Tafsir Surat An-Nâs
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Lewat tiga ayat pertama surah ini, Allâh SWT memperkenalkan diri dengan beberapa nama, yaitu “Rabb, Malik dan Ilâh”. Al-Ustadz Sayyid Quthb berkata :
فَالرَّبُّ هُوَ الْمُرَبِّى وَ الْمُوَجِّهُ وَالرَّاعِى وَالْحَامِى. وَالْمَالِكُ هُوَ الْمَالِكُ الْحَاكِمُ الْمُتَصَرَّفُ. وَاْلإِلَهُ الْمُسْتَعْلَى وَالْمُسْتَوْلَى الْمُتَسَلِّطُ
Artinya : “-Pengertian-- Rabb adalah Pembimbing, Yang Mengarahkan, Yang Memperhatikan dan Yang Menjaga. Sedangkan --pengertian-- Malik (Raja) ialah Yang Menguasai dan Yang Menghakimi, Yang bebas Bertindak. Sedangkan --pengertian -- Ilâh adalah Yang Dimuliakan, Yang Berkuasa dan Yang Menguasai”.

Dengan demikian makna lengkap 3 (tiga) ayat diatas adalah : “Katakanlah, aku berlindung dengan bantuan Rabb, Yang Membimbing, Yang Mengarahkan dan Yang Menjaga atas Manusia”. “Rajanya manusia, Yang Menguasai, Yang Menghakimi dan Yang bebas Bertindak atas manusia” “Ilâhnya manusia, Yang Dimuliakan, Yang Berkuasa dan Yang Menguasai atas manusia”.

Pertanyaannya berlindung dari apakah itu ??, yaitu dari “Bisikan”. Kelanjutan ayat menjelaskan hal tersebut.
Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) mengatakan bahwa maksud kata “Al-waswâs” - الْوَسْوَاسْ atau “Al-waswasah” - الْوَسْوَ سَةُ “ dari segi bahasa artinya :
الصَّوْتُ الْخَفِيُّ
Artinya : “Suara yang samara-samar”

Sedangkan kata “Al-Khan-Nâs” - الْخَنَّاسِ merupakan isim mubalaghah yang berasal dari kata “Al-Khunűs” - الخُنُوْسِ yang maksudnya :
اْلإِخْتِبَاءُ وَالرُّجُوْعُ
Artinya : “Bersembunyi dan kembali” (Lihat Fî Zhilâlil-Qur-ân, juz VIII hal. 712)

Dengan pemahaman tersebut, jelas bisikan itu selalu bersembunyi dan terus menerus kembali dan akan kembali lagi dengan diam-diam, tanpa mengenal lelah. Artinya, datang dan perginya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Al-Imâm Al-Ghazâlî telah mempertegas masalah ini, beliau mengatakan :
وَالْخَاطِرُ الْمَذْ مُوْمُ أَعْنِيْ الدَّاعِي اِلَى الشَّرِّ يُسَمَّى وَسْوَاسَّا
Artinya : “Pikiran (idea) yang tercela, yang mengajak kepada keburukan, itulah yang disebut --sebagai-- waswâs (bisikan)” (Lihat Al-Ihyâ’, jilid I hal. 883).

Jadi, waswâs artinya pikiran-pikiran atau idea-idea yang buruk dan tercela yang masuk ke dalam hati manusia melalui bisikan yang sangat halus.

Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) berkata :
وَاْلإِسْتِعَاذَةُ بِالرَّبِّ، الْمَلِكِ،اْلإِلَهِ، تَسْتَحْضرُ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ - سُبْحَانَهُ - مَابِهِ يَدْ فَعُ الشَّرَّعَامَّةٌ، وَشَرَّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ خَاصَّةً
Artinya : “Berlindung dengan Rabb, Malik dan Ilâh berarti menghadirkan shifat-shifat Allâh Yang Maha Suci; yang dengan bantuan itu --manusia-- menolak keburukan berbentuk umum maupun keburukan --yang berbentuk-- bisikan yang menyelinap yang bersifat khusus”.

Dan beliau juga menegaskan :
وَهِيَ لاَتُعْرَفُ كَيْفَ تَدْ فَعُهُ لإِنَّهُ مَسْتُوْرٌ
Artinya : “Dan --bisikan-- itu tidak bisa diketahui bagaimana cara menolaknya karena ia sangat tertutup”

Artinya, manusia sama-sekali tidak memiliki kemampuan atau kekuatan untuk menolak datangnya pengaruh bisikan itu. Karena itu manusia memerlukan kekuatan di luar kekuatannya, yaitu Allâh Yang Maha Suci, melalui tiga sifat-Nya : Rabb, Malik dan Ilâh. Selanjutnya Al-Ustadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) berkata :
وَالَّلهُ رَبِّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمَلِكُ كُلِّ شَيْءٍ، وَإِلَهِ كُلِّ شَيْءٍ، وَلَكِنْ تَحْصِيْصَ ذِكْرِ النَّاسِ هُنَايَجْعَلُهُمْ يَحِسُّوْنَ بِالْقُرْبَى فِي مَوْقِفِ الْعِيَاذِ وَاْلإِحْتِمَاءِ
Artinya : “Sebetulnya Allâh itu adalah Rabb segala sesuatu, Malik (Raja) segala sesuatu dan juga Ilâh (Sesembahan) segala sesuatu, akan tetapi penyebutan manusia secara khusus --menjadi Rabbin-Nâs, Malikin-Nâs, Ilâhin-Nâs-- membuat mereka merasa lebih dekat kedudukannya --dengan Allâh-- dalam hal perlindungan dan penjagaan”.

Bagaimanakah “bisikan” itu bekerja, dan dimanakah dia memberikan pengaruhnya, jawabannya terdapat pada ayat selanjutnya.
Bisikan samar dan halus yang mengandung idea-idea buruk itu langsung menyerbu ke dalam hati manusia; dan itulah yang selalu membuat hati selalu berubah-ubah, sebagaimana sabda Rasűlullâh saw. :
لَقَلْبُ اِبْنُ آدَمَ أَشَدُّ اِنْقِلاَبًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اسْتَجْمَعَتْ غَلْيَانً
Artinya : “Niscaya hati (qalbu) anak keturunan Âdam (manusia) itu lebih sangat bergejolaknya daripada --air di dalam-- periuk ketika berkumpul (bergolak) karena mendidih”. (H.R. Ahmad dan Al-Hâkim dari Al-Miqdâd bin Al-Aswâd. Lihat Fathul Kabîr no. hadits 5023).

Maksud sabda Nabi saw. diatas adalah, perubahan hati manusia dari satu kondisi ke kondisi yang lain berlangsung dengan sangat cepat, tidak membutuhkan proses yang panjang.

Informasi tentang “bisikan” yang selalu menyerang hati manusia, dilanjutkan dengan pelakunya atau aktornya sebagaimana diterangkan pada ayat berikut :
Ayat ini menjelaskan tentang dua jenis makhluk yang menjadi sumber bisikan atau pikiran (idea-idea) yang tercela, yaitu : Jin dan Manusia. Dalam hal ini Al-‘Allamah Al-Qâsimî berkata :
بَيَانٌ لِلَّذِيْ يُوَسْوِسُ، عَلَى أَنَّهُ ضَرْبَانِ : ضَرْبٌ مِنَ الْجِنَّةِ وَ هُمُ الْخَلْقُ الْمُسْتَتِرُوْنَ الَّذِ يْنَ لاَ نَعْرِفُهُمْ ، وَإِنَّمَا نَجِدُ فِيْ أَنْفُسِنَا أَثَرًا يُنْسَبُ إِلَيْهِمْ. وَضَرْبٌ مِنَ اْلإِنْسِ كَالْمُضِلَّلِيْنَ مِنَ اْلأَفْرَادِ، كَمَاقَالَ تَعَالَى: وَكَذَ لِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُ َّوا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحَى بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرً (الأنعم : 112)
Artinya : (Ayat ini) menjelaskan tentang --makhluk-- yang membisik, ia terdiri dari dua jenis : Jenis pertama dari kalangan Jin, mereka adalah makhluk yang tertutup, mereka tidak dapat kita kenali. Tetapi kita dapat merasakan pengaruhnya di dalam diri kita yang dapat dihubungkan (dinisbatkan) kepada mereka. Jenis kedua dari kalangan Manusia, seperti tokoh-tokoh yang menyesatkan yang terdiri dari individu-individu, sebagaimana firman Allâh (yang artinya) : “Seperti itulah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, berupa syaithân-syaithân dari kalangan manusia dan jin, sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia - Q.S. Al-an’am : 112)”. (Lihat tafsîr Al-Qâsimî juz IX hal. 580).

Idea-idea atau pikiran buruk yang bersumber dari bisikan syaithân dari jenis Jin, diterangkan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbâs (r.a.), Rasűlullâh saw. bersabda :
الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنُ آدَمَ فَإِذَا ذَكَرَاللَّهَ تَعَالَى خَنَاسَ، وَإِذَا غَفَلَ وَسْوَسَ
Artinya : “Syaithân itu melekat pada hati anak keturunan Adam (manusia), maka jika ia berdzikir --mengingat-- Allâh Ta’âlâ, sang syaithân pun menyelinap --pergi--, akan tetapi jika ia lalai --berzikir pada Allâh--, maka syaithân akan membisik-bisikkan --keburukan kepadanya--“. (H.R. Al-Bukhârî secara mu’allaq. Lihat Fî Zhilâlil-Qur-ân juz VIII hal. 713).

Sedangkan idea-idea atau pikiran buruk yang bersumber dari bisikan syaithân jenis manusia, Al-Utadz Sayyid Quthb (rahimahullâh) berkata :
وَأَمَّا النَّاسُ فَنَحْنُ نَعْرِفُ عَنْ وَسْوَسَتِهُمْ الشَّيْءُ الْكَثِيْرُ. وَنَعْرِفُ مَاهُوَ أَشَدُّ مِنْ وَسْوَسَةِ الشَّيَاطِيْنَ
Artinya : “Dan adapun yang bersumber dari manusia, maka kami mengenal --idea-idea atau pikiran buruk-- bisikan mereka sesuatu yang amat banyak sekali. Bahkan kami pun tahu sesuatu itu (bisikan manusia) lebih buruk dari idea-idea bisikan para syaithân --dari jenis jin--“. (Lihat Fî Zhilâlil-Qur-ân, juz VIII hal. 713)

Jadi, “Waswâs” atau pikiran (idea) tercela, yang mengajak kepada keburukan, yang berasal dari bisikan manusia tidak kalah berbahayanya dengan bisikan yang berasal dari syaithân golongan jin, bahkan bisa lebih berbahaya. Syaikhul-Islâm Ibnu Taymiyyah (rahimahullâh) pun telah menjelaskan soal ini, belaiu berkata :

بَلْ وَسْوَسَةُ نَوْعَانِ : نَوْعٌ مِنَ الْجِنِّّ، وَنَوْعٌ مِنَ نُّفُوْسِ اْلإِنْسِ. كَمَاقَالَ تَعَالَى : وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَاتُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسَهُ ( ق : 16 )
Artinya : Bahkan waswasah (waswâs) itu ada dua jenis : jenis pertama dari kalangan Jin; dan jenis yang kedua dari diri manusia, sebagaimana firman Allâh Ta’âlâ (yang terjemahannya) : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya”. (Q.S Qaf : 16).

Lalu beliau tegaskan :
فَالشَّرُ مِنَ الْجِهَتَيْنِ جَمْيِعًا. وَاْلإِنْسُ لَهُمْ شَيَاطِيْنِ كَمَا لِلْجِنِّ شَيَاطِيْنُ
Artinya : “Maka semua keburukan berasal dari dua arah; dari kalangan Manusia ada syaithân-syaithân dan sebagaimana ada syaithân-syaithân dari kalangan Jin”. (Lihat tafsîr Al-Qâsimî juz IX hal. 580).
Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8