Syarat-Syarat Memperoleh Hasanah Fîl- Âkhirat
Syarat Kedua :
'Amalun Shâlih (Ber'amal yang baik)

'Amal Shâlih adalah syarat yang kedua setelah bertauhîd atau berimân kepada Allâh untuk mencapai "Hasanah Fîl-Âkhirat" yaitu masuk Sorga selamat dari Neraka.

'Amal (عَمَل ) artinya: perbuatan, tindakan, kelakuan dan sebagainya. Shâlih ( صَالِح) artinya: yang baik atau yang bagus.

'Amal Shâlih adalah bukti atau manifestasi dari imân, dan Al-Qur-ân selalu menggandeng sebutan "orang-orang yang berimân" (الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا) dengan "dan yang ber'amal shâlih" (وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ).

Adapun yang dimaksud 'Amal Shâlih di sini ialah melakukan atau melaksanakan semua yang diwajibkan Allâh sesuai dengan kemampuan dan meninggalkan semua yang dilarang Allâh.

Dalam hadits Qudsî, Allâh berfirman:
وَ مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
Artinya: "Tidaklah mendekat (taqarrub) kepada-Ku, hamba-Ku, dengan sesuatu -- perbuatan -- yang lebih dicintai oleh-Ku -- kecuali melaksanakan -- dari apa saja yang Aku wajibkan atasnya". (HR Al-Bukhârî)

Hadits Qudsî ini menegaskan bahwa mendekatkan diri kepada Allâh harus dengan cara melaksanakan atau meng'amalkan apa saja yang diwajibkan Allâh, dan ini mencakup dua hal, yaitu: melaksanakan perintah Allâh dan menjauhi larangan-Nya.

Syaikhul-Islâm Ibnu Taymiyyah (rahimahullâh) mengatakan, bahwa berdasarkan hadits ini seorang muslim yang mendekatkan dirinya (taqarrub) kepada Allâh hanya dengan meng'amalkan yang wajib-wajib saja tanpa disertai dengan yang sunah, ia bisa mencapai tingkatan Waliyyullâh, yaitu seorang yang dekat dengan Allâh.

Sebagaimana firman Allâh:
أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ . الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ كَانُوْا يَتَّقُوْنَ
Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa kuatir atas mereka dan tidaklah mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang berimân dan mereka bertaqwâ". (Surah Yûnus (10) ayat 62-63)

Ayat ini menegaskan pengertian "Waliyyullâh" yaitu "orang-orang yang berimân dan bertaqwâ",sedangkan arti "taqwâ" ialah:
مَخَافَةُ اللَّهِ وَ الْعَمَلُ بِطَاعَتِهِ
Artinya: "Rasa takut kepada Allâh dan melaksanakan keta'atan kepada-Nya".

Melaksanakan keta'atan kepada Allâh ialah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Al-Qurân banyak sekali menyatakan bahwa Sorga itu diberikan kepada orang-orang yang berimân dan ber'amal shâlih, sebagaimana firman Allâh:
وَ مَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَ هُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا
Artinya: "Dan siapa saja yang mengerjakan 'Amal Shâlih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang yang berimân, maka mereka akan masuk ke dalam Sorga, dan mereka tidak akan dianiaya walupun sedikit". (Surah An-Nisâ' (4) ayat 124)

Dalam ayat yang lain Allâh berfirman:
وَ نَزَعْنَا مَا فِي صُدُوْرِهِمْ مِنْ غِلِّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ اْلأَنْهَارُ وَ قَالُوْا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَ نُوْدُوْا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allâh yang telah menunjuki kami kepada ini (Sorga). Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk seandainya Allâh tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami dengan membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "Itulah Sorga yang diwariskan kepada kalian disebabkan apa yang kalian 'amalkan". (Surah Al-A'râf (7) ayat 43)

Dalam hal ini Rasûlullâh saw bersabda:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا ، وَ لَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ
Artinya: "Janganlah menganggap sepele perbuatan baik yang sedikit, walaupun sekedar engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria (tersenyum)". (HR. Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzî . Lihat Al-Fathul-Kabîr no.: 7122)

Hadits ini melarang kaum Muslimîn memandang sepele atau meremehkan 'Amal Shâlih yang sedikit (kecil) sekalipun, walau hanya sekedar tersenyum atau berwajah manis di hadapan orang lain.

- Melakukan 'Amal Shâlih Harus Sesuai Dengan Kemampuan

Rasûlullâh saw bersabda:
عَلَيْكُمْ مِنَ اْلأَعْمَالِ بِمَا تُطِيْقُوْنَ ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلَّوْا
Artinya: "Wajib bagi kalian untuk melakukan 'amal-'amal yang kalian mampu (kuat), maka sesungguhnya Allâh tidak akan bosan -- memberi pahala -- sehingga kalian merasa bosan". (HR Ath-Thabrânî. Lihat Al-Fathul-Kabîr no.: 3964)

Hadits ini menegaskan seseorang harus melakukan 'Amal Shâlih sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, karena apabila ia memaksa dirinya melakukan 'Amal Shâlih di luar kemampuan dirinya, maka akan timbul rasa bosan yang membuat ia meninggalkan 'amal tersebut, dan ketika itu Allâh pun memutus pahala 'amal tersebut.

Dalam hadits yang lain Rasûlullâh saw bersabda:
أَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ
Artinya: "'Amal-'amal yang paling dicintai Allâh ialah yang terus menerus -- dilakukannya -- meskipun sedikit". (HR Al-Baihaqî. Lihat Al-Fathul-Kabîr no.: 161)

Dan sebagaimana penjelasan-penjelasan sebelumnya, Islâm tidak mendikotomikan 'Amal Shâlih yang berkaitan dengan 'ibâdah mahdhah (yang sudah diatur tata caranya) seperti shalat, zakat, puasa dan hajji, dengan 'amal-'amal yang bersifat keduniaan (mu'malah), semuanya harus dilakukan dengan cara yang benar dan baik, sebagaimana firman Allâh:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلأَرْضِ زِيْنَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa saja yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang paling baik (berkualitas) pekerjaannya ('amalnya)" (Surah Al-Kahfi (18) ayat 7)

Dan Rasûlullâh saw bersabda:
أَجْمِلُوْا فِي طَلَبِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ كُلاًّ مُيَسَّرٌ لِمَا كُتِبَ لَهُ مِنْهَا.
Artinya: "Perbaikilah oleh kalian -- cara-cara -- di dalam mencari Dunia, karena sesungguhnya masing-masing dimudahkan untuk -- meraih -- apa saja (rezeqi) yang telah ditulis untuknya dari Dunia", (H.R. Ibnu Mâjah, Al-Hâkim, Ath-Thabrânî dan Al-Baihaqî. Al-Fathul-Kabîr juz 1 hl. 106 no.: 155)

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8