Syarat-Syarat Memperoleh Hasanah Fīl- Ākhirat
Syarat Kelima :
Meninggalkan Perkara Haram Dan Syubhat

"Syubhat" artinya "sesuatu yang samar-samar", yaitu yang tidak jelas halal dan haramnya, sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hati.

Rasūlullāh saw telah bersabda mengenai hal ini:
الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَ الْحَرَمُ بَيِّنٌ ، وَ مَا بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَنَ أَتْرَكَ وَ مَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ أَوْشَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَنَ وَ الْمَعَاصِي حِمَى اللَّهُ مَنْ يَرْتَعَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
Artinya:
"Yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara kedua hal itu terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar). Maka siapa-saja yang meninggalkan perkara yang disamarkan (syubhat) baginya karena takut dosa, akan mudahlah baginya meninggalkan perkara yang jelas -- mengandung dosa --. Dan siapa-saja yang berani menerjang perkara yang meragukan tentang dosa -- dan tidaknya --, maka sangat mungkin jika ia terjerumus dalam perkara yang jelas -- mengandung dosa --. Dan perbuatan maksiat itu larangan Allāh, dan siapa-saja yang berputar di sekitar larangan, maka mungkin sekali jika ia melanggarnya".
(H.R. Al-Bukhārī juz III hal. 70)

Hadits ini menegaskan, bahwa siapa-saja yang dapat meninggalkan perkara-perkara yang syubhat (samar), akan mudahlah baginya untuk meninggalkan perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan mengandung dosa, demikian pula sebaliknya; siapa-saja yang berani melakukan perkara-perkara yang syubhat, maka akan mudahlah baginya untuk terjerumus dalam perkara-perkara yang haram dan mengandung dosa. Oleh karena itu Rasūlullāh saw memerintahkan umatnya untuk meninggalkan semua perkara yang meragukan, sebagaimana sabda Beliau saw:
دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يُرِيْبُكَ
Artinya:
"Tinggalkanlah apa saja yang meragukan-mu kepada apa saja yang tidak meragukan-mu".
(H.R. Ahmad, An-Nasa-ī , Ath-Thabrānī dan Al-Khathīb. Al-Fathul-Kabīr juz II no. : 3372)

Maksudnya, segala perkara yang syubhat atau meragukan tinggalkan, dan pilihlah perkara yang tidak meragukan.

Banyak di antara kaum Muslimīn dewasa ini yang beranggapan, bahwa berfikir tentang kehidupan akhirat dan usaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sebagai suatu kemunduran di abad 21 ini. Bahkan banyak di antara mereka yang menganggap remeh persoalan akhirat.

Sikap dan pandangan semacam ini timbul akibat kebodohan dan kepicikan mereka terhadapa hakikat ajaran Islām, dan juga kecintaan yang berlebihan terhadap keduniaan atau kebendaan (materi), sehingga cita-cita atau keinginan mereka hanya terpaut pada kehidupan atau kesenangan dunia semata, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaikh Abūl-Hasan An-Nadawī (rahimahullāh): "Penyakit terparah yang sedang diderita Dunia Islām dewasa ini ialah merasa tenang, tenteram dan puas dengan kehidupan duniawi. Tidak perduli terhadap keadaan yang serba rusak, tenang, tenteram berlebihan, sehingga hatinya tidak merasa cemas melihat kerusakan, tidak terkejut melihat penyelewengan, tidak gelisah menyaksikan kemungkaran, seolah-olah tidak ada lagi yang perlu diperhatikan selain sandang-pangan".

Padahal Rasūlullāh saw telah menyebutkan kondisi orang yang keinginan hatinya hanya terpaut pada kesenangan dunia, Beliau saw bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَ جَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَ لَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ
Artinya:
"Siapa-saja yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allāh akan membuat berantakan persoalannya, dan menjadikan kefaqiran di depan kedua matanya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali -- sekedar -- apa yang ditentukan baginya...".
(H.R. Ibnu Mājah juz II hal. 1375 no. : 4105)

Hadits ini menyebutkan 3 (tiga) hal yang menimpa orang-orang yang cita-cita atau keinginan hatinya hanya terpaut kepada kesenangan dunia:

1. Persoalan hidupnya akan berantakan tidak keruan, belum selesai satu persoalan datang lagi persoalan yang lain, begitu seterusnya sampai ia meninggalkan dunia.

2. Kefaqiran, yaitu perasaan kekurangan akan selalu hadir di depan kedua matanya, yaitu ketika ia melihat berbagai macam benda yang ingin dimilikinya, sehingga ia menjadi begitu konsumtif, tidak pernah merasa puas.

3. Kebahagiaan atau kesenangan dunia tidak bisa dinikmatinya melainkan hanya sedikit. Maksudnya, hidupnya terasa sempit meskipun ia memiliki banyak harta dan berbagai macam materi.

Dalam hadits yang lain Rasūlullāh saw bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَ إِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَ انْتُكِسَ وَ إِذَا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ
Artinya:
"Celakalah budak dīnār, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamīshah (pakaian mewah yang terbuat dari sutera dan bulu), celakalah budak al-khamīlah (pakaian mewah yang terbuat dari beludru), jika ia diberi (sesuatu) ia merasa senang, tetapi jika tidak diberi ia marah. Celakalah ia dan tersungkur, dan jika ia tertusuk duri maka tidak bisa dicabut".
(H.R. Al-Bukhārī)

Dīnār dan dirham adalah mata uang yang terbuat dari emas dan perak yang digunakan di Timur-Tengah.

Yang dimaksud budak dīnār dan dirham ialah orang yang hati dan perasaannya sudah dikuasai oleh uang.

Adapun yang dimaksud budak al-khamīshah (pakaian mewah yang terbuat dari sutera dan bulu) dan budak al-khamīlah (pakaian mewah yang terbuat dari beludru) ialah orang yang bekerja mati-matian untuk memperoleh pakaian-pakaian mewah tersebut, karena ia sangat mementingkan penampilan lahiriyah serta ingin menarik perhatian dengan pakaian-pakaian tersbut.

Sifat orang seperti ini, bila diberi (sesuatu) ia merasa senang, dan bila tidak diberi ia marah. Artinya, rasa senang dan marahnya terhadap orang lain bergantung pada pemberian, atau dengan kata-lain kondisi emosionalnya sangat bergantung kepada materi. Inilah orang yang materialistis.

Orang semacam ini, bila tertusuk duri, ia tidak bisa mencabutnya. Maksudnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari problem yang kecil sekalipun.

Asy-Syaikhul-Islām Ibnu Taymiyyah (rahimahullāh) memberikan komentar yang sangat tegas ketika menjelaskan hadist ini, beliau berkata: "Seperti inilah kondisi budak harta, apabila diberi (sesuatu) ia bersuka ria, dan jika tidak diberi ia murka. Dan apabila ditimpa suatu keburukan, ia tidak bisa keluar (melepaskan diri) dari keburukan itu dan tidak akan selamat, karena ia celaka dan tersungkur. Oleh karena itu, ia tidak dapat mencapai apa yang ia cari dan tidak dapat lolos dari apa yang tidak disukainya".

Seperti inilah kondisi kejiwaan orang yang meremehkan kehidupan akhirat dan terobsesi pada kehidupan dunia, kehidupan mereka terasa sesak dan sempit, sebagaimana firman Allāh:
وَ مَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا
Artinya:
"Dan siapa-saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit".
(Surah Thāhā (20) ayat 124)

Penghidupan yang sempit dalam ayat ini menurut Ibnu 'Abbās r.a. ialah:
ضَنْكًا فِي الدُّنْيَا فَلاَ طُمَأْنِيْنَةَ لَهُ وَ لاَ إِنشَرَاحَ لِصَدْرِهِ بَلْ صَدْرُهُ ضَيٍّقٌ حَرَجٌ لِضُلاَلِهِ وَ إِنْ تَنَعَّمَ ظَاهِرُهُ وَ لَبِسَ مَا شَاءَ وَ سَكَنَ حَيْثُ شَاءَ فَإِنَّ قَلْبَهُ مَا لَمْ يُخْلِصْ إِلَى الْيَقِيْنِ وَ الْهُدَى فَهُوِ فِي قُلْقَلٍ وَ حَيْرَةٍ وَ شَكٍّّ فَلاَ يَزَالُ فِي رِيْبَةٍ يِتَرَدَّدُ فَهَذَا مِنْ ضَنْكِ الْمَعِيْشَةِ
Artinya:
"Kesempitan di dunia, yaitu tidak ada ketenteraman dan tidak ada kelapangan di hatinya, bahkan hatinya terasa sempit, sesak karena kesesatannya. Meskipun lahiriyahnya ia hidup mewah, dapat memakai pakaian yang ia inginkan, menyantap makanan yang ia inginkan dan tinggal di tempat yang ia inginkan. Akan tetapi selama hatinya tidak ikhlās -- memilih -- keimanan dan hidayah -- Allāh --, maka ia berada dalam kelabilan, kebingungan dan keraguan. Sehingga ia akan selalu dalam kebimbangan yang terus silih berganti. Dan inilah yang disebut penghidupan yang sempit".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz III hal. 168)

Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullāh) telah memberi komentar yang baik sekali mengenai masalah ini:
"Kehidupan yang sempit ialah kehidupan yang putus hubungan dengan Allāh dan dengan rahmat-Nya yang luas meskipun tampak enak dan menyenangkan, tetapi sebenarnya kehidupan itu sempit, terbenam ke dasar, tidak tersambung kepada Allāh dan tidak mendapatkan rasa aman dengan perlindungan-Nya. Sempit, membuat bingung, labil dan bimbang. Terasa sesak karena perasaan loba dan kuatir; yaitu loba terhadap harta yang dimiliki dan kuatir lenyapnya. Rasa sempit yang berjalan di balik ketamakan dan penyesalan terhadap segala sesuatu yang lepas atau hilang. Sesungguhnya hati tidak akan dapat merasakan ketenteraman yang mantap melainkan di bawah lindungan Allāh, dan juga tidak bisa merasakan kesenangan yang hakiki melainkan jika ia berpegang teguh pada tali -- Allāh -- yang kuat, yang tidak akan terputus. Sesungguhnya ketenteraman yang dihasilkan oleh imān yang kuat akan membuat hidup menjadi lebih panjang, lapang, dalam dan luas. Sedangkan lenyapnya imān merupakan kemalangan yang tak dapat dibandingkan dengan kemiskinan sekalipun".
(Lihat Fī Zhilālil-Qur-ān juz V hal 503)

Masuk Sorga Selamat Dari Neraka
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَ إِنَّمَا تًوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَ مَنْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya:
"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari qiyamat (ākhirat) sajalah disempurnakan pahala kalian. Maka siapa-saja yang dijauhkan dari Neraka, dan dimasukkan ke dalam Sorga, maka sungguhlah ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan".
(Surah Āli 'Imrān (3) ayat 185)

Al-Qur-ān banyak sekali membicarakan tentang Sorga sebagai puncak kenikmatan dan kebahagiaan di ākhirat, sedangkan kenikmatan hidup di dunia amatlah sedikit jika dibandingkan dengan kenikmatan hidup di ākhirat yang serba sempurna dan kekal, sebagaimana firman Allāh:
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ
Artinya:
"Maka tidak ada kesenangan hidup di dunia bila dibanding dengan (kesenangan) di ākhirat melainkan sedikit".
(Surah At-Taubah (9) ayat 38)

Dalam ayat yang lain Allāh berfirman:
قُلْ مَتَاٌع قَلِيْلٌ وَ اْ{لآخِرَةُ خَيْرٌ وَ أَبْقَى
Artinya:
Katakan (Muhammad): "Kesenangan dunia itu hanya sedikit, sedangkan ākhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwā ".
(Surah An-Nisā' (4) ayat 77)

Rasūlullāh saw bersabda:
مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ
Artinya:
"Tidak ada perumpamaan dunia bila dibanding dengan ākhirat kecuali seperti salah seorang kalian mencelupkan telunjuknya ke dalam laut, lalu hendaklah ia melihat dengan apa yang kembali".
(H.R. Ibnu Mājah juz II hal 1376)

Maksud hadits ini ialah: Apabila seseorang dari kalian mencelupkan telunjuknya ke dalam laut kemudian mengangkatnya, maka telunjuk itu akan meneteskan setetes air. Nah, setetes air itulah perumpamaan dunia dengan segala kenikmatannya, sedangkan lautan itu merupakan perumpamaan kenikmatan di ākhirat. Sebuah perbedaan yang amat jauh.

Kenikmatan Sorga

Adapun puncak dari seluruh kenikmatan itu adalah perjumpaan dengan Allāh Yang Maha Mulia, serta memandang Wajah-Nya Yang Agung.

- Bidadari

Dalam Al-Qur-ān bidadari disebut "Hūr (حُوْرٌ)". Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 4 (empat) kali:

1. Dalam surah Ad-Dukhān (44) ayat 54:
كَذَلِكَ زَوَّجْنَاهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ
Artinya:
"Seperti demikian itulah kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli".
2. Dalam surah Ath-Thūr (52) ayat 20:
مُتَّكِئِيْنَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوْفَةٍ وَ زَوَّجْنَاهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ
Artinya:
"Mereka bersandaran di atas dipan-dipan berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli".

3. Dalam surah Ar-Rahmā n (55) ayat 72:
حُوْرٌ مَقْصُوْرَاتٌ فِي الْخِيَامِ
Artinya:
"Bidadari yang bermata jeli yang dipingit di dalam kemah-kemah".

Al-Hasan mengatakan, yang di maksud "(مَقْصُوْرَاتٌ) dipingit" ialah: "Tidak berkeliaran di jalanan". Dan yang dimaksud "(الْخِيَامِ) kemah-kemah" ialah: "rumah-rumah di Sorga yang terbuat dari mutiara".
(Shafwatut-Tafāsīr jilid III hal. 283)

4. Dalam surah Al-Wāqi'ah (56) ayat 22 dan 23:
وَ حُوْرٌ عِيْنٌ كَأَمْثَالِ الُؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِ
Artinya:
"Dan (di dalam Sorga itu) ada bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang disimpan baik".

- Sungai-Sungai

Al-Qur-ān menyebutkan bahwa di dalam Sorga itu ada 4 (empat) macam sungai, sebagaimana disebutkan dalam surah Muhmmad (47) ayat 15:
مَثَلُ الْجَنَّةِ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ فِيْهَا أَنْهَاٌر مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِيْنٍ وَ أَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِيْنَ وَ أَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفَّى
Artinya: "Perumpamaan Sorga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwā, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai- sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring....".

- Mahligai (Tempat Yang Tinggi)

Mahligai atau Tempat Yang Tinggi dalam Al-Qur-ān disebut "Ghuraf (غُرَفٌ)". Lafazh (kata) ini disebut sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu 2 (dua) kali dalam surah Az-Zumar (39) ayat 20:
لَكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَعَدَ اللَّهُ لاَ يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيْعَادَ
Artinya:
"Tetapi orang-orang yang bertaqwā kepada Rabb mereka, bagi mereka mahligai (tempat-tempat yang tinggi), di atasnya dibangun pula mahligai, di bawahnya mengalir sungai-sungai, Allāh telah berjanji. (Dan) Allāh tidak akan mengingkari janji-Nya".

Dan 1 (satu) kali dalam surah Al-Ankabūt (29) ayat 58:
وَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِيْ مَنْ تَحْتِهِمُ اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِيْنَ
Artinya:
"Dan orang-orang yang berimān dan mengerjakan 'amal-'amal yang shalih, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada mahligai (tempat-tempat yang tingi) di dalam Sorga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang ber'amal".

Al-Imām Ibnu Katsīr menjelaskan dalam "Tafsīrnya" bahwa yang dimaksud "Ghuraf (غُرَف)" atau Tempat Yang Tinggi adalah "Qushūr (قُصُوْر)" yang artinya: "Istana-istana yang tinggi dan megah".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz IV hal. 49)

Di dalam ayat yang lain disebut dengan lafazh yang sedikit berbeda, yaitu "Al-Ghurafāt (الْغُرَفَات)", disebut 1 (satu) kali, dalam surah As-Sabā ' (34) ayat 37:
وَ مَا أَمْوَالُكُمْ وَ لاَ أَوْلاَدُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلاَّ مَنْ ءَامَنَ وَ عَِمِلَ صَالِحًا فَأُولئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوْا وَ هُمْ فِي الْغُرَفَاتِ ءَامِنُوْنَ
Artinya:
"Dan sekali-kali bukanlah harta kalian dan bukan pula anak-anak kalian yang mendekatkan kalian pada Kami, tetapi siapa-saja yang berimān dan mengerjakan 'amal shalih, mereka itulah yang mendapat balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan, dan mereka aman sentausa di Al-Gurafāt (tempat-tempat yang tinggi)".

- Mata Air

Al-Qur-ān banyak sekali menyebutkan Mata Air yang terdapat di dalam Sorga, di antaranya dalam surah Al-Ghāsyiyah (88) ayat 12:
فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ
Artinya:
"Di dalam Sorga ada Mata Air yang mengalir".

Di dalam ayat yang lain disebutkan satu jenis minuman yng diambil dari Mata Air yang istimewa, yaitu dalam surah Al-Insān (76) ayat 17 dan 18:
وَ يُسْقَوْنَ فِيْهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيْلاً . عَيْنَا تُسَمَّى سَلْسَبِيْلاً
Artinya:
"Di dalam Sorga itu mereka diberi minum dengan gelas yang campurannya adalah jahe. (Yang diambil dari) Mata Air yang dinamakan Salsabīlā ".

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ān yang berbicara mengenai Mata Air yang terdapat di dalam Sorga.

- Sutera Halus Dan Sutera Tebal

Al-Qur-ān menyebutkan bahwa pakaian yang dikenakan oleh penghuni Sorga terbuat dari sutera yang halus dan sutera yang tebal, sebagaimana disebutkan dalam surah Ad-Dukhān (44) ayat 53:
يَلْبَسُوْنَ مِنْ سُنْدُسٍ وَ إِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِيْنَ
Artinya:
"Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (sambil duduk) berhadap-hadapan".

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyebutkan tentang pakaian yang indah dari sutera yang dikenakan oleh penghuni Sorga.

- Permadani

Al-Qur-ān menyebutkan bahwa di dalam Sorga terdapat permadani-permadani yang dihamparkan, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Ghāsyiyah (88) ayat 16:
وَ زَرَبِيُّ مَبْثُوْثَةٌ
Artinya:
"Dan permadani-permadani yang terhampar".

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyebutkan permadani-permadani di Sorga.

- Gelang Emas, Gelang Perak Dan Gelang Mutiara

Al-Qur-ān menyebutkan bahwa penghuni Sorga akan memakai gelang dari emas dan perak, dan juga dari mutiara, sebagaimana disebutkan dalam surah Fāthir (35) ayat 33:
جَناَّتُ عَدْنٍ يَدْخُلُوْنَهَا يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَ لُؤْلُؤًا وَ لِبَاسُهُمْ فِيْهَا حَرِيْرٌ
Artinya:
"(Mereka akan mendapat) Sorga 'Aden, mereka masuk ke dalamnya, mereka dihiasi di dalamnya (Sorga) dari gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya (Sorga) -- ialah -- sutera".

Dan dalam surah Al-Insān (76) ayat 21:
عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَ إِسْتَبْرَقٍ وَ حُلُّوْا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ
Artinya:
"Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal, dan mereka dihiasi gelang-gelang dari perak".

- Buah-Buahan Yang Beraneka Ragam

Masalah ini banyak sekali disebutkan Al-Qur-ān, di antaranya dalam surah Shād (38) ayat 51:
مُتَّكِئِيْنَ فِيْهَا يَدْعُوْنَ فِيْهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍ وَ شَرَاب
Artinya:
"Mereka bersandaran di dalamnya (Sorga) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman".

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ān yang menyebutkan tentang buah-buahan di Sorga.

- Pelayan- Pelayan

Al-Qur-ān menyebutkan bahwa pelayan-pelayan di Sorga terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan, yang selamanya mereka dalam keadaan seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Insān (76) ayat 19:
يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُوْنَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُوْرًا
Artinya:
"Dan mengelilingi pada mereka (penghuni Sorga), anak-anak kecil yang tetap kecil. Apabila engkau melihat mereka engkau akan mengira mereka mutiara yang bertebaran".

- Melihat Allāh

Al-Qur-ān telah menyebutkan hal ini dalam surah Al-Insān (76) ayat 22 dan 23:
وُجُوْهٌ يًوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ .
Artinya:
"Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat Rabb mereka".

Rasūlullāh saw telah menjelaskan hal ini, Beliau bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانًا
Artinya:
"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang".
(H.R. Al-Bukhārī)

Juga dalam As-Shahīhain (Al-Bukhārī dan Muslim) disebutkam bahwa beberapa orang sahabat Rasūlullāh saw bertanya kepada Beliau:
يَا رَسُوْلَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟
Artinya:
"Ya Rasūlullāh, apakah kami dapat melihat Rabb kami pada hari qiyamat?".

Rasūlullāh saw menjawab:
هَلْ تُضَارُوْنَ فِي رُأْيَةِ الشَّمْسِ وَ الْقَمَرِ لَيْسَ دُوْنَهُمَا سَحَاٌب ؟ قَالُوْا: لاَ قَالَ: فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَذَلِكَ .
Artinya:
"Apakah kalian merasa terhalang untuk melihat Matahari dan Bulan pada saat tidak ada awan yang menutupi?". Mereka berkata: "Tidak". Beliau pun bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti itu".

Al-Imām Ibnu Katsīr menegaskan masalah ini dalam "Tafsī rnya", beliau berkata:
لَقَدْ تَثَبَّتَتْ رُأْيَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ فِي اْلآخِرَةِ فِي اْلأَحَادِيْثِ الصَّحَاحِ مِنْ طُرُقِ مُتَوَاتِرَةِ عِنْدَ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ لاَ يُمْكِنْ دَفْعِهَا وَ لاَ مَنْعِهَا
Artinya:
"Sesungguhnya telah pasti bahwa orang-orang mu'min akan melihat Allāh Yang Maha Mulia dan Maha Agung kelak di ākhirat, berdasarkan hadits-hadits yang shahīh dengan jalur yang mutawātir yang tidak mungkin ditolak dan dibantah".

Melihat Allāh merupakan kenikmatan yang paling besar di Sorga, sebagaimnana sabda Rasūlullāh saw:
فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ
Artinya:
"Tiada suatu pemberian pun yang lebih mereka senangi daripada memandang kepada Rabb mereka".
(H.R. Muslim)

Bukankah perjumpaan dengan kekasih merupakan peristiwa paling menyenangkan? Dan Allāh adalah kekasih sejati orang-orang berimān, jadi sudah sewajarnya berjumpa dengan Allāh merupakan kenikmatan yang paling besar.

Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur-ān yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang terdapat di Sorga, yang dengan memahaminya setiap mu'min akan meyakini bahwa kenikmatan dunia hanyalah sedikit, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Faedah Mengutamakan Kehidupan Ākhirat
Seorang mu'min yang memiliki cita-cita dan keinginan yang kuat untuk memperoleh kebahagiaan di ākhirat, akan mendapatkan berbagai macam kemudahan dan ketenteraman serta kekuatan hati dalam menjalani kehidupan dunia, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
وَ مَنْ كَانَتِ اْلآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَ جَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَ ءَاتَتْهُ الدُّنْيَا وَ هِيَ رَاغِمَةٌ
Artinya:
"Dan siapa saja yang niata atau tujuan hatinya kepada ākhirat, maka Allāh (pasti) akan mengumpulkan seluruh persoalanya, dan Ia akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya (orang itu), dan dunia pun akan datang dan tunduk kepadanya".
(H.R. Ibnu Mājah juz II hal. 1375 no.: 4105)

Ada 3 (tiga) keistimewaan yang diperoleh oleh siapa saja yang bercita-cita dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebahagiaan di ākhirat, yaitu:

1. Semua persoalan hidupnya akan ditanggung dan diselesaikan oleh Allāh. Sudah tentu ia akan merasa ringan dan tenteram dalam menjalani kehidupannya.

2. Allāh akan memberikan kekayaan dalam hatinya, yaitu kekayaan batin, sehingga ia merasa puas, tidak merasa kekurangan. Dan inilah kekayaan yang sesungguhnya, sebagaimana sabda Rasūlullāh saw:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَة ِالْعَرَضِ ، وَ لَكِنَّ الَغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya:
"Kekayaan itu bukanlah (terletak) pada banyaknya harta, akan tetapi (hakikat) kekayaan itu adalah kekayaan (kepuasan) batin".
(H.R. Muttafaqun 'Alaihi)
3. Dunia akan datang kepadanya dengan tunduk. Artinya, ia akan dimudahkan untuk mendapatkan semua kebutuhannya untuk menjalankan aktivitasnya dan meningkatkan kualitas hidupnya di dunia.
Inilah 3 (tiga) keistimewaan yang disampaikan oleh Rasūlullāh saw. bagi siapa saja yang memiliki cita-cita atau motivasi dan usaha yang sungguh-sungguh memperoleh kebahagiaan ākhirat.
Keberhasilan Bagi Orang Yang Melaksanakan (Mengimplementasikan) Do'a Ini :
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya :
"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
(Q.S. Al-Baqarah (2) : 201)

Sesungguhnya Allāh SWT telah berjanji akan memberikan keberhasilan (sukses) bagi siapa saja yang berdo'a dengan do'a ini dan melaksanakannya dalam bentuk ikhtiyar dan usaha yang benar dan sungguh-sungguh sebagaimana telah dibahas dan dijelaskan sebelumnya sebagaimana firman-Nya:
أُولئِكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِمَّا كَسَبُوْا وَ اللَّهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya:
"Demikian mereka itu (yang berdo'a), mereka (pasti) memperoleh dari apa saja yang mereka usahakan. Dan Allāh itu Maha Cepat perhitungan-Nya".
(Surah Al-Baqarah ayat 202)

Lafazh (kata) "Kasabū (كَسَبُوْا)" dalam ayat ini berasal dari kata "Kasa

(كَسَبَ )" yang artinya dari segi bahasa:
السَّعْيُ فِي تَحْصِيْلِ الرِّزْقِ وَ غَيْرِهِ
Artinya:
"Berusaha untuk mendapatkan rezeqi dan selainnya".
(Lihat catatan kaki Sunan Ibnu Mājah juz II hal. 723)

وَ اللَّهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya:
"Dan Allāh sangat cepat perhitungan-Nya".

Maksudnya, Allāh sangat cepat memberi balasan bagi orang-orang yang berdo'a dengan do'a ini dan mengimplementasikan do'anya.

(Wallāhu A'lam)

Maha Benar Allāh dengan segala firman-Nya, shalawat dan salām semoga dilimpahkan kepada Nabi-Nya; Muhammad bin 'Abdillāh penghulu para rasul, dan juga kepada ahli bait-nya, serta seluruh sahabatnya yang setia; dan juga orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya sampai hari qiyamat.

Sebagaimna telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bekerja atau berusaha merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagai syarat memperoleh "Hasanah Fīd-Dun-yā" (Kebahagiaan Dunia). Maka, ayat ini menegaskan bahwa segala ikhtiyar dan usaha mereka untuk mendapatkan "Kebahagiaan Dunia Dan Kebahagiaan Ākhirat" akan diberi balasan oleh Allāh, yaitu "keberhasilan". Artinya, mereka akan memperoleh usahanya mendapatkan "Kebahagiaan Dunia Dan Kebahagiaan Ākhirat". Dan ayat ini ditutup dengan kata-kata yang meyakinkan:

Al-Qur-ānul-Karīm telah menginformasikan dan menceritakan dengan panjang lebar berbagai macam kenikmatan yang terdapat dalam Sorga dengan bahasa yang indah dan meyakinkan, seperti: Bidadari, sungai-sungai, mahligai, mata air, gelas-gelas, sutera tebal dan sutera halus, permadani, gelang emas dan gelang perak, buah-buahan yang beraneka ragam, pelayan-pelayan yang terdiri dari anak-anak kecil yang dikekalkan, dan masih banyak lagi kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terfikir oleh otak manusia.

Inilah puncak tertinggi dari "Hasanah Fīl-Ākhirat " atau "Kebahagiaan di Ākhirat", Allāh SWT telah berfirman mengenai hal ini:

Dampak Psikologis Meremehkan Kehidupan Ākhirat

Meninggalkan Perkara Syubhat Dan Haram adalah syarat yang kelima untuk meraih "Hasanah Fīl-Ākhirat" yaitu masuk Sorga selamat dari Neraka.
(H.R. Abū D āwūd. Nashīhatul-Muslimīn hal. 58)
(H.R. Ahmad, Abū Dāwūd, Ibnu Hibbān dan Al-Hākim. Al-Fathul-Kabīr juz I hal. 391 no. : 1241)
(H.R. Ahmad, At-Tirmidzī , dan Al-Baihaqī . Al-Fathul-Kabīr juz I hal. 86 no. : 96)

Allāh Yang Maha Luhur berfirman: "Hai anak Ādam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, namun engkau datang kepada-Ku dengan tidak menyekutukan (syirik) sedikit pun pada-Ku, niscaya Aku akan datang pada-mu dengan pengampunan sepenuhnya (bumi)".

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8