"8 (Delapan) Syarat Sahnya Ucapan Lā Ilāha Illāl-Lāhu (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ)"
Syarat Kelima : Jujur

Jujur, artinya ia mengucapkan kalimat tersebut benar-benar dari lubuk hatinya, sebagaimana sabda Nabi saw:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
Artinya:
Tidak ada seorang pun yang bersaksi "Asyhadu An Lā Ilāha Illāl-Lāhu Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhu Wa Rasūluh" (أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ), dengan benar-benar jujur dari hatinya, kecuali Allāh haramkan ia masuk Neraka".
(Muttafaqun 'Alaihi)

Karena siapa saja yang mengucapkannya dengan lisan saja, sedangkan hatinya mendustai kalimat tersebut maka ia termasuk orang munāfiq, sebagaimana firman Allāh SWT:
يَقُوْلُوْنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوْبِهِمْ
Artinya:
"Mereka (orang-orang munāfiq) mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka".
(Surah Āli 'Imrān (3) ayat 167)

Maksudnya: Mereka (orang-orang munāfiq) mengaku berimān dengan mulut mereka, padahal hati mereka kufur.

Slideshow Image 1 Slideshow Image 2 Slideshow Image 3 Slideshow Image 4 Slideshow Image 5 Slideshow Image 6 Slideshow Image 7 Slideshow Image 8