اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukilah kami jalan yang lurus"

Al-Imām Al-Qurthubī berkata tentang ayat ini :
دُعَاءٌ وَ رَغْبَةٌ مِنَ الْمَرْبُوْبِ إِلَى الرَّبِّ
Artinya : "Ini merupakan do'a -- permintaan -- dan harapan dari -- orang -- yang dikuasai kepada Rabb -- yaitu : Penguasa, Pemilik, Pengatur seluruh 'alam --". (Lihat Tafsīr Al-Qurthubī juz I hal. 148)

Selanjutnya Al-Imām Al-Qurthubī menuqilkan komentar sebagian 'ulamā' tentang kandungan ayat ini, yaitu :
وَ جَعَلَ هَذَا الدُّعَاءَ الَّذِيْ فِي هَذِهِ السُّوْرَةِ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِيْ يَدْعُوْ بِهِ الدَّاعِي لأَنَّ هَذَا الْكَلاَمَ قَدْ تَكَلَّمَ بِهِ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ، فَأَنْتَ تَدْعُوْ بِدُعَاءِ هُوَ كَلاَمَهُ الَّذِيْ تَكَلَّمَ بِهِ
Artinya : "Dan Allāh telah menjadikan do'a yang terdapat dalam surah ini sebagai do'a yang lebih utama dari seluruh do'a yang diucapkan oleh seorang yang berdo'a -- kepada-Nya --, karena ucapan -- do'a -- ini merupakan ucapan Rabbul-'Ālamīn, dan -- berarti -- engkau berdo'a dengan do'a yang -- berasal -- dari ucapan-Nya". (Lihat Tafsīr Al-Qurthubī juz I hal. 148)

Penjelasan

Kata (إِهْدِنَا) arti lengkapnya ialah : "Berikanlah hidayah kepada kami". Adapun arti "Hidayah (الْهِدَايَة)" dari segi bahasa ialah :
اْلإِرْشَادُ إِلَى الْخَيْرَاتِ قَوْلاً وَ فِعْلاً
Artinya : "Petunjuk (pengetahuan) untuk -- melakukan -- berbagai kebaikan, dalam bentuk ucapan maupun perbuatan". (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 231)

Dr. 'Abdullāh Nāsih 'Ulwān membagi "Hidayah" menjadi dua bagian, yaitu "Al-Irsyād dan Al-I'ānah", Adapun yang dimaksud "Al-Irsyād" ialah pengetahuan atau ilmu yang membedakan antara yang benar (Al-Haq) dan yang salah (Al-Bāthil). "Hidayah" dalam bentuk ini bisa saja dimiliki oleh kāfir, sebagaimana firman Allāh:
الَّذِيْنَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنآءَهُمْ وَ إِنَّ فَرِيْقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
Artinya : "Orang-orang (Yahūdi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitāb (Taurat dan Injīl) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran (Al-Haq) padahal mereka mengetahui". (Surah Al-Baqarah (2) :146)

Demikian pula firman Allāh tentang kaum Tsamūd:
وَ أَمَّا ثَمُوْدَ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
Artinya : "Adapun kaum Tsamūd maka mereka telah Kami beri petunjuk (hidayah), tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu". (Surah Al-Fushshilat (41) :17)

Berdasarkan dua ayat di atas jelaslah bahwa "Hidayah" dalam bentuk pengetahuan atau ilmu yang benar (Al-Haq) dapat dimiliki oleh orang-orang yang kāfir, namun hati mereka menolaknya. Sedang "Hidayah" yang kedua, yaitu "Al-I'ānah" artinya "Pertolongan"; yaitu pertolongan Allāh kepada orang-orang yang berimān untuk menerima hidayah itu dengan hati mereka dan melaksanakan atau meng'amalkannya, sebagaimana firman Allāh SWT. :
إِنَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيْمَانِهِمْ
Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang berimān dan melaksanakan 'amal shalih, Rabb mereka akan memberi petunjuk (hidayah) kepada mereka disebabkan keimānan mereka". (Surah Yūnus (10) : 9).

Dan firman Allāh SWT. :
وَ مَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
Artinya : "Siapa-saja yang berimān kepada Allāh, maka Dia (Allāh) akan memberi petunjuk (hidayah) kepada hatinya". (Surah At-Taghābun (64) :11)

Hidayah dalam bentuk "Al-I'ānah" ini mutlak pemberian Allāh, tidak ada seorang pun yang mampu memberikannya kepada orang lain, bahkan Rasūlullāh saw. tidak mampu memberikannya, sebagaimana firman Allāh SWT. :
إِنَّكَ لاَ تَهْدِيْ مَنْ أَحْبَبْتَ وَ لَكِنَّ اللهَ يَهْدَي مَنْ يَشَاءُ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya : "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allāh lah yang memberi hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia (Allāh) lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah". (Surah Al-Qashahsh (28) : 56)

Hidayah dalam bentuk "Al-I'ānah" ini membutuhkan upaya yang keras dan kesungguhan dari orang yang bersangkutan, sebagaimana komentar sebagian 'ulamā' yang disebutkan oleh Al-Qāsimī dalam Tafsīrnya :
إِنَّهَا لاَ يَسْهَلُ تَنَاوَلُهَا قَبْلَ أَنْ يَتَشَكَّلَ اْلإِنْسَانُ بِشَكْلٍ مَخْصُوْصٍ ، بِتَقْدِيْمِ عِبَادَاتٍ
Artinya : "Tidak mudah memperoleh hidayah ini -- bagi seseorang -- sebelum ia mencapai kematangan dengan cara-cara yang khusus, yaitu dengan mendahulukan (memprioritaskan) berbagai 'ibadah (keta'atan)". (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 231)

Dalam hal ini Allāh SWT. berfirman :
وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan (beri hidayah) kepada mereka jalan-jalan Kami". (Surah Al-Ankabūt (29) :69)

"Shirāthal-Mustaqīm" (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ)

Al-Imām Al-Qurthubī menyatakan bahwa asal kata Shirāth (الصِّرَاطَ) dalam bahasa 'Arab artinya (الطَّرِيْقُ); yaitu "Jalan". Jadi (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ) artinya :
الطَّرِيْقُ الْوَاضِحُ الَّذِي لاَ اِعْوِجَاجَ فِيْهِ وَ لاَ اِنْحِرَافَ
Artinya : "Jalan yang terang, yang tidak ada penyimpangan dan pembelokan di dalamnya". (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 235)

Para 'ulamā' mufassirīn berbeda pendapat tentang maksud dengan "Shirāthal-Mustaqīm", sebagian dari mereka mengatakan bahwa itu ialah "Kitābullāh (Al-Qur-’ān)". Sebagian yang lain mengatakan bahwa itu adalah "Dīnul-Islām". Dan sebagian ada yang berpendapat bahwa itu adalah Nabi saw. dan para shahabatnya. (Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz I hal. 27-28) Syaikhul-Islām Ibnu Taymiyah (rahimahullāh) telah memberikan komentar yang baik sekali dalam masalah ini, beliau berkata : Ada dua hal yang selayaknya diketahui tentang perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan 'ulamā' mufassirīn dan para 'ulamā' lainnya dalam masalah ini : Pertama : Tidak ada pertentangan dan hal yang bertolak belakang di dalam perbedaan pendapat tersebut. Bahkan sangat mungkin untuk ditetapkan bahwa kedua-duanya benar. Adapun yang kedua : Sesungguhnya perbedaan itu hanya dalam penyebutan jenis, sifat dan pernyataan. Dan perbedaan pendapat dalam hal semacam ini sudah umum dan biasa terjadi di kalangan mufassirīn salaf dari kalangan shahabat dan tabi'īn. Karena apabila Allāh SWT. menyebutkan suatu nama (isim) dalam Al-Qur-’ān, seperti (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ) misalnya, maka setiap mufassirīn memberikan tafsīran yang menunjukkan kepada sebagian shifatnya saja, dan pada dasarnya hal itu bisa dibenarkan, yaitu sama-dengan nama-nama lain yang disebutkan Allāh atau Rasul-Nya dalam Kitab-Nya, di mana penyebutan nama tersebut menunjuk pada salah satu shifat-shifatnya. Oleh karena itu, ada sebagian mereka ('ulamā' mufassirīn) yang menyebutkan (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ) itu adalah : "Kitābullāh" atau "Mengikuti Kitābullāh". Sedangkan yang lain mengatakan bahwa itu adalah "Al-Islām" atau "Dīnul-Islām". Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah "As-Sunnah dan Jama'ah", dan yang lain mengatakan "Jalan (thariqat) Keta'atan" atau "Jalan untuk mencapai rasa takut (khauf), ridha dan cinta kepada Allāh"; atau ada yang mengatakan bahwa itu adalah "Menta'ati perintah dan menjauhi larangan" atau "Mengikuti Kitābullāh dan Sunnah" atau "Melaksanakan keta'atan kepada Allāh" dan sebutan-sebutan yang lain yang semacam itu. Namun, dari kesemua pengertian tersebut yang dimaksud hanya satu, -- yaitu : "Shirāthal-Mustaqīm" -- walau pun ia memiliki shifat dan nama serta tafsīran yang bermacam-macam. Dan hal itu banyak terdapat dalam kitab-kitab tafsīr khususnya yang membahas masalah ini. (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 233)

Penutup

Sebagai penutup dari pembahasan ayat ini kami nuqilkan kembali komentar Syaikhul-Islām Ibnu Taymiyyah (rahimahullāh); beliau berkata tentang ayat ke 5 dari Surah Al-Fātihah ini : "Setiap manusia secara terus menerus butuh kepada apa yang dituju oleh do'a (permohonan) yang terdapat dalam ayat ini; yaitu hidayah (petunjuk) kepada "Shirāthal-Mustaqīm", karena tidak mungkin meraih keselamatan dari 'adzab kecuali dengan hidayah ini, demikian pula tidak mungkin tercapai kebahagiaan kecuali dengannya. Dan barang-siapa yang luput -- tidak memperoleh -- hidayah ini, maka ia akan menjadi orang yang dimurkai (Maghdhūb) atau orang yang sesat (Dhāllīn). Dan hidayah ini tidak bisa diperoleh kecuali dengan petunjuk Allāh, sebagaimana firman-Nya :
مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya : "Barang-siapa yang diberi hidayah oleh Allāh, maka dialah yang mendapat hidayah, dan barang-siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi hidayah kepadanya". (Surah Al-Kahfi (18) : 17)

Sesungguhnya yang dimaksud "Shirāthal-Mustaqīm" itu ialah : Jika setiap saat engkau dapat melakukan apa saja yang diperintahkan Allāh kepadamu, berupa ilmu dan 'amal, dan juga meninggalkan apa saja yang Dia larang. Untuk itu engkau membutuhkan pengetahuan (ilmu) tentang apa saja yang Dia perintah pada waktu-waktu tertentu dan apa saja yang Dia larang. Dan engkau juga membutuhkan agar Dia memberikanmu kemauan yang kuat untuk melaksanakan segala yang diperintah dan meninggalkan segala yang dilarang. Dan -- sebagaimana dijelaskan sebelumnya -- bahwa "Shirāthal-Mustaqīm" ini ditafsīrkan atau dianalogkan dengan Al-Qur-’ān atau Al-Islām atau jalan untuk mencapai keta'atan kepada Allāh dan lain-lain yang semua itu benar, karena semua itu merupakan shifat-shifatnya. Kebutuhan -- manusia -- terhadap hidayah ini merupakan keharusan, karena kebahagiaan dan keselamatannya bergantung kepada hidayah ini. Berbeda halnya dengan kebutuhannya terhadap rezeki dan pertolongan Allāh. Memang, Allāh adalah yang memberi rezeki kepadanya dan jika Allāh memutus rezekinya, paling-paling ia akan mati -- dan kematian merupakan sebuah kepastian baginya --; namun jika ia termasuk orang mendapat hidayah, ia akan menjadi orang yang berbahagia setelah mati, dengan kata-lain kematian tersebut menjadi jalan baginya untuk memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi, karena ia berhak mendapat rahmat Allāh. Demikian pula dengan pertolongan Allāh, apabila ia ditaqdirkan untuk terdesak dan kalah lalu terbunuh -- dalam perang -- , namun jika ia termasuk orang yang mendapat hidayah dan bersikap istiqāmah, maka ia akan mendapatkan pahala mati syahid, dan terbunuhnya ia -- di medan perang -- pun merupakan kesempurnaan nikmat Allāh atasnya. Maka jelaslah, bahwa kebutuhan seseorang terhadap hidayah ini jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap rezeki dan pertolongan. Bahkan tidak ada perbandingan di antara keduanya. Karena itulah do'a -- memohon hidayah -- ini diwajibkan atas mereka dalam seluruh shalat, baik yang wajib atau pun yang sunat. Dan juga perlu diketahui, bahwa do'a ini bisa mencakup rezeki dan pertolongan, karena ketika ia diberi hidayah kepada "Shirāthal-Mustaqīm" berarti ia termasuk golongan orang-orang yang bertaqwā, padahal Allāh berfirman :
وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
Artinya : "Barang-siapa yang bertaqwā kepada Allāh, maka Dia akan memberikan jalan keluar kepadanya dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka". (Surah Ath-Thalāq (65) : 2 & 3)

Dan -- dengan hidayah tersebut -- ia juga termasuk golongan orang-orang yang bertawakal kepada Allāh, padahal Allāh berfirman :
وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغٌ أَمْرِهِ
Artinya : "Dan barang-siapa yang bertawakal kepada Allāh, maka Allāh akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allāh melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya". (Surah Ath-Thalāq (65) : 3)

Dan -- dengan hidayah tersebut -- ia juga termasuk golongan orang-orang yang menolong Allāh dan Rasul-Nya. Dan barang-siapa yang menolong Allāh maka Allāh pasti akan menolongnya, dan ia termasuk tentara Allāh, dan tentara Allāh pasti akan memperoleh kemenangan. Maka -- "Shirāthal-Mustaqīm" -- ini merupakan hidayah yang sempurna, yang dapat meraih hasil yang jauh lebih besar dari rezeki dan pertolongan. Maka jelaslah bahwa do'a ini mencakup seluruh kebutuhan serta meraih seluruh hal yang bermanfaat dan menolak semua hal yang mengandung mudharat. (Lihat Tafsīr Al-Qāsimī juz I hal. 233)

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8