I. Para Rasul dan Nabi Adalah Manusia Biasa
Keadaan fisik para Rasul dan Nabi sebagai manusia biasa seperti layaknya manusia lainnya ditegaskan dalam firman Allâh SWT :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَا اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَاحِدٌ، فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ اللَّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya : Katakanlah (ya Muhammad) : “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepada-ku : “Bahwa sesungguhnya Ilâh (sesembahan) kalian itu adalah Ilâh Yang Esa”. Maka barang-siapa yang berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal yang shalih, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam ber’ibadah kepada Rabb-nya”. (Q.S. Al-Kahfi (18) : 110).

Ibnu Fâris mengatakan makna kata “Basyar” ( بَشَرٌ ) dari segi bahasa (lughat) adalah :
ظَهُوْرُ الشَيْءٍ مَعَ حُسْنِ وَ جَمَلٍ
Artinya : ”Bagian luar (lahiriyah) sesuatu beserta kebaikan dan keindahannya”

Selanjutnya Ibnu Fâris mengatakan :
فَالْبَشَرَةٌ ظَاهِرُ جِلْدِ الإِنْسَانِ، وَ سُمِّيَ الْبَشَرُ بَشَرًا لِظُهُوْرِهِمْ
Artinya : ”Kalau Basyarah –dengan penambahan ta’ marbuthah ةٌ —artinya :”kulit –bagian— luar manusia”; dan manusia disebut ”Basyar” karena penampilan luar (lahiriyah) mareka” (lihat Nadhratan-Na’îm, juz III hal. 780).

Jadi, ayat diatas menegaskan bahwa para Rasul secara lahiriyah tidak berbeda dengan manusia lain pada umumnya, sebagaimana yang akan dibahas dalam makalah ini. Namun demikian, mereka (para Rasul) adalah manusia pilihan yang dipilih Allâh berdasarkan hak-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya kepada ummat manusia, yaitu agar manusia ber’ibadah hanya kepada Allâh, sebagaimana firman-Nya :
وََلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) :”Ber’ibadahlah hanya kepada Allâh (saja), dan jauhilah Thâghűt”. (Q.S. An-Nahl (16) : 36).

Al-Imâm Al-Qurthubî telah memberikan keterangan yang sangat jelas dalam masalah ini, beliau berkata :
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَجْرَى سُنَّتَهُ وَأَنْفَذَ كَلِمَتَهُ بِأَنَّ أَحْكَامَهُ لاَتُعْلَمُ إِلاَّ بِوَاسِطَةِ رُسُلِهِ السَّفَِرَاءِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ المُبَيِّنِيْنَ لِشَرَائِعِهِ وَأَحْكَامِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : اَللَّهُ يَصْطَفَى مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رَسُلاً وَمِنَ النَّاسِ
Artinya : Sesungguhnya Allâh telah menjalankan aturan (sunnah)-Nya dan memberlakukan keputusan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak bisa diketahui kecuali dengan perantaraan para rasul-Nya, --yang menjadi— duta-duta di antara-Nya dan di antara makhluq-Nya, merekalah yang menjelaskan hukum-hukum-Nya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya) :”Allâh memilih utusan dari para malaikat dan –juga—dari manusia”. (Q.S. Al-Hajj (22) : 75).

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa hanya Allâh yang berhak menentukan pilihan atau memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk menjadi utusan atau rasul. Selanjutnya Al-Imâm Al-Qurthubî berkata lagi :
وَقَالَ )اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالاَتَهُ ( وَأَمَرَ بِطَاعَتِهِمْ فِى كُلِّ مَا جَاءُو بِهِ ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِمْ وَالتَّمَسُّكِ بِمَا أَمَرَوا بِهِ فَإِنَّ فِيْهِ الهُدَى
Artinya : Dan Allâh berfirman (yang artinya) :”Allâh lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan” (Q.S. Al-An-‘âm (6) : 124). Dan Dia juga memerintahkan –manusia— untuk mentaati mereka (para utusan) yaitu terhadap apa saja yang mereka datangkan, dan Allâh juga mendorong –manusia—untuk mengikuti dan berpegang teguh dengan apa saja yang mereka perintahkan, karena didalamnya ada hidayah (petunjuk).

Ayat ini menyebutkan alasan mengapa Allâh yang paling berhak memilih siapa yang dikehendaki-Nya, untuk menjadi rasul (utusan), yaitu karena Dia yang paling tahu siapa yang paling pantas untuk menunaikan tugas kerasulan itu. Lalu Al-Imâm Al-Qurthubî mengakhiri ucapannya :
فَمَنِ ادَّعَى أَنَّ هُنَاكَ طَرِيْقَا أُخْرَى يُعْرَفُ بِهَا أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ غَيْرَ الطُّرُقِ اَلَّتِى جَاءَتْ بِهَا الرُّسُلُ يَسْتَغْنِى بِهَا عَنِ الرَّسُوْلِ فَهُوَ كَافِرٌ يُقْتَلُ وَلاَ يُسْتَتَابُ
Artinya : ”Maka barang-siapa menyatakan bahwa disitu masih ada jalan lain yang –dengan jalan itu—dapat diketahui perintah dan larangan Allâh selain melalui jalan para rasul, dan dengan jalan itu dia tidak membutuhkan seorang rasul pun juga, maka ia termasuk orang kafir yang harus dijatuhi hukuman mati tanpa perlu disuruh bertaubat”. (lihat Al-Fathul Bârî, juz I hal. 221).

a. Para Rasul dan Nabi Adalah Laki-laki Dan Butuh Makan Juga.

Sebagaimana firman Allâh SWT :
وَمَا اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً يُوْحَى إِلَيْهِمْ فَسْئَلُوْا أَهْلِ الذِّ كْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ (7) وَمَا جَعَلْنَا هُمْ جَسَدًا لاَ يَأْ كُلُوْنَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوْا خَالِدِيْنَ(8)
Artinya : “Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui (7). Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para rasul) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak pula mereka itu orang yang kekal (8)”. (Q.S. Al-Anbiyâ (22) : 7 – 8).


b. Para Rasul dan Nabi beristeri (menikah) dan Memiliki Keturunan Dan Tidak Bisa Mendatangkan Mu’jizat Kecuali Dengan Idzin Allâh :

Sebagaimana Firman Allâh SWT :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَهً وَمَاكَانَ لِرَسُوْلٍ أَنْ يَأْتِي بِئَايَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami memberikan pada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu’jizat) melainkan dengan idzin Allâh. Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu). (Q.S. Ar-Ra’ad (13) : 38).

Maksudnya : Bagi tiap-tiap rasul itu ada Kitabnya yang sesuai dengan kebutuhan masanya.

Dan didalam ayat ini juga ditegaskan bahwa tidak ada seorang Rasul-pun yang mampu mendatangkan atau memperlihatkan mu’jizat kecuali dengan idzin Allâh, berbeda halnya dengan para tukang sihir atau sulap yang setiap saat mampu memperlihatkan keajaiban melalui tipuan mata dan cara-cara syaithâniyah lainnya.

c. Para Rasul dan Nabi Berperang dan Bersikap Teguh Dalam Berperang.

Sebagaimana firman Allâh SWT :
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَتَلَ مَعَهُ رِبِّيُوْنَ كَثِيْرٌ فَمَا وَهَنُوْا لِمَا أَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا وَاللَّهُ يُحِبُ الصَّابِرِيْنَ
Artinya : Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut-pengikutnya yang yang bertaqwâ. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allâh, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada) musuh. Allâh menyukai orang-orang yang bersabar. (Q.S. Ali ‘Imran (3) : 146).

d. Banyak Dari Para Nabi Yang Mati Dibunuh.

Pembunuhan terhadap para Nabi terutama sekali dilakukan oleh Bani Isrâ-il, sebagaimana disebutkan beberapa ayat dalam Al-Qur-ân, seperti dalam surah An-Nisâ’ ayat 155 (Q.S. 4 : 155) :
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيْثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِئَايَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ ألاْءَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَق
Artinya : “Maka (kami lakukan pada mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian, dan karena kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allâh, dan mereka membunuh para nabi-nabi tanpa alasan yang benar…”.

Dan juga dalam surah Al-Baqarah ayat 91 (Q.S. 2 : 91); yang merupakan perintah Allâh kepada Nabi kita, Muhammad saw, untuk bertanya kepada mereka (Banî Isrâ-îl) yang mengaku beriman kepada kitab yang diturunkan pada mereka :
قُلْ فَلِمَا تَقْتَلُوْنَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْ مِنِيْنَ
Artinya : Katakanlah (Muhammad) :”Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allâh jika kalian orang-orang yang berimân..?”.

e. Para Rasul dan Nabi Juga Dihinggapi Rasa Takut :

Sebagaimana dialami oleh nabi Ibrâhim a.s. ketika kedatangan serombongan tamu, yaitu para malaikat yang menyamar sebagai manusia. Al-Qur-ân telah menyebutkan peristiwa ini dalam surah Hűd ayat 70 (Q.S. 11 : 70) :
فَلَمَّا رَاَى أَيْدِيَهُمْ لاَ تَصِلِّ إِلَيْهِ نَكِرَ هُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً
Artinya : “Maka tatkala ia (Ibrâhim a.s.) melihat tangan mereka tidak menyentuhnya (makanan) –yang disuguhkannya—ia memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka...”.

Demikian juga halnya dengan nabi Műsâ a.s., disebutkan dalam Al-Qur-ân bahwa beliau pernah mengalami rasa takut sebanyak (4) empat kali :

Pertama : Ketika beliau lari meninggalkan kota tempat tinggal beliau karena menghindar dari kejaran pembesar-pembesar Fir’aun; sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 28 (Q.S. 28 : 28) :
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَبْ، قَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ
Artinya : Maka keluarlah Műsâ dari kota itu, dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, ia berdo’a : ”Ya Rabb-ku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu”.

Kedua : ketika beliau pertama kali melihat tongkatnya berubah menjadi ular; sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 31 (Q.S. 28 : 31) :
وَأَنْ أَلْقَ عَصَاكَ، فَلَمَّا رَأَى هَا تَهَتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ، يَامُوْسَى أَقْبِلْ وَلاَ تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ أْلأَمِنِيْنَ
Artinya : (Allâh berfirman) : Dan lemparkanlah tongkat-mu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Műsâ melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia ular yang gesit, larilah ia berbalik kebelakang tanpa menoleh. (Kemudian Allâh memanggilnya) : ”Hai Műsâ datanglah kepada-Ku dan janganlah engkau takut. Sesungguhnya engkau termasuk orantg-orang yang aman”.

Ketiga : Ketika Allâh memerintahkan beliau menemui Fir’aun untuk menyampaikan ayat-ayat Allâh dan berda’wah kepadanya agar beribadah kepada Allâh, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qashash ayat 33 (Q.S. 28 : 33) :
قَالَ رَبِّ اِنِّى قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخًافُ أَنْ يَقْتُلُوْنِ
Artinya : Műsâ berkata : “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku pernah membunuh seorang manusia dari kalangan mereka, maka aku takut mereka (Fir’aun dan para pembesarnya) akan membunuh-ku”.

Keempat : Ketika awal pertarungan beliau dengan para tukang sihir Fir’aun, sebagaimana disebutkan dalam surah Thaha ayat 66 dan 67 (Q.S. 20 : 66-67) :
قَالَ بَلْ أَلْقُوْا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَ عَصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66) فَأَوْجَسَ فِىْ نَفْسِهِ خِيْفَهً مُوْسَى (67)
Artinya : Műsâ berkata –kepada mereka-- :”Silahkan kalian semua melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, dikhayalkan kepada Műsâ melalui –kekuatan—sihir mereka seakan-akan merayap cepat. Maka Műsâ merasa takut dalam hatinya.

f. Para Rasul dan Nabi Juga Merasa Marah dan Sedih :

Namun, kemarahan para Nabi bukan disebabkan oleh masalah pribadi, akan tetapi karena perbuatan ummat yang melanggar haq Allâh. Sebagaimana reaksi yang diperlihatkan oleh nabi Műsâ a.s. terhadap kaumnya ketika beliau melihat mereka menyembah patung anak sapi. Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur-ân surah Al-A’râf :
وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْ بَعْدِى أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى أَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيْهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ
Artinya : Dan ketika Műsâ kembali kepada kaumnya dengan sangat marah dan sedih hati, ia berkata :”Alangkah buruknya perbuatan yang kalian lakukan sesudah kepergian-ku !. Apakah kalian hendak mendahului janji Rabb kalian ?”. Dan Műsâ pun membanting luh-luh (Taurat) itu, dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Hârűn) sambil menariknya kearahnya. (Q.S. Al-A’râf (7) : 150) :

Penyebutan kata Ghadhbân (غَضْبَانَ ) dalam ayat ini adalah “Lilmubâlaghah”, yaitu menunjukan kemarahan yang luar biasa, lalu dilanjutkan dengan membanting luh-luh, yaitu papan-papan yang memuat tulisan kitab Taurat dan menarik atau menjambak rambut saudaranya. Ini merupakan ungkapan kemarahan yang sangat.

Demikian pula halnya Nabi Yűnus a.s. sebagaimana diceritakan dalam surah Al-Anbiyâ’ :
وَذَاالنُّوْنِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِى الظُّلُمَاتِ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ (87) فَاسْتَجَبنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ (88)
Artinya : Dan ingatlah (kisah) Dzân-Nűn (nabi Yűnus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap :”Bahwa tidak ada Ilâh (Sesembahan yang berhak disembah) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim”. Maka Kami memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang berimân. (Q.S. Al-Anbiyâ’ (21) : 87 – 88) :

Berikut ini adalah reaksi kemarahan yang lain lagi, yaitu reaksi Nabi Yűnus a.s. yang berda’wah mengajak kaumnya ber’ibadah kepada Allâh, akan tetapi kaumnya menolak da’wahnya sehingga beliau marah dan pergi meninggalkan kaumnya. Karena peristiwa itu Allâh menasehati Rasűlullâh saw. dalam surah Al-Qalam ayat 48 (Q.S. 68 : 48) :
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِ إِذْ نَادَى وَ هُوَ مَكْظُوْمِ
Artinya : “Bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Rabb-mu, dan janganlah engkau seperti orang (Yűnus) yang ada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”.

‘A-isyah (radhiyallâhu ‘anhâ) berkata :
مَاانْتَقَمَ رَسُوْلُ اللَّهِ -ص- لِنَفْسِهِ إِلاَّ أَنْ تُنْهَكَ حُرْمَهً اللَّهِ فَيَنْتَقَمَ لِلَّهِ بِهَ
Artinya : ”Rasűlullâh saw. Tidak pernah memberikan sanksi yang keras (menyiksa) karena –kemarahan— dirinya, akan tetapi jika kehormatan Allâh dilanggar, maka Beliau akan memberikan sanksi yang keras, semata-mata karena Allâh”. (H.R. Al-Bukhârî Juz IV hal. 230).

g. Para Rasul dan Nabi Adalah Manusia Mulia dan Memiliki Derajat Yang Luhur :

Masih banyak lagi ayat Al-Qur-ân yang menunjukan bahwa para nabi atau rasul itu adalah manusia biasa, namun mereka adalah manusia yang istimewa (utama), ma’shum (terpelihara dari segala yang tercela) serta sempurna keimânannya dan akhlaqnya, sebagaimana firman Allâh SWT :
أُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ مِنْ دُرِّيَّهِ ءَادَمَ
Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allâh, yaitu para nabi dari keturunan Adam. (Q.S Maryam (19) : 58).

Al-Imâm Ibnu Katsîr telah memberikan keterangan yang baik sekali tentang pribadi mereka, beliau berkata :
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَلَى جَعَلَ لَهُمْ مِنَ السَّمَاتِ الْحَسَنَةِ وَ الصِّفَاتِ الْجَمِيْلَةِ وَاْلآَقْوَالِ الْفَضِيْلَةِ وَالْخَوَارِقُ الْبَاهِرَةِ وَاْلآَدِلَّةِ الظَّاهِرَةِ مَايَسْتَدِلُ بِهِ كُلُّ ذِي لَبٍّ سَلِيْمٍ وَبَصِيْرَةٌ مُسْتَقِيْمَةٌ عَلَى صِدْقِ مَا جَاءُوْ بِهِ مِنَ اللَّهِ
Artinya : Sesungguhnya Allâh Ta’âlâ telah menjadikan kepribadian yang baik pada diri mereka, shifat-shifat yang sempurna, perkataan yang mulia, mu’jizat yang terang dan bukti-bukti yang jelas, yang menjadi dalil (fakta) bagi orang yang memiliki akal yang jernih, hati yang lurus, bahwa apa yang mereka sampaikan dari Allâh adalah benar”. (Lihat tafsir Ibnu Katsîr juz III hal. 133).

Demikian penjelasan Al-Imâm Ibnu Katsîr tentang kepribadian para nabi atau rasul utusan Allâh. (Wallâhu A’lam).

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8