"8 (Delapan) Syarat Sahnya Ucapan Lâ Ilâha Illâl-Lâhu (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ)"
Syarat Keenam : Mencintai

Seorang mu'min harus mencintai kalimat ini dan merasa senang dalam melaksanakan konsekwensinya, yaitu: melepaskan diri dari seluruh bentuk syirik (menyekutukan Allâh), baik syirik mahabbah yaitu syirik dalam bentuk "kecintaan", sebagaimana firman Allâh:
وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
Artinya:
"Dan sebagian dari manusia ada orang yang mengambil selain dari Allâh sebagai tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allâh. Adapun orang-orang yang berimân sangat besar cintanya kepada Allâh".
(Surah Al-Baqarah (2) ayat 165)

Yang dimaksud (أَنْدَادًا) tandingan-tandingan adalah orang-orang mereka anggap sama kedudukannya dengan Allâh, seperti tokoh spiritual, pendeta, rahib, pemimpin thariqat, pemimpin organisasi dsb. Mereka mencintai orang-orang itu sama seperti mereka mencintai Allâh. Artinya, perintah dan larangan orang-orang itu mereka anggap sama dengan perintah dan larangan Allâh.

Dan juga berlepas diri dari syirik dalam 'ibadah; yaitu memalingkan ritual -- seperti berdo'a, menyembelih qurbân, thawaf, shaum (puasa) dan nadzar -- kepada selain Allâh.

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8