Ini merupakan teguran ketiga ( كَلاَّ ). Terdapat 2 (dua) hal yang harus diperhatikan dari ayat ini :

Pertama : Arti kata : ‘Al-Yaqîn الْيَقِيْنَ dari segi bahasa, yaitu :
إِزَاحَةُ الشَّكِّ وَ تَحْقِيْقُ اْلأَمْرِ
Artinya : “Hilangnya keraguan dan pastinya --suatu-- perkara".

Adapun kata : ‘Ilmal-Yaqîn : عِلْمَ الْيَقِيْنَ dari segi bahasa ialah :
اْلعِلْمُ الْحَاصِلُ عَنْ نَظَرٍ أَوْ إِسْتَدْلاَلٍ
Artinya : “Ilmu (pengetahuan atau pengertian) yang dihasilkan dari penelitian atau penarikan kesimpulan".

Kedua : Jawaban  atau  kelanjutan  dari  kata  "seandainya" - ( لَوْ ) dihilangkan, atau dalam istilah ‘ilmu tafsîr disebut “mahdzûf - ( مَحْذُوْفُ ). Al-Ustadz-Ash-Shâbûnî telah menjelaskan hal ini, beliau berkata :
وَجَوَابَ ( لَوْ ) مَحْذُوْفٌ لِقَصْدِ التَّهْوِيْلِ أَىْ لَوْ عَرَفْتُمْ ذَالِكَ لَمَاأَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ بِالدُّ نْيَاعَنْ طَاعَةِاللَّهِ وَ لَمَا خُدِ عْتُمْ بِنَعِيْمِ الدُّ نْيَا عَنْ أَهْوَالِ اْلآَخِرَةِ وَ شَدَائِدِهَا
Artinya : “Adapun kelanjutan dari kata seandainya ( لَوْ ) dihilangkan ( مَحْذُوْفُ ), karena bertujuan menimbulkan rasa takut.Maksudnya : “Seandainya kalian mengetahui (mengerti) akan hal itu, niscaya kalian tidak akan lalai oleh perlombaan terhadap keduniawian --sehingga kalian lalai-- dari melaksanakan ketaatan kepada Allâh. Dan niscaya kalian tidak akan tertipu oleh kenikmatan dunia --sehingga-- lalai terhadap ancaman akhirat dan siksaan-siksaanya". (lihat Shafwatut-Tafâsîr, juz XX hal. 97).

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8