, maka ia berjihād terhadapnya".

Namun Al-Hasan (Al-Bisrī) Menolak Pendapat ini, sedangkan 'Umar r.a. pernah berkata :
مَامِنْ مَوْضِعٍ يَأْتِيْنِى الْمَوْتُ فِيْهِ أَحَبُّ إِلَيَّي مِنْ مَوْطِنِ أَتَسَوَقُ فِيْهِ لآَهْلِي أُبَيِّعُ وَأَشْتَرِي
Artinya : "Tidak ada satu tempat pun yang lebih aku sukai untuk mati di dalamnya kecuali tempat (pasar) di mana aku melakukan usaha untuk keluarga-ku, yaitu menjual dan membeli" Dan Al-haitsam berkata :
رُبَّمَايَبْلُغُنِي عَنِ الرَّجُلِ يَقَعُ فِيَّ فَأَذْكُرُ اسْتِغْنَائِي عَنْهُ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَيَّ
Artinya : "Terkadang datang berita datang pada-ku, tentang seseorang yang mencela diri-ku, namun aku pun teringat bahwa aku tidak membutuhkannya, maka aku pun merasa ringan dengan hal itu"

Dan Ayyūb berkata :
كَسْبُ فِيْهِ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ سُؤَالِ النَّاسِ
Artinya : "Pekerjaan yang di dalamnya ada sesuatu lebih aku sukai daripada meminta-minta pada manusia"

Pada suatu hari angin bertiup dengan keras ditengah laut, maka nakhoda perahu bertanya kepada Ibrāhim bin Ad-ham yang ada di tengah-tengah mereka :
أَمَا تَرَى هَذِهِ الشِّدَهِ.. ؟
Artinya : "Apakah menurut-mu --angin ini-- berbahaya ?" Maka Ibrāhim Ad-ham menjawab :
مَا هَذِهِ الشِّدَةُ، وَإِنَّمَا الشِّدَةُ الْحَاجَةُ إِلَى النَّاسِ
Artinya : "Ini --angin-- tidak berbahaya, akan tetapi bahaya yang sesungguhnya adalah kebutuhan (ketergantungan) pada manusia".

Ayyūb berkata : Abu Qilābah pernah berkata pada-ku :
اْلزِمِ السُّوْقَ فَإِنَّ الْغِنَى مِنَ الْعَافِيَهِ، يَعْنِى الْغِنَى عَنِ النَّاسِ
Artinya : "Tetaplah --mencari rezeki-- di pasar, karena kecukupan --rezeki-- termasuk kesejahteraan yaitu kesejahteraan --yang membuat tidak terikat-- dengan manusia".

Al-Imām Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang duduk saja di rumanya atau di dalam masjid, yang ia –orang itu-- berkata : "Aku tidak akan mengerjakan sesuatu pun hingga rezeki-ku datang sendiri pada-ku". Maka Al-Imām Ahmad berkata :
هَذَا رَجُلٌ جَهِلَ الْعِلْمَ، أَمَا سَمِعَ قَوْلَ النَّبِى -ص- : اِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظُلَلِ رُمْحِي
Artinya : "Ini orang yang bodoh yang tidak mengerti 'ilmu, apakah ia tidak pernah mendengar ucapan Nabi saw. : "Sesungguhnya Allāh manjadikan rezeki-ku dibawah naungan tombak-ku". (maksudnya : Tombak adalah alat untuk berburu dan berperang, namun ia baru bisa mendapat hasil kalau digunakan, kalau tidak digunakan tidak akan menghasilkan apa-apa).

Dan Nabi saw., pernah bersabda ketika Beliau menceritakan tentang aktifitas burung-burung :
تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
Artinya : "Mereka (burung-burung) berangkat diwaktu pagi dalam keadaa lapar, dan pulang diwaktu sore dalam keadaan kenyang".

Beliau saw. menyebutkan bahwa burung-burung itu berangkat diwaktu pagi hari dalam rangka mencari rezeki, dan seperti itulah para shahabat Rasūlullāh saw., diantara mereka ada yang berdagang mengarungi daratan dan menyeberangi lautan dan ada juga yang mengolah kebun-kebun kurma; dan merekalah panutan. Abū Qilābah pernah berkata pada seseorang :
لآَنْ أَرَاكَ تَطْلُبُ مَعَاشِكَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَرَاكَ فِي زَاوِيَةِ الْمَسْجِدِ
Artinya : "Seandainya aku melihat-mu mencari penghidupan (rezeki) lebih aku sukai daripada melihat-mu --duduk-- di serambi masjid".

Diriwayatkan bahwa Al-Auzā'i bertemu dengan Ibrāhim bin Ad-ham (rahimahullāh). Dan di tengkuk Ibrahīm ada seikat kayu bakar, maka berkata Al-Auzā'i kepadanya :
يَا اَبَا إِسْحَاقَ إِلَي مَتَى هَذَا..؟ إِخْوَانُكَ يَكْفُوْنَكَ
Artinya : "Wahai Abā Ishāq (panggilan Ibrāhim bin Ad-ham), sampai kapan engkau bekerja seperti ini..?. Padahal saudara-saudaramu telah mencukupi --kebutuhan-mu--".

Maka Ibrāhim Ad-ham pun menjawab :
دَ عْنِيْ عَنْ هَذَا يَا أَبَا عَمْرٍ، فَإِنَّهُ بَلَغَنِيْ أَنَّهُ مَنْ وَقَفَ مَوْقِفَ مَذْلَةً فِيْ طَلَبِ الْحَلاَلِ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
Artinya : "Biarkanlah aku seperti ini wahai Abā 'Amr (panggilan Al-Auzā'i), sesungguhnya telah sampai kepada-ku sebuah berita --yang menyatakan-- bahwa siapa saja yang berdiri di tempat yang rendah (hina) dalam rangka mencari rezeki yang halal, maka wajiblah ia mendapat Surga".

Dan Abū Sulaimān Ad-Dārānī berkata :
َلْيَسَتِ الْعِبَادَةُ عِنْدَنَا أَنْ تَصُفَّ قَدَمَيْكَ وَ غَيْرُكَ يَقُوْتُ لَكَ، وَلَكِنْ إِبْدَأْ بِرَغِفَيْكَ فَأَحْرِزْهُمَاثُمَّ تَعَبَّدْ
Artinya : "Bukanlah 'ibadah menurut kami, jika engkau menegakkan kedua telapak kaki-mu --melakukan shalat--, sedangkan orang selain-mu memberi makan pada-mu, akan tetapi mulailah dengan dua buah roti milik-mu --sebagai bekal--, simpanlah keduanya dan beribadahlah".

Berkata Mu'ādz bin Jabal r.a. :
يُنَادَ مُنَادِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : أَيْنَ بُغَضَاءِ اللَّهِ..؟ فَيَقُوْمُ سُؤَالُ الْمَسَجِدِ، فَهَذِهِ مُذَمَّةُ الشَّرْعِ لِلسُّؤَالِ وَاْلإِتِّكَالِ عَلَى كَفَايَةِ اْلآَغْيَارِ، وَ مَنْ لَيْسَ لَهُ مَالٌ مَوْرُوْثٌ فَلاَ يَنْجِيْهِ مِنْ ذَلِكَ إِلاَّ الْكَسْبُ وَالتِّجَارَةُ
Artinya : "Akan menyeru seorang penyeru pada hari qiyamat :"Dimana orang-orang yang dibenci Allāh ?". Maka berdirilah para pengemis --yang suka minta-minta-- di masjid-masjid. Ini adalah perbuatan yang dicela oleh syari'at, yaitu suka mengemis dan pasarh saja kepada pemberian orang lain. Dan siapa saja yang tidak memiliki harta waris, maka tidak ada yang menyelamatkannya dari --perbuatan-- itu, kecuali bekerja dan berniaga". (dinuqil dari kitab Ihyā 'Ulūmud-Dīn karya Al-Imām Ghazālī (rahimahullāh) hal 383 - 386).

Tambahan :

Bekerja mencari nafqah adalah proses atau melakukan sebuah proses untuk mendapatkan hasil, dan melakukan sebuah proses merupakan kewajiban manusia, sedangkan hasil dari proses tersebut merupakan urusan Allāh SWT. Islām mengajarkan bahwa melakukan proses atau usaha mencari nafqah merupakan jihād sebagaimana sabda Rasūlullāh saw. :
مَنْ سَعَى عَلَي وَالِدَيْهِ فَفِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَ مَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَ مَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيَعِفَّهَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ، وَمَنْ سَعَى مُكَاثِرًا فَفِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ : سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ
Artinya : "Siapa saja yang bekerja --mencari nafqah dengan tujuan-- untuk kedua orang tuanya, maka ia berada dalam sabīlillāh; dan siapa saja yang bekerja untuk keluarganya, maka ia berada dalam sabīlillāh; dan siapa saja yang bekerja untuk dirinya,agar memelihara dirinya --dari meminta-minta pada manusia--, maka ia dalam sabīlillāh. Akan tetapi siapa-siapa yang bekerja --dengan tujuan-- untuk bersaing (bermegah-megahan), maka ia di jalan Thāghut. Dalam riwayat hadits yang lain :"Orang itu di jalan Syaithān" (H.R. Al-Bazzār, Abu Nu'aim, Al-Ashbahānī dan Al-Baihaqī. Lihat Al-Ahāditsush-Shahīhah oleh Syaikh Al-Albānī, jilid V no. 2232, hal. 272).

Dan seorang muslim diharuskan melakukan usaha atau bekerja sebagai sebuah proses mencari nafqah selama ia mampu melakukannya, dalam keadaan atau situasi yang bagaimana pun juga. Rasūlullāh saw. telah bersabda mengenai hal ini :
وَ إِنْ قَامَّتِ السَّاعَةُ وَ فِىْ يَدِ أَحَدِ كُمْ فَسِيْلَةُ، فَإِنِ اسْتَطَعَ أَنْ لاَ يَقُوْمُ حَتَّى يَغْرِسْهَا فَلْيَغْرِسْهَا
Artinya : "Seandainya qiyāmat terjadi, namun di tangan salah seorang kalian ada cangkokan (anak pohon kurma), maka jika ia mampu --menanamnya-- sebelum berdiri, hendaklah ia menanamnya". (H.R. Ahmad, lihat Lihat Al-Ahāditsush-Shahīhah oleh Syaikh Al-Albānī, jilid I no. 9, hal. 11).

Kedua hadits ini cukup menjadi bukti (dalīl) bahwa Islām sangat memuliakan pekerjaan atau usaha yang baik, yang dilakukan secara maksimal. (Wallāhu A’lam).

 
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8