Tafsir Surat Al-'Ashr
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالْعَصْرِ (١)
Di dalam kitab "Al-Hādi ilā Tafsīri Gharibil Qur-ān" arti "'Ashar" ialah :
الدَّهْرُ العَجِيْبُ أَوْ صَلاَةُ الْعَصْرِ
Artinya :
"Masa (waktu) yang menakjubkan atau Shalat 'Ashar".

Adapun yang dimaksud dengan "Masa (waktu) yang menakjubkan" ialah pergantian waktu yang tidak terasa dan senantiasa membawa segala macam keajaiban dalam kehidupan alam semesta, khususnya kehidupan manusia. Diantaranya ialah proses kejadian dan pertumbuhan manusia yang sangat erat sekali hubungannya dengan perjalanan waktu. Ini adalah suatu hal yang amat menakjubkan, bagi orang yang memikirkannya.

Adapun di dalam Tafsīr Ibnu Katsīr arti "'Ashar" ialah :
الزَّمَانُ الَّذِى يَقَعُ فِيْهِ حَرْكَاتُ بَنِى آدَمَ مِنْ خَيْرٍ أو شَرٍّ
Artinya :
"('Ashar) ialah : Zaman/masa/waktu yang terjadi (berlangsung) di dalamnya segala sesuatu aktifitas anak Adam (manusia) yang baik ataupun yang buruk".

Jadi "Wal-''Ashri", artinya secara umum ialah "Demi Masa", yaitu perjalanan waktu atau putaran zaman dari hari ke hari, tahun ke tahun dan seterusnya, yang mengandung keajaiban dan senantiasa dipenuhi kesibukan atau aktifitas manusia dari yang paling baik sampai yang paling buruk, dari satu generasi ke generasi yang lain. Sebagaimana diucapkan oleh seorang pemimpin besar Islām yaitu Al-Ustadz Hasān Al-Banna :
فَالْوَقْتُ هُوَ الْحَيَاةُ
Artinya :
"Waktu itu ialah kehidupan".

Maksudnya ialah : Waktu adalah perjalanan hidup, dengan kata lain setiap manusia masih memiliki waktu atau kesempatan selama dia masih menjalani kehidupan.

Menurut Zaid bin Aslam (Beliau adalah gurunya Imām Malik) arti "'Ashar" secara khusus ialah waktu 'Ashar , yaitu satu waktu yang sangat singkat sekali. Pendapat beliau ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang shahih dari Ibnu 'Umar r.a. bahwa sesungguhnya Rasūlullāh saw. bersabda :
مَثُلكُمْ وَ مَثَلُ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ كَمَثَلِ رَجُلٍ إِسْتَأْجَرَ أُجُرَاءَ، فَقَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِى مِنْ غُدْوَةٍ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِعَلَى قِرَاطٍ فَعَمِلَتِ الْيَهُوْدُ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ عَلَى قِرَاطٍ فَعَمِلَتِ النَّصَارَ ، ثُمَّ قَالَ : مَنْ يَعْمَلُ لِى مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغِيْبَ الشَّمْسِ عَلَى قِرَاطَيْنِ. فَأَنْتُمْ هُمْ ، نَغَضِبَتِ الْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى فَقَالُوا : مَالَنَ أَكْثَرُ عَمَلاً وَ أَقَلَّ أَجْرًا ، قَالَ : هَلْ نَقَصْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ شَيْئًا؟ قَالُوْا : لاَ، قَالَ : ذَلِكَ فَضَّلِي أُوْتِيْهِ مَنْ أَشَاءُ.
Artinya :
"Perumpamaan kalian dengan dan perumpamaan dua ahli kitab (Ialah : Bangsa Yahudi dan Nashrani , yang masing-masing menerima kitab Taurāt dan Injīl) (ialah) sebagaimana perumpamaan seseorang yang menyewa (memperkejakan) buruh atau pekerja. Maka ia berkata : "siapakah yang akan bekerja untuk-ku dari waktu pagi (shubuh) sampai tengah hari atas (upah) satu qirāt ?". Maka orang Yahudilah yang bekerja. Kemudian ia berkata lagi, : "Siapakah yang akan bekerja pada ku dari tengah hari sampai (waktu) shalāt 'Ashar atas (upah) satu qirāt ?". Maka orang Nashranilah yang bekerja. Kemudian ia berkata lagi : "Siapakah yang akan bekerja untuk-ku dari (waktu) shalāt 'Ashar sampai terbenamnya matahari atas (upah) dua qirāt ?". (Rasūlullāh saw. berkata) : "Maka kalianlah (ummat Muhammad saw.) mereka itu (Mereka yang memikul Risalat, yang bekerja dari waktu 'Ashar sampai terbenamnya matahari, yaitu waktu yang paling singkat, dengan upah dua qirāt)". Maka marahlah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Dan mereka berkata : "(apa-apaan ini) mengapa kami yang lebih lama bekerja tetapi lebih sedikit upahnya?".. Maka ia (penyewa) berkata :" Apakah aku mengurangi sesuatu dari hak-hak kalian..?". Mereka (Yahudi dan Nashrani) menjawab : "tidak..!". Maka ia (penyewa) berkata lagi :"Demikian itulah keutaman-Ku yang akan Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki".
(H.R. Al-Bukhārī).

Hadits ini menerangkan arti khusus bagi kata "'Ashar", yaitu waktu yang amat singkat yang Allāh SWT. berikan kepada ummat Muhammad saw., untuk bekerja memikul Risalah-Nya yang agung dengan upah atau ganjaran dua kali lipat dari para pemikul risalat sebelumnya yaitu bangsa Yahudi dan Nashrani.

Hadits ini juga menerangkan tentang keutamaan ummat Muhammad saw. sebagai pemikul risalah yang terakhir khususnya generasi awal, yaitu para shahabat radhiallāhu 'anhum yang dalam waktu singkat berkat hidayah Allāh SWT. dan bimbingan rasul-Nya Muhammad saw. - telah berhasil mencapai tujuan risalat yang agung, bahkan pada waktu itu mereka berhasil tanmpil sebagai tokoh-tokoh yang memimpin dunia serta mengarahkan perjalanan ummat manusia menuju kebajikan.

Al-Ustadz Sayyid Quthb memberi gambaran yang tepat tentang mereka dalam kitab beliau yang berjudul "Hādzad-Dīn" sebagai berikut :

"Mereka-mereka (generasi awal) inilah contoh-contoh pribadi yang ideal yang diciptakan oleh methode Islām, yang melukiskan kemanusiaan yang luhur, suatu lukisan yang tampak di bawah bayangannya semua pribadi kemanusiaan lainnya seakan-akan cebol dan kerdil. Akan ta'jub orang yang melihatnya, bagaimana gerangan jadi sedemikian agungnya, apalagi dalam waktu yang pendek dan terbatas.
Padahal generasi yang luhur dan agung itu lahir di jantung Sahara yang miskin sumber daya dan terbatas kesanggupan-kesanggupan alamnya, ekonominya maupun ilmiyahnya. Analisa tentang mereka itu akan berakhir dengan kelumpuhan, apabila tidak dikembalikan sebab-sebabnya kepada Al-Qur'ān dan Sunnah".


Bagian berikut dan terakhir dari surat "Wal 'Ashri" ini, akan menerangkan methode-methode Islām yang telah berhasil menciptakan contoh pribadi yang ideal itu.

Selanjutnya Allāh SWT. berfirman dalam ayat berikutnya

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8