الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allāh Rabb seluruh ‘alam”

 Al-Hamdu lillāh (الْحَمْدُ لِلّٰهِ) :

Penjelasan :

Arti "Al-Hamdu Lillāh" secara singkat : "Segala puji bagi Allāh".

Menurut para 'ulamā', Alīf-Lām (ال) dalam Al-Hamdu adalah "Lil-Istighrāqi", yang artinya : "untuk meraih semua" atau "memonopoli". Jadi, arti lengkap "Al-Hamdu Lillāh” : "Segala puji, semuanya milik dan monopoli Allāh".

Ar-Rāzī berkata dalam "Tafsīrnya" :
فَاعْلَم أَنَّ الْحَمْدَ إِنَّمَا يَكُوْنُ حَمْدًا عَلَى النِّعْمَةِ ، وَ الْحَمْدُ عَلَى النِّعْمَةِ لاَ يُمْكِنْ إِلاَّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ تِلْكَ النِّعْمَةِ .....
Artinya :
"Ketahuilah, sesungguhnya -- ucapan -- Al-Hamdu semata-mata karena memuji atas -- suatu -- nikmat. Dan mengucapkan Al-Hamdu karena -- suatu -- nikmat tidak akan mungkin -- dilakukan -- melainkan setelah menyadari atau dengan kesadaran (ma'rifat) terhadap kenikmatan tersebut.......".

Selanjutnya Ar-Rāzī berkata lagi :
لَكِنْ أَقْسَامَ نِعَمِ اللهِ خَارِجَةٌ عَنِ التَّحْدِيْدِ وَ اْلإِحْصَاءِ كَمَا قَالَ تَعَالَى:
Artinya :
Akan tetapi perincian nikmat Allāh berada di luar batas dan perhitungan, sebagaimana firman Allāh SWT. :
وَ إِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Artinya :
"Dan jika kalian menghitung nikmat Allāh tidaklah dapat kalian menghinggakannya......".
(Sirah Ibrāhīm (14) : 34)

Ucapan Ar-Rāzī ini menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia, pada hakikatnya tidak akan mampu mensyukuri nikmat Allāh yang begitu besar dan tidak terbatas. Melalui ucapan "Al-Hamdu Lillāh" Allāh mengajarkan manusia bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya yang luas dan tak terbatas itu.
Dari penjelasan ini kita bisa memahami betapa luar-biasa ucapan "Al-Hamdu Lillāh" sebagaimana akan diterangkan lebih lanjut.

Penulis Tafsīr Bahrul-Muhīth menyatakan :
الْحَمْدُ الثَّنَاءُ عَلَى الْجَمِيْلِ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ غَيْرِهَا بِاللِّسَانِ وَحْدَهُ
Artinya :
Al-Hamdu adalah pujian atas anugerah berupa kenikmatan atau selainnya, -- yang dilakukan -- dengan lisan saja".
Ibnu 'Abbās r.a. telah menegaskan hal ini, beliau berkata :
الْحَمْدُ لِلّٰهِ كَلِمَةُ كُلِّ شَاكِرٍ
Artinya :
"Al-Hamdu Lillāh adalah ucapan setiap orang yang bersyukur".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz I hal. 22)

Ibnu Jarīr, Ibnul-Mundzir dan Ibnu Abī Hātīm juga meriwayatkan dari beberapa jalur, dari Ibnu 'Abbās, ia berkata :
الْحَمْدُ لِلّٰهِ كَلِمَةُ الشَّكِرِ إِذَا قَالَ الْعَبْدُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ قَالَ اللهُ شَكَرَنِي عَبْدِي
Artinya :
"Al-Hamdu Lillāh adalah kalimat (ucapan) bersyukur. Jika seorang hamba berkata : "Al-Hamdu Lillāh", Allāh berfirman : "Hamba-Ku telah bersyukur kapada-Ku".
(Lihat Ad-Durul-Mantsūr Fī Tafsīril-Ma'tsūr juz I hal. 30)

Selanjutnya Ibnu Abī Hātīm juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās, ia berkata : 'Umar berkata :
قَدْ عُلِّمْنَا سُبْحَانَ اللهِ وَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، فَمَا الْحَمْدُ ؟
Artinya :
"Sesungguhnya telah diajarkan kepada kami -- kedudukan -- Subhānallāh dan Lā Ilāha illal-Lāh, maka apa -- kedudukan -- Al-Hamdu?".

'Ali pun menjawab :
كَلِمَةٌ رَضِيَهَا اللهُ لِنَفْسِهِ ، وَ أَحَبَّ أَنْ تُقَالَ.
Artinya :
"Kalimat yang Allāh merasa ridha bagi diri-Nya. Dan sangat senang jika -- kalimat itu -- diucapkan".
(Lihat Ad-Durul-Mantsūr Fī Tafsīril-Ma'tsūr juz I hal. 30)

Al-Imām Asy-Syaukānī berkata dalam Tafsīrnya :
فَمَوْرِدُ الْحَمْدُ الِلِّسَانُ فَقَطْ ، وَ مُتَعَلَّقَهُ النِّعْمَةُ وَ غَيْرِهَا
Artinya :
"Adapun sumber Al-Hamdu (pujian) adalah lisan saja, yang mana kenikmatan dan selainnya dikaitkan padanya (Al-Hamdu)".

Selanjutnya beliau (Asy-Syaukānī) berkata lagi :
وَ مَوْرِدُ الشُّكْرِ الِلِّسَانُ ، وَ الْجِنَانُ ، وَ اْلأَرْكَانُ ، وَ مُتَعَلَّقَهُ النِّعْمَةُ
Artinya :
"Adapun sumber kesyukuran adalah : lisan, hati dan -- anggota -- tubuh, dimana kenikmatan dikaitkan dengannya".

Kemudian beliau (Asy-Syaukānī) menegaskan :
وَ قِيْلَ إِنَّ مَوْرِدَ الْحَمْدِ كَمَوْرِدِ الشُّكْرِ لأَنَّ كُلَّ ثَنَاءِ بِاللِّسَانِ لاَ يَكُوْنُ مِنْ صَمِيْمِ الْقَلْبِ مَعَ مُوَافَقَةِ الْجَوَارِحِ لَيْسَ بِحَمْدِ بَلْ سُخْرِيَّةُ وَ اسْتِهْزَاءُ
Artinya :
Ada suatu pendapat yang menyatakan bahwa sumber Al-Hamdu (pujian) sama seperti sumber kesyukuran. Karena setiap pujian yang diucapkan oleh lisan, namun tidak dari lubuk hati dan -- juga tidak -- disesuaikan (dilaksanakan) dengan -- tindakan -- anggota badan, maka itu bukanlah pujian, malahan -- sebaliknya --, itu merupakan ejekan dan penghinaan".

Al-Imām Ibnul-Qayyim (rahimahullāh) telah memberikan penjelasan yang sangat baik sekali dalam masalah ini, beliau berkata :
نِعَمٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى تَتَرَادَفُ عَلَيْهِ ، فَقَيْدُهَا الشُّكْرُ. وَ هُوَ مَبْنِي عَلَى ثَلاَثَةِ أَرْكَانٍ : اْلإِعْتِرَافُ بِهَا بَاطِنًا ، وَ تَحَدُّثُ بِهَا ظَاهَرًا ، وَ تَصْرِيْفُهَا فِي مَرْضَاةِ وَلِيِّهَا وَ مُسْدِيْهَا وَ مُعْطِيْهَا. فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ شَكَرَهَا مَعَ تَقْصِيْرِهِ فِي شُكْرِهَا
Artinya :
"Segala nikmat Allāh Ta'ālā yang datang berturut-turut kepada seseorang -- yang tidak bisa dia hitung -- , pengikatnya adalah syukur. Dan syukur itu di bangun di atas tiga aspek, yaitu : (1) Pengakuan batin (qalbu) terhadap nikmat tersebut (2) Menceritakannya dengan terangan-terangan (3) Dan menggunakannya dalam -- perkara -- yang diridhai oleh -- Allāh -- Yang Menguasai, Mendatangkan dan Memberikan kenikmatan itu. Maka jika ia melakukan -- ketiga -- hal ini, berarti ia telah mensyukurinya, walaupun -- pada hakikatnya -- ia sangat sedikit (tidak mampu) mensyukurinya".
(Lihat Al-Kalimuth-Thayyib wal-'Amalush-Shālih, Al-Imām Ibnul-Qayyim hal. 33)

 Keistimewaan Ucapan Hamdalah Dan Penggunaannya Sehari-hari

Dalam beberapa hadits yang shahīh disebutkan betapa besar keistimewaan atau keutamaan yang diperoleh dari ucapan "Al-Hamdu Lillāh",

1. Sebagai Do'a Yang Paling Utama

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Jābir bin 'Abdillāh, ia berkata : Telah bersabda Rasūllulāh saw. :
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إله إِلاَّ اللهُ وَ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Artinya :
Seutama-utama dzikir adalah "Lā Ilāha Illal-Lāh" dan seutama-utama panggilan (do'a) adalah Al-Hamdu Lillāh".
(H.R. At-Tirmidzī, dan ia menghasankannya, An-Nasā-ī, Ibnu Mājah, Ibnu Hibbān dan Al-Baihaqī dalam Syu'bil-Īmān. Lihat Ad-Durul-Mantsūr Fī Tafsīril-Ma'tsūr juz I hal. 31)

Oleh karena itu sebagian 'ulamā' memulai do'a dengan kalimat "Al-Hamdu Lillāh", sebagaimana bisa kita lihat dalam beberapa kitab do'a, seperti "Al-Adzkār" yang ditulis oleh Al-Imām An-Nawawī dsb.

2. Lebih Besar Dari Dunia dan Seluruh Isinya

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasūllulāh saw. :
لَوْ أَنَّ الدُّنْيَا كُلَّهَا بِحَذَافِيْرِهَا فِي يَدِ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي ، ثُمَّ قَالَ : الْحَمْدُ لِلّٰهِ لَكَانَ الْحَمْدُ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ
Artinya :
"Seandainya dunia seluruhnya, dan semua isinya berada (diberikan) di tangan seorang dari umat-ku, kemudian ia berkata : Al-Hamdu Lillāh, niscaya -- ucapan -- Al-Hamdu itu lebih utama dari semua itu".
(H.R. Al-Hakīm dan At-Tirmidzī dalam Nawādirul-Ushūl. Lihat Ad-Durul-Mantsūr Fī Tafsīril-Ma'tsūr juz I hal. 31)

3. Mendatangkan Ridha Allāh Bila Diucapkan Setelah Makan Atau Minum

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas, Rasūllulāh saw. bersabda :
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ اْلأَكْلَةَ أَوْ يَشْرَبُ الشُّرْبَةَ فَيَحْمَدَ اللهَ عَلَيْهَا
Artinya :
"Sesungguhnya Allāh Ta'ālā niscaya ridha terhadap seorang yang makan -- sesuatu – makanan atau minum -- sesuatu -- minuman, kemudian ia memuji Allāh atasnya (kenikmatan makan & minum)" .
(H.R. Ahmad, Muslim, At-Tirmidzī dan An-Nasā-ī. Lihat Al-Fathul-Kabīr juz II no. : 1812)

4. Lebih Besar Nilainya Dari Segala Jenis Kenikmatan

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas, Rasūllulāh saw. bersabda :
مَا أَنْعَمَ اللهُ عَبْدًا نِعْمَةً فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلّٰهِ ، إِلاَّ كَانَ الَّذِيْ أَعْطَى ، أَفْضَلُ مِمَّا أَخَذَ
Artinya :
"Tidaklah Allāh memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, lalu ia berkata : "Al-Hamdu Lillāh", melainkan ada yang ia berikan (yaitu ucapan Al-Hamdu Lillāh) itu lebih utama dari apa saja yang ia ambil (yaitu kenikmatan)".
(H.R Ibnu Mājah, lihat Al-Fathul-Kabīr juv V no. : 5439)

Dan juga dalam sebuah hadits lain dari Abī Umāmah, Rasūllulāh saw. bersabda :
مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً ، فَحَمِدَ اللهُ عَلَيْهَا ، إِلاَّ كَانَ ذَلِكَ الْحَمْدُ أَفْضَلَ مِنْ تِلْكَ النِّعْمَةِ
Artinya :
"Tidaklah Allāh memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, kemudian ia memuji Allāh atas kenikmatan itu, melainkan adalah pujian (Al-Hamdu) itu lebih utama dari kenikmatan tersebut".
(H.R. Ath-Thabrānī, lihat Al-Fathul-Kabīr juv V no. : 5438)

 Rabbil ‘ālamīn (رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) :

Artinya :
"Rabb seluruh 'alam".

Arti "Rabb" secara singkat ialah : Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur, Pembimbing dsb. Ada pun makna Rabb (رَبّ) di sini :
مُرَبِّيْهِمْ وَ مَالِكِهِمْ وَ مُدَبِّرُ أُمُوْرِهِمْ
Artinya :
"Yang mendidik mereka, menguasai mereka dan mengatur urusan mereka".
(Lihat Kalimātul-Qur-’ān oleh Hasanain Muhammad Makhlūf hal. 9)

Sedangkan Al-'Ālamīn (الْعَالَمِيْن) merupakan bentuk jama' dari 'Alam (عَالَم). Az-Zujāj berkata :
الْعَالَمُ كُلُّ مَا خَلَقَ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ
Artinya :
"'Alam ialah segala sesuatu yang Allāh ciptakan di dunia dan di akhirat".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz I hal. 24)

Maksudnya, 'alam adalah sebutan bagi seluruh makhluq atau ciptaan Allāh, tidak ada yang tahu berapa banyak jenis dan jumlahnya kecuali Allāh, sebagaimana ditegaskan oleh Ka'ab Al-Ahbār :
لاَ يَعْلَمُ عَدَدَ الْعَوَالِمِ إِلاَّ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ
Artinya :
"Tidak ada yang mengetahui jumlah dan jenis 'Alam kecuali Allāh 'Azza wa Jalla".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz I hal. 24)

Al-Imām Ibnu Katsīr (rahimahullāh) memberikan penjelasan yang baik sekali dalam masalah ini, beliau berkata :
الْعَالَمُ مُشْتَقٌ مِنَ الْعَلاَمَةِ لأَنَّهُ عَلَمٌ دَالَ عَلَى وُجُوْدِ خَالِقِهِ وَ صَانِعِهِ وَ وَحْدَانِيَّتِهِ
Artinya :
"Kata 'alam itu diambil dari kata 'alamah (tanda), karena ia menjadi tanda yang menunjukkan (membuktikan) adanya sang Pencipta -- yang menciptakannya dan Pembuat -- yang merancangnya -- dan juga -- menunjukkan -- ke-Esa-an-Nya".

Selanjutnya Al-Imām Ibnu Katsīr menuqilkan sya'ir dari Ibnul-Mu'tar :
كَيْفَ يَعْصِ اْلإِلَهَ ، أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ ، وَ فِي كُلِّ شَيٍ آيَةٌ تَدُلُّ أَنَّهُ وَاحِدُ
Artinya :
"Bagaimana ia menentang Ilāh ? Atau bagaimana pembangkang itu membangkang kepada-Nya? Padahal di dalam segala sesuatu ada tanda yang menunjukkan bahwasanya Ia itu Maha Esa".

Kemudian Al-Imām Ibnu Katsīr menuqilkan penjelasan Al-Imām Al-Qurthubī dalam hal ini :
فَالرَّبُّ فِيْهِ التَّرْهِيْبُ.........
Artinya :
"Rabb itu -- sebuah kata -- yang mengandung tarhīb".
(Lihat Tafsīr Ibnu Katsīr juz I hal. 24)

Tarhīb artinya "sesuatu yang menimbulkan rasa takut di dalam hati". Sebagaimana di sebutkan sebelumnya, bahwa Rabb itu artinya : "Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur dsb. sebagaimana disebutkan dalam sebuah ayat :
إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Artinya :
"Sesungguhnya aku merasa takut kepada Allāh, Rabb seluruh 'alam".
(Surah Al-Mā-idah (5) : 28)

Dan di dalam ayat yang lain :
قَالَ فِرْعَوْنُ وَ مَا رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ مَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوْقِنِيْنَ
Artinya :
Fir'aun berkata : "Siapakah Rabb seluruh 'alam?" Mūsā menjawab : "Rabb langit dan bumi, dan apa saja di antara keduanya, jika kalian termasuk orang-orang yang yakin".
(Surah Asy-Syu'arā' (26) : 23 & 24)

Jika manusia menyadari bahwa Allāh SWT. adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengatur seluruh 'alam semesta termasuk juga dirinya, maka ia akan merasa takut, karena ia sebenarnya berada dalam kekuasaan Allāh, baik-buruk nasibnya pun berada di tangan Allāh. Bahkan hidup dan matinya sepenuhnya berada dalam kekuasaan dan ketentuan Allāh.

Dengan rasa takut seperti ini, manusia tidak akan sombong, bahkan ia akan mendekatkan dirinya kepada Allāh dengan melakukan keta'atan kepada-Nya, serta selalu memohon perlindungan kepada-Nya dari segala mara-bahaya yang ia tidak mampu menghindar atau menghadapinya dengan kekuatannya. Mushibah, bencana 'alam, gempa dll. di mana manusia tidak berdaya menghadapainya adalah bukti kekuasaan Allāh Rabbul-'Ālamīn.
(Wallāhu A'lam)

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8