Tafsir Surat An-Nashr
• Muqaddimah
Surah A-Nashr adalah termasuk surah Madaniyah (yang di turunkan di kota Madinah). Surah ini menceritakan tentang kemenangan besar yaitu : FATHU - MAKKAH, direbutnya kota Makkah dari tangan orang-orang musyrik. Hal ini berarti kejayaan bagi Dīnul-Islām, dan masuknya manusia ke dalam Dīn (agama) Allāh dengan ber bondong-bondong (massal), serta tersebarnya ajaran Islām di seluruh jazirah 'Arab. Dan terlepasnya cengkeraman kuku orang-orang kufur dan orang-orang sesat.

Berita tentang Fathu-Makkah dan juga takluknya Mada'in (Yang dimaksud Mada'in ialah : Ibu Kota Persia) serta benteng-bentengnya yang kuat kedalam kekuasaan kaum Muslimin, diterima Rasūlullāh saw. melalui jalan "Ghaib", artinya berita tersebut sudah diterima Beliau sebelum terjadinya peristiwa itu. Dan sungguh hal itu telah terbukti sebagaimana yang telah diberitakan oleh Al-Qur-ān, yaitu direbutnya kota Makkah pada tahun 8 Hijriyah, dan dilanjutkan dengan penaklukan wilayah-wilayah lainnya setelah itu. Dan berita-berita Ghaib semacam ini merupakan "'Alamatin Nubuwah " (Bukti-bukti Kenabian) Rasūlullāh saw.
Arti secara menyeluruh :
"Ketika telah datang pertolongan Allāh dan kemenangan"

Di dalam kitab "Al-Hādi ilā Tafsīri Gharibil Qur-ān" diterangkan bahwa :
اَلْفَتْحُ أَىْ فَتْحُ مَكَّةَ
Artinya :
"Kemengan (Al-Fath) adalah kemenangan (direbutnya) kota Makkah".
Arti keseluruhan :
"Dan engkau (Muhammad) meLihat manusia, mereka masuk kedalam dīnul-Allāh (Al-Islām) dengan ber bondong-bondong".

Peristiwa ini merupakan kemenangan "Da'wah", suatu kemenangan yang terbesar disepanjang sejarah ummat manusia.
Arti keseluruhan :
"Maka bertasbihlah engkau (ya Muhammad), dengan memuji Rābb-mu dan istighfārlah kepada-Nya,

Ini adalah perintah dan juga merupakan bimbingan/pengarahan bagi Rasūlullāh saw. serta pengikut-pengikutnya agar senantiasa menghadapkan wajah mereka kepada Allāh SWT., bertasbih dan memuji-Nya serta beristighfār kepada-Nya dalam setiap detik perjuangannya. Yaitu agar mereka semua menyadari bahwa kemenangan yang mereka peroleh adalah karena pertolongan Allāh SWT. semata. Sebagaimana telah dijelaskan melalui firman-Nya dalam Al-Qur-ān :
...وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ. .
Artinya :
"...Dan tidaklah ada pertolongan kecuali (pertolongan itu) dari sisi Allāh..."
(Q.S. Al-Anfāl (8) : 10).

Dan dalam firman-Nya yang lain :
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ...
Artinya :
"Apabila Allāh telah menolong kalian, maka tidaklah ada yang mengalahkan kalian...".
(Q.S. Ali Imrān (3) : 160).

Dan dalam firman-Nya yang lain :
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ تَنْصُرُوااللَّهَ يَنْصُرْكُمُ وَ يُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman, Apabila kalian menolong (agama) Allāh, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian"
(Q.S. Muhammad (47) : 7)

Dan juga dalam firman-Nya yang lain :
... وَ لَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ....
Artinya :
"...Dan sungguh Allāh pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya..."
(Q.S. Al-Haj (22) : 40).
Arti seluruhnya :
"..Bahwa sesungguhnya adalah Dia (Allāh) Maha Menerima Taubat".

Di dalam kitab "Al-Hādi Ilā Tafsīri Gharibil Qur-ān" diterangkan maksud ayat ini ialah :
أَيْ كَثِيْرُ الْقُبُوْلُ لِتَوْبَةِ عِبَادِهِ
Artinya :
".. Yang banyak menerima kepada taubat hamba-hamba-Nya".

Dan termasuk sifat-Nya adalah amat suka menerima taubat. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits dibawah ini :
وَعَنْ أَنَسِ بِنْ مَالِكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَ سَّلَمُ : اللَّهُ أَشَدَّ فَرحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِيْنَ يَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَ شَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى سَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِيْ ظِلِّهِا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا فَقَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرحِ : اَللَّهُمَ أَنْتَ عَبْدِى وَ أَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ . (أَخْرَجَاهُ)
Artinya :
Telah berkata Anas bin Mālik r.a. : "Telah bersabda Rasūlullāh saw. : "Allāh itu lebih sangat gembira terhadap taubat seorang hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya, dari pada salah seorang kalian yang (sedang) berada diatas kendaraannya disuatu tempat (daerah) yang kosong/tidak berpenghuni. Maka tiba-tiba kendaraannya terlepas darinya, padahal diatas kendaraannya itu terdapat makanan dan minumannya, sehingga ia merasa sangat putus asa (atas kejadian itu).

Maka ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya, dan sungguh ia sangat berputus asa atas kendarannya (tunggangannya). Dan disaat-saat seperti itu tiba-tiba ia menjumpai kendarannya berdiri disampingnya, maka ia pun cepat-cepat memegang tali kendaraannya sambil berkata (dari amat sangat gembiranya) : "Wahai Allāh engkau adalah hambaku, dan aku adalah Rabb-mu", dia salah ucap karena sangat gembira".

(H.R. Al-Bukhārī dan Muslim).
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8